Jepang menjadi salah satu destinasi favorit wisatawan yang ingin mengabadikan momen perjalanan melalui foto maupun video. Kuil dan tempat ibadah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari daya tarik tersebut. Arsitektur tradisional, gerbang torii, taman, hingga suasana yang tenang membuat kawasan ini kerap dipilih sebagai latar untuk berbagai konten media sosial.
Namun, popularitas kuil sebagai destinasi wisata bukan berarti tempat tersebut hanya berfungsi sebagai latar foto. Di balik daya tariknya, kuil merupakan tempat ibadah yang masih digunakan masyarakat untuk berdoa dan menjalankan kegiatan keagamaan. Karena itu, wisatawan tetap perlu memperhatikan etika ketika mengambil gambar atau membuat konten agar aktivitas tersebut tidak mengganggu pengunjung lain maupun mengurangi kesakralan tempat.
Hal ini kembali menjadi perhatian setelah sejumlah wisatawan asing terlihat membuat video menari di area Fushimi Inari Taisha, Kyoto. Dalam video yang diunggah akun X @hokkori_buzz pada Sabtu (5/9/2026), mereka disebut menggunakan area sekitar torii untuk melakukan aksi menari dan mengambil gambar.
Bahkan membuat pengunjung lain harus menunggu atau melewati area tersebut dengan ruang yang terbatas. Aksi tersebut kemudian menuai kritik karena dianggap tidak sesuai dengan suasana Fushimi Inari sebagai tempat ibadah.
Fushimi Inari Taisha sendiri telah mengeluarkan imbauan terkait perilaku pengunjung. Pihak kuil menyebut kawasan tersebut sebagai tempat suci. Selain itu, menjadi ruang untuk berdoa yang telah digunakan selama lebih dari 1.300 tahun.
Dalam imbauannya, pengunjung diminta tidak melakukan tindakan yang mengganggu atau menyulitkan orang lain. Termasuk menghambat jalur sempit ketika mengambil foto atau video.
Lantas, apa saja etika yang perlu diperhatikan wisatawan saat membuat konten di kuil Jepang?
