Mengapa Quietcation Tidak Cocok untuk Semua Orang?

Quietcation belakangan mulai naik daun, terutama ketika wisatawan mencari liburan tanpa antrean panjang atau jadwal sibuk. Konsepnya, saat quietcation, traveler menepi ke tempat sunyi, biasanya penginapan kecil di pinggir hutan, kampung nelayan, atau desa di kaki gunung.
Namun konsep liburan sunyi tidak selalu seindah unggahan media sosial karena setiap destinasi punya konsekuensi nyata di lapangan. Kenapa bisa seperti itu? Berikut sejumlah alasannya!
1. Lokasi terpencil menuntut persiapan ekstra

Banyak spot quietcation benar-benar jauh dari peradaban, misalnya cabin di North Cascades, Amerika Serikat yang harus ditempuh lewat jalan hutan berkelok tanpa sinyal atau eco-hut di Pulau Seram yang hanya terhubung lewat perahu kecil. Kondisi semacam ini menuntut traveler membawa keperluan penuh, mulai air minum, obat pribadi, sampai makanan ringan karena toko terdekat bisa berjarak puluhan kilometer. Bila cuaca memburuk atau arus laut berubah, akses pulang bisa tertunda dan perjalanan sederhana mendadak berubah jadi rute panjang tak terduga.
Ketika urusan logistik harus dipikirkan sejak sebelum berangkat, banyak orang merasa kehilangan esensi liburan santai. Kekhawatiran tersesat, kehabisan bahan bakar, atau kehilangan sinyal HP sering lebih kuat daripada rasa tenteram. Alih-alih kembali segar, quietcation malah terasa seperti ekspedisi mini bagi mereka yang tidak siap.
2. Fasilitas seadanya sering mengganggu kenyamanan

Banyak akomodasi ultra-tenang sengaja meminimalisir fasilitas, misalnya cabin off-grid di Queenstown, Selandia Baru atau rumah panggung kecil di pulau-pulau terpencil Raja Ampat. Tidak ada AC, TV, kamar mandi mewah, atau jaringan internet, dan beberapa lokasi memakai panel surya sehingga listrik menyala terbatas. Foto-foto yang tampak damai tidak memperlihatkan kenyataan bahwa tidur bisa terganggu angin lembap atau bunyi satwa malam yang datang dari segala arah.
Begitu hari berjalan lambat dan akses hiburan tidak tersedia, sebagian traveler tiba-tiba sadar bahwa kenyamanan modern punya peran besar dalam kualitas liburan mereka. Mereka yang terbiasa hotel kota merasa seperti berada “di rumah tanpa alat bantu apa-apa.” Tenang bukan lagi bonus, tapi sesuatu yang terasa memaksa.
3. Aktivitas minim cepat membuat bosan

Pada banyak destinasi quietcation, aktivitas hanya berkisar membaca di serambi, berjalan singkat ke air terjun terdekat, atau menikmati pemadangan pegunungan dari jendela kamar. Misalnya, di Glenorchy, Selandia Baru. Setelah satu kali trekking ringan, sisanya kamu akan kembali ke penginapan dan membiarkan waktu berjalan pelan. Traveler yang senang eksplorasi kuliner atau landmark ikonik bisa merasa seperti kehilangan cerita lain untuk dibawa pulang.
Perasaan jenuh biasanya datang ketika hari kedua atau ketiga tiba dan semuanya terasa terlalu sama. Mereka yang butuh variasi akan merasa waktu seolah berhenti bergerak dan suasana tenang berubah menjadi kekosongan. Untuk banyak pelancong, liburan bukan sekadar istirahat tapi rangkaian momen yang memacu rasa ingin tahu.
4. Biaya kadang lebih mahal dari liburan di kota

Justru karena jumlah tamu dibatasi dan akses logistik sulit, harga penginapan quietcation bisa melambung. Cabin pribadi di Hokkaido atau pondok mandiri di Faroe Islands misalnya, bisa menagih biaya setara hotel bintang lima hanya untuk kamar kayu sederhana dan sarapan dasar. Transportasi menuju lokasi pun sering memakan porsi anggaran, mulai dari sewa mobil sampai tiket boat tambahan.
Bagi traveler yang menghitung setiap rupiah atau dolar, membayar mahal untuk fasilitas minim terasa kurang sepadan. Tidak heran banyak orang beralih ke kota kecil seperti Ipoh atau Da Lat yang masih tenang tetapi punya kafe, museum, dan pasar malam. Keheningan memang bernilai, tapi untuk sebagian wisatawan nilainya tidak harus setinggi itu.
5. Terlalu sepi dapat menimbulkan rasa tidak aman

Ada lokasi quietcation yang benar-benar sunyi sampai-sampai suara burung adalah satu-satunya tanda kehidupan, seperti cabin tunggal di Skye, Skotlandia atau lodge di kepulauan Banda bagian luar. Saat malam tiba dan tidak ada cahaya lain di sekeliling kecuali lampu kamar sendiri, rasa sepi bisa berubah jadi gelisah. Ketika tidak ada tetangga, lampu jalan, atau kendaraan lewat, banyak orang justru merasa makin waspada.
Sebagian pelancong lebih nyaman bila keheningan ditemani sedikit suasana peradaban misalnya dusun kecil yang masih memiliki warung mungil atau pos penjaga. Quietcation ekstrem lebih cocok bagi traveler berpengalaman yang memang mencari sensasi sunyi total. Untuk pemula, memilih lokasi yang sepi tapi tidak sendirian bisa jauh lebih menyenangkan.
Quietcation bisa menjadi pengalaman berharga bagi mereka yang benar-benar membutuhkan jeda dan tahu apa yang harus diantisipasi sebelum berangkat. Namun tidak semua pelancong cocok dengan lokasi terpencil, fasilitas sederhana, dan aktivitas minim yang menjadi ciri khasnya. Jadi kamu tim melakukan quietcation atau gak, nih?


















