Thai Vietjet Tangguhkan Beberapa Rute karena Krisis Bahan Bakar

Perang yang masih memanas di Timur Tengah berdampak signifikan terhadap operasional sejumlah maskapai dunia. Apalagi, setelah Selat Hormuz kembali ditutup oleh Iran pada Sabtu (18/4/2026). Thai Vietjet menjadi maskapai berikutnya yang akan memangkas sejumlah rute imbas dari harga bahan bakar jet yang meroket tajam.
Dilansir dari Nation Thailand, Thai Vietjet baru-baru ini mengumumkan akan mengurangi frekuensi penerbangan mereka pada musim panas 2026, sekitar Mei dan Juni. Sebelumnya, Qantas, American Airlines, hingga Air New Zealand juga telah lebih dulu menangguhkan beberapa rute karena mengalami krisis bahan bakar jet.
1. Thai Vietjet Air tangguhkan beberapa rute karena krisis bahan bakar

Pada Rabu (22/4/2026), Thai Vietjet telah mulai menyesuaikan operasional mereka karena krisis bahan bakar jet yang terkait dengan perang di Timur Tengah sehingga mendorong biaya penerbangan meningkat tajam. Karena itu, maskapai tersebut akhirnya memutuskan untuk menangguhkan sementara beberapa rute selama jadwal musim panas 2026, sekitar Mei dan Juni.
Dilansir dari Nation Thailand, Thai Vietjet akan menangguhkan beberapa rute, antara lain Bangkok-Fukuoka mulai 11 Mei 2026 hingga 30 Juni 2026. Layanan tersebut sebelumnya beroperasi empat penerbangan seminggu. Thai Vietjet juga akan menangguhkan rute Bangkok-Kolkata hingga 31 Mei 2026, yang semula empat penerbangan mingguan.
2. Layanan domestik Vietjet Air juga dipangkas sebenar 11,2 persen

Selain itu, Thai VietJet mengurangi frekuensi penerbangan pada rute Bangkok-Phnom Penh antara 11 Mei 2025 dan 31 Mei 2026. Bahkan kini jaringan domestik maskapai yang berbasis di Thailand tersebut untuk periode 29 Maret 2026 hingga 30 Juni 2026 juga telah dikurangi sebesar 11,2 persen dari jadwal yang direncanakan sebelumnya.
Reuters melaporkan bahwak sejak awal April 2026, sejumlah maskapai di Asia telah mengurangi jadwal penerbangan dan mengambil langkah-langkah lain karena pasokan bahan bakar semakin ketat. Apalagi, kawasan tersebut menjadi yang sangat terdampak karena ketergantungan pada arus yang terkait dengan Selat Hormuz.
3. Thai Vietjet akui alami tekanan akibat perang di Timur Tengah

Thai Vietjet sendiri telah secara terbuka mengakui tekanan akibat lonjakan harga bahan bakar het. Dalam pernyataan yang dikeluarkan pada Maret 2026 lalu, Thai Vietjet mengatakan telah bergabung dalam diskusi industri aviasi tentang cara-cara untuk mengurangi dampak kenaikan harga avtur, yang menggarisbawahi tekanan yang dirasakan oleh maskapai seiring dengan meningkatnya biaya operasional.
Dengan demikian, penangguhan rute dan pengurangan frekuensi terbaru karena perang yang masih memanas di Timur Tengah menunjukkan bahwa guncangan harga minyak bukan lagi sekadar masalah pasar. Namun, kini juga berdampak langsung pada keputusan penjadwalan penerbangan sejumlah maskapai, termasuk Vietjet Air, nih.
Bagi penumpang, dampak langsungnya adalah berkurangnya layanan pada beberapa rute internasional dan domestik selama musim panas 2026, yakni Mei dan Juni. Namun, untuk sejumlah maskapai, momen tersebut adalah ketika sektor penerbangan memasuki periode ketidakpastian yang tinggi terkait biaya bahan bakar dan stabilitas regional.

















