Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Bahaya Pakai Baju Katun saat Naik Gunung, Menambah Beban!

5 Bahaya Pakai Baju Katun saat Naik Gunung, Menambah Beban!
ilustrasi pendaki gunung (pexels.com/Ben Maxwell)

Naik gunung memang kegiatan yang seru dan menantang. Selain menyiapkan fisik yang prima dan logistik yang cukup, pemilihan perlengkapan terutama pakaia sangat krusial. Mungkin kamu berpikir bahwa baju katun yang biasa dipakai sehari-hari adalah pilihan paling nyaman karena bahannya yang lembut dan adem.

Namun, tahukah kamu kalau memakai baju katun saat mendaki gunung justru menyimpan bahaya tersembunyi? Bagi para pendaki, ada istilah populer: cotton kills. Mari kita bahas kenapa kamu harus mulai meninggalkan baju katun dan beralih ke bahan yang lebih teknis seperti poliester atau nilon saat berpetualang ke puncak.

1. Risiko hipotermia meningkat

ilustrasi pendaki gunung
ilustrasi pendaki gunung (unsplash.com/Toomas Tartes)

Katun memiliki sifat alami yang sangat menyerap air. Masalah muncul saat tubuhmu berkeringat atau ketika tiba-tiba hujan turun. Katun tidak membuang kelembapan tersebut, melainkan menahannya di dalam serat kain. Akibatnya, baju yang basah akan terus menempel di kulit dan membuat suhu tubuh menurun drastis.

Jika kondisi ini dibiarkan saat udara gunung yang dingin, risiko terkena hipotermia akan meningkat drastis. Hipotermia adalah kondisi medis serius yang tidak boleh disepelekan oleh pendaki mana pun.

2. Membutuhkan waktu sangat lama untuk kering

ilustrasi pendaki gunung
ilustrasi pendaki gunung (pexels.com/Katya-Wolf)

Berbeda dengan bahan sintetis yang didesain untuk quick-dry, katun membutuhkan waktu sangat lama untuk kering. Bayangkan kamu harus berjalan berjam-jam dengan pakaian yang basah kuyup. Tubuhmu akan terus-menerus merasa lembap dan dingin.

Kelembapan yang menempel di kulit ini akan menguras energi tubuh karena kamu harus bekerja ekstra untuk menjaga suhu internal tetap stabil. Pendakian yang seharusnya menyenangkan bisa berubah menjadi pengalaman yang menyiksa karena rasa tidak nyaman dari pakaian yang tak kunjung kering.

3. Efek "kulkas" pada tubuh

ilustrasi pendaki gunung
ilustrasi pendaki gunung (pexels.com/Pixabay)

Pernah merasa hangat saat sedang aktif berjalan, tapi begitu berhenti untuk istirahat, kamu langsung menggigil hebat? Inilah yang disebut efek "kulkas". Saat kamu berhenti bergerak, baju katun yang basah tidak lagi mendapatkan panas dari aktivitas fisikmu.

Sebaliknya, baju tersebut justru menyerap panas tubuhmu secara terus-menerus. Kamu akan merasa sangat dingin dan menggigil, meskipun sebelumnya merasa baik-baik saja. Efek pendinginan ini sangat berbahaya karena bisa terjadi begitu cepat di medan pegunungan yang suhunya tidak bisa diprediksi.

4. Menambah beban yang tidak perlu

ilustrasi pendaki gunung
ilustrasi pendaki gunung (unsplash.com/Jamal Mahfudz)

Mungkin kamu tidak menyadarinya, tetapi katun bisa menyerap air hingga 27 kali lipat dari bobot aslinya. Bayangkan jika baju atau celana katunmu basah karena keringat atau hujan, bobot pakaianmu bisa bertambah berkali-kali lipat.

Membawa beban tambahan yang tidak perlu di pundak tentu saja membuat perjalanan terasa lebih melelahkan dan menguras stamina. Di gunung, setiap gram beban itu berharga. Mengurangi berat bawaan adalah kunci agar perjalananmu lebih efisien.

5. Mengurangi kenyamanan dan risiko iritasi

ilustrasi pendaki gunung
ilustrasi pendaki gunung (unsplash.com/Anthony Da Cruz)

Selain berat, baju katun yang basah cenderung kehilangan bentuknya dan menjadi lebih kasar. Ketika baju yang basah dan berat ini bergesekan dengan kulit secara terus-menerus selama berjam-jam, hal itu dapat menyebabkan iritasi atau lecet, terutama di area lipatan tubuh. Rasa tidak nyaman akibat gesekan ini tentu sangat mengganggu konsentrasi saat mendaki. Padahal, kenyamanan adalah faktor pendukung agar kamu bisa mencapai puncak dengan lebih maksimal.

Sebagai kesimpulan, meskipun katun nyaman untuk dipakai bersantai di rumah, material ini benar-benar tidak disarankan untuk digunakan saat mendaki gunung. Selalu prioritaskan pakaian berbahan sintetis atau wol merino yang memiliki manajemen kelembapan (moisture-wicking) yang jauh lebih baik.

Dengan pemilihan pakaian yang tepat, pendakian kamu akan jauh lebih aman dan menyenangkan. Tetap utamakan keselamatan dan selamat merencanakan petualangan berikutnya!

Apakah kamu sudah memiliki rencana pendakian dalam waktu dekat dan ingin tahu rekomendasi jenis bahan baju yang paling efektif untuk cuaca ekstrem?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Febrianti Diah Kusumaningrum
EditorFebrianti Diah Kusumaningrum
Follow Us

Latest in Travel

See More

⁠Do’s and Don’ts Ikut Festival Songkran di Thailand

13 Apr 2026, 18:00 WIBTravel