Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Apakah Gunung Fuji Berbahaya untuk Didaki?
Potret Gunung Fuji (unsplash.com/Aditya Anjagi)

Gunung Fuji selalu menjadi salah satu destinasi impian para pendaki dan wisatawan yang berkunjung ke Jepang. Jalur pendakiannya dikenal relatif ramah bagi pemula jika dibandingkan dengan gunung-gunung teknis lainnya. Namun, bukan berarti gunung tertinggi di Jepang ini sepenuhnya bebas risiko.

Hal tersebut kembali menjadi sorotan setelah dua pendaki meninggal dunia pada musim pendakian Gunung Fuji 2026. Korban pertama merupakan warga Jepang, sedangkan korban kedua adalah wisatawan asal Swiss yang sedang mendaki bersama putranya.

Kedua insiden itu terjadi hanya beberapa hari setelah jalur pendakian resmi dibuka pada pertengahan Juli 2026. Peristiwa tersebut membuat banyak orang bertanya-tanya, apakah Gunung Fuji benar-benar berbahaya untuk didaki? Berikut beberapa hal yang perlu kamu pahami.

1. Jalurnya tidak terlalu ekstrem, tetapi tetap berada di gunung berketinggian 3.776 mdpl

Banyak orang mengira Gunung Fuji merupakan pendakian yang mudah, karena jalurnya sudah tertata rapi. Memang sebagian besar rute pendakian tidak mengharuskan penggunaan tali, kapak es, maupun teknik panjat tebing seperti pada gunung-gunung bersalju.

Namun, Gunung Fuji tetap memiliki ketinggian 3.776 meter di atas permukaan laut. Semakin mendekati puncak, kadar oksigen akan semakin berkurang sehingga tubuh bekerja lebih keras.

Pendaki yang kurang beradaptasi berisiko mengalami Acute Mountain Sickness (AMS) atau penyakit akibat ketinggian yang ditandai dengan pusing, mual, sesak napas, hingga kehilangan kesadaran. Jadi meskipun medannya tidak terlalu teknis, perjalanan menuju ke puncak tetap membutuhkan kondisi fisik yang prima.

2. Cuaca di Gunung Fuji dapat berubah sangat cepat

Potret Gunung Fuji (pixabay.com/ArminEP)

Salah satu tantangan terbesar saat mendaki Gunung Fuji bukan hanya jalurnya, melainkan cuaca yang sulit diprediksi. Dalam hitungan jam, langit yang semula cerah dapat berubah menjadi berkabut tebal, hujan deras, atau diterpa angin kencang.

Perubahan cuaca tersebut dapat menurunkan jarak pandang, membuat jalur menjadi licin, serta meningkatkan risiko hipotermia, terutama bagi pendaki yang tidak mengenakan pakaian sesuai kondisi pegunungan. Bahkan, pada musim panas sekali pun, suhu di area puncak dapat berada di bawah 10 derajat Celsius dan terasa jauh lebih dingin akibat embusan angin.

3. Dua kematian pada musim pendakian 2026 menjadi pengingat penting

Musim pendakian tahun 2026 diwarnai dua insiden yang menyita perhatian publik. Korban pertama merupakan pria berusia 65 tahun asal Prefektur Nara yang mendaki melalui Jalur Fujinomiya bersama rombongan tur. Saat berada di antara stasiun kedelapan dan kesembilan, ia terjatuh hingga kepalanya membentur permukaan batu. Meski tim penyelamat segera datang, nyawanya tidak berhasil diselamatkan.

Beberapa hari kemudian, seorang wisatawan asal Swiss berusia 58 tahun juga meninggal dunia setelah tiba-tiba kehilangan kesadaran saat beristirahat di sebuah pondok gunung dekat stasiun ketujuh baru di jalur yang sama. Tim penyelamat sempat memberikan pertolongan menggunakan defibrillator dan berhasil membuat korban kembali bernapas sebelum dievakuasi ke rumah sakit.

Namun, dokter akhirnya menyatakan korban meninggal dunia. Hingga kini, penyebab pasti hilangnya kesadaran tersebut masih dalam penyelidikan dan diketahui tidak berkaitan dengan cedera selama pendakian. Dua kejadian tersebut menunjukkan bahwa risiko di Gunung Fuji tidak hanya berasal dari medan, tetapi juga kondisi kesehatan pendaki yang bisa berubah sewaktu-waktu.

4. Polisi Jepang mengimbau pendaki tidak memaksakan diri

Potret Gunung Fuji (unsplash.com/Rui Hao Lim)

Menyusul dua insiden tersebut, Kepolisian Prefektur Shizuoka kembali mengingatkan seluruh pendaki untuk selalu mengutamakan keselamatan dibanding ambisi mencapai puncak.

Pendaki disarankan segera menghentikan perjalanan apabila mulai mengalami gejala kelelahan, sesak napas, pusing, atau tanda-tanda penyakit akibat ketinggian. Begitu pula ketika cuaca mulai memburuk, keputusan untuk berbalik arah justru merupakan langkah yang paling bijaksana.

Petugas juga mengimbau wisatawan untuk selalu memantau prakiraan cuaca, membawa perlengkapan yang memadai, serta tidak mendaki sendirian apabila belum memiliki pengalaman.

5. Persiapan yang matang dapat mengurangi risiko selama pendakian

Mendaki Gunung Fuji sebenarnya tetap aman apabila dilakukan dengan persiapan yang baik. Pendaki disarankan berlatih fisik beberapa pekan sebelum keberangkatan, membawa pakaian berlapis yang tahan angin, sepatu hiking yang nyaman, senter kepala, air minum, makanan berenergi, serta perlengkapan darurat.

Selain itu, memilih waktu istirahat yang cukup sebelum mendaki dan melakukan aklimatisasi di stasiun awal juga dapat membantu tubuh beradaptasi dengan perubahan ketinggian.

Gunung Fuji memang tidak termasuk gunung dengan medan paling ekstrem di dunia. Namun, faktor ketinggian, cuaca yang cepat berubah, serta kondisi fisik setiap pendaki tetap menjadi faktor yang tidak boleh diremehkan. Selama mempersiapkan diri dengan baik dan tidak memaksakan perjalanan ketika tubuh mulai memberi sinyal bahaya, pendakian ke Gunung Fuji tetap dapat menjadi pengalaman yang aman sekaligus berkesan.

Curated For You

Editorial Team

Related Article