Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Pertama dalam Sejarah, Hotel Burj Al-Arab Tutup Sementara
Potret Burj Al Arab di Dubai, Uni Emirat Arab (unsplash.com/Md Mahdi)

Hotel Jumeirah Burj Al Arab, ikon kemewahan yang dikenal dengan desain menyerupai layar kapal, mengumumkan penutupan sementara untuk menjalani renovasi besar-besaran. Pada 15 April 2026, Jumeirah resmi mengumumkan hotel ikonis ini akan memasuki program pemugaran bertahap selama kurang lebih 18 bulan atau 1,5 tahun ke depan.

Dalam keterangan resminya, pihak Jumeirah menyebutkan Proyek ini dirancang tidak hanya untuk memperbarui tampilan, tetapi juga menjaga warisan arsitektur dan reputasinya sebagai simbol kemewahan dunia. Renovasi ini mencakup pembaharuan interior, peningkatan fasilitas, hingga sentuhan desain baru yang tetap mempertahankan kemewahan khas Burj Al Arab.

Sejak dibuka pada 1999, Burj Al Arab dikenal sebagai landmark arsitektur dengan bentuk menyerupai layar kapal dhow yang menjadi ikon skyline Dubai. Hotel ini juga disebut sebagai pelopor standar baru dalam industri hospitality global, termasuk menghadirkan layanan butler personal yang kemudian banyak diadopsi hotel-hotel mewah lainnya.

Setelah lebih dari 25 tahun beroperasi tanpa henti, pembaharuan menyeluruh dinilai penting untuk mempertahankan kualitas sekaligus memperkuat posisinya di industri perhotelan kelas atas.

Melibatkan arsitek interior ternama asal Paris

Program restorasi ini akan dipimpin arsitek interior asal Prancis, Tristan Auer, yang kerap memadukan warisan klasik dan sentuhan modern. Dalam proyek ini, Auer ditugaskan untuk memperbarui interior Burj Al Arab dengan tetap mempertahankan detail ikonisnya, layaknya merawat sebuah karya seni.

“Dipercaya untuk mengerjakan restorasi pertama dari properti sekelas Jumeirah Burj Al Arab di Dubai adalah sebuah kehormatan besar. Menjaga dan meneruskan warisan dari landmark luar biasa ini dengan sepenuh dedikasi bukan hanya membanggakan, tetapi juga menjadi tanggung jawab yang sangat berarti,” kata Tristan Auer dalam keterangan resmi Jumeirah pada Rabu (15/4/2026).

CEO Jumeirah, Thomas B. Meier, menegaskan Burj Al Arab bukan sekadar hotel, melainkan simbol ambisi, keahlian, dan standar tinggi yang telah dibangun selama puluhan tahun. Menurut dia, restorasi ini akan menjadi babak baru dalam perjalanan hotel tersebut, sekaligus memastikan warisannya tetap terjaga untuk generasi mendatang.

"Selama 27 tahun terakhir, hotel ini telah melayani tamu dengan dedikasi tinggi serta kualitas kelas dunia yang membuatnya berbeda dari hotel lain di seluruh dunia," tutur Thomas Meier.

Meski sempat muncul spekulasi renovasi ini berkaitan dengan insiden puing drone yang jatuh di bagian depan hotel pada Maret 2026, pihak hotel menegaskan proyek ini sudah direncanakan jauh sebelumnya dan tidak ada hubungannya dengan situasi geopolitik yang sedang berlangsung.

Meski demikian, pihak hotel memastikan kenyamanan tamu tetap menjadi prioritas. Bagi tamu yang sudah melakukan reservasi, Jumeirah menyediakan opsi relokasi ke hotel lain dalam jaringan mereka yang berada di sekitar Dubai, sehingga pengalaman menginap tetap bisa dinikmati tanpa terganggu.

Sebagai hotel flagship Jumeirah, Burj Al Arab memiliki 198 suite mewah dengan interior yang didominasi material premium, seperti kristal Swarovski, marmer, dan lapisan emas. Tak heran jika hotel ini kerap disebut sebagai salah satu properti paling mewah di dunia. Berbagai penghargaan pun telah diraih, termasuk dinobatkan sebagai hotel kota terbaik di kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara oleh Travel + Leisure, serta meraih rating bintang lima dari Forbes Travel Guide.

Dengan renovasi ini, Burj Al Arab diharapkan kembali hadir dengan wajah baru yang lebih segar, tanpa meninggalkan karakter mewah yang selama ini menjadikannya salah satu hotel paling ikonik di dunia.

Editorial Team