6 Etika Membuat Konten di Kuil Jepang, Jangan Asal Bikin Video!

- Wisatawan di kuil Jepang perlu menghormati fungsi tempat ibadah, setelah video tarian di Fushimi Inari Taisha, Kyoto, dikritik karena mengganggu pengunjung dan suasana sakral.
- Pembuatan konten tidak boleh menghalangi jalur, terutama area sempit, atau berubah menjadi pertunjukan melalui tarian, adegan berulang, dan suara keras yang mengganggu ibadah.
- Pengunjung wajib mematuhi aturan tiap kuil soal area rekam, akses terbatas, penggunaan komersial, pakaian, serta larangan menyentuh atau merusak bangunan dan properti.
Jepang menjadi salah satu destinasi favorit wisatawan yang ingin mengabadikan momen perjalanan melalui foto maupun video. Kuil dan tempat ibadah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari daya tarik tersebut. Arsitektur tradisional, gerbang torii, taman, hingga suasana yang tenang membuat kawasan ini kerap dipilih sebagai latar untuk berbagai konten media sosial.
Namun, popularitas kuil sebagai destinasi wisata bukan berarti tempat tersebut hanya berfungsi sebagai latar foto. Di balik daya tariknya, kuil merupakan tempat ibadah yang masih digunakan masyarakat untuk berdoa dan menjalankan kegiatan keagamaan. Karena itu, wisatawan tetap perlu memperhatikan etika ketika mengambil gambar atau membuat konten agar aktivitas tersebut tidak mengganggu pengunjung lain maupun mengurangi kesakralan tempat.
Hal ini kembali menjadi perhatian setelah sejumlah wisatawan asing terlihat membuat video menari di area Fushimi Inari Taisha, Kyoto. Dalam video yang diunggah akun X @hokkori_buzz pada Sabtu (5/9/2026), mereka disebut menggunakan area sekitar torii untuk melakukan aksi menari dan mengambil gambar.
Bahkan membuat pengunjung lain harus menunggu atau melewati area tersebut dengan ruang yang terbatas. Aksi tersebut kemudian menuai kritik karena dianggap tidak sesuai dengan suasana Fushimi Inari sebagai tempat ibadah.
Fushimi Inari Taisha sendiri telah mengeluarkan imbauan terkait perilaku pengunjung. Pihak kuil menyebut kawasan tersebut sebagai tempat suci. Selain itu, menjadi ruang untuk berdoa yang telah digunakan selama lebih dari 1.300 tahun.
Dalam imbauannya, pengunjung diminta tidak melakukan tindakan yang mengganggu atau menyulitkan orang lain. Termasuk menghambat jalur sempit ketika mengambil foto atau video.
Lantas, apa saja etika yang perlu diperhatikan wisatawan saat membuat konten di kuil Jepang?
Table of Content
1. Pastikan tidak mengganggu jalur pengunjung
Salah satu hal paling penting ketika membuat konten di kuil adalah memperhatikan posisi pengambilan gambar. Foto atau video sebaiknya tidak dilakukan di tengah jalur yang digunakan pengunjung. Apalagi jika membutuhkan waktu cukup lama untuk mendapatkan angle tertentu.
Bahkan, kuil Fushimi Inari secara khusus melarang pengunjung menghalangi orang yang sedang melintas akibat aktivitas fotografi atau perekaman video. Aturan ini penting diperhatikan karena beberapa jalur di kawasan kuil cukup sempit dan tetap digunakan orang untuk beribadah maupun berwisata.
Jika ingin mengambil gambar dengan komposisi tertentu, wisatawan dapat terlebih dahulu mencari area yang lebih lengang dan tidak menghalangi akses. Hindari pula meminta rombongan berhenti terlalu lama hanya untuk mendapatkan satu pengambilan gambar. Konten yang bagus tidak harus dibuat dengan mengambil ruang yang seharusnya digunakan bersama.
2. Jangan mengubah area ibadah menjadi lokasi pertunjukan

Potret kuil di Jepang (unsplash.com/Juan Broullon) Mengambil foto dengan latar bangunan kuil atau torii pada dasarnya bukan sesuatu yang otomatis dilarang. Wisatawan tetap dapat mengabadikan arsitektur, pemandangan, maupun suasana di sekitar kuil selama mengikuti aturan yang berlaku.
Pengunjung perlu memperhatikan jenis aktivitas yang dilakukan untuk menghasilkan konten. Menari, melakukan adegan berulang kali, berbicara terlalu keras, atau membuat aksi yang menarik perhatian banyak orang dapat mengubah suasana tempat ibadah menjadi seperti lokasi pertunjukan.
Dalam kasus yang terjadi di Fushimi Inari, pihak kuil bahkan secara khusus menyebut adanya tindakan seperti pertunjukan tari yang mengganggu aktivitas pengunjung. Pihak kuil kemudian meminta semua orang menjaga perilaku yang sesuai dengan suasana tempat tersebut agar pengunjung dapat beribadah dengan tenang.
3. Perhatikan area yang boleh dan tidak boleh direkam
Tidak semua bagian kuil dapat digunakan secara bebas untuk mengambil gambar. Beberapa area bisa memiliki aturan khusus, terutama bagian yang diperuntukkan bagi kegiatan ibadah atau berada di balik batas tertentu.
Fushimi Inari, misalnya, melarang pengunjung memasuki area terbatas tanpa izin. Kuil tersebut juga melarang pengambilan gambar untuk kepentingan komersial atau area yang memang tidak diperbolehkan untuk difoto.
Sebelum mulai merekam, perhatikan papan informasi, tanda larangan, pembatas, maupun arahan dari petugas. Jika terdapat tulisan yang melarang fotografi atau perekaman, sebaiknya jangan mencoba mencari celah hanya karena area tersebut terlihat menarik untuk konten.
4. Jangan menyentuh atau merusak properti kuil demi konten

Potret Kuil Yasukuni di Tokyo, Jepang (unsplash.com/Hakan Nural) Keinginan mendapatkan foto yang unik terkadang membuat wisatawan melakukan pose atau memanfaatkan benda di sekitar sebagai bagian dari pengambilan gambar. Namun, hal seperti ini perlu dihindari saat kamu di kuil Jepang.
Banyak kuil melarang tindakan yang dapat merusak bangunan, gerbang torii, pepohonan, maupun properti lain yang berada di kawasan tempat ibadah. Pengunjung juga tidak diperbolehkan meletakkan barang di atas fasilitas tertentu seperti lentera.
Artinya, wisatawan sebaiknya tidak memanjat, bersandar sembarangan, memindahkan benda, atau menyentuh bagian bangunan hanya untuk mendapatkan angle yang dianggap lebih menarik. Biarkan elemen tradisional tersebut tetap menjadi bagian dari tempat ibadah. Bukan properti tambahan untuk kebutuhan produksi konten.
5. Sesuaikan pakaian dan perilaku dengan suasana tempat
Kuil merupakan tempat yang memiliki nilai spiritual bagi masyarakat setempat. Karena itu, wisatawan perlu mempertimbangkan pakaian dan perilaku selama berada di dalam kawasan tersebut.
Bukan berarti pengunjung harus menggunakan pakaian tradisional Jepang atau berpakaian secara formal. Namun, hindari pakaian atau aksi yang secara jelas tidak sesuai dengan suasana tempat ibadah. Beberapa kuil bahkan mencantumkan pakaian yang dianggap tidak pantas untuk beribadah.
Hal serupa berlaku ketika membuat konten. Pose, tarian, atau adegan yang lebih cocok dilakukan di studio, jalan umum, atau tempat hiburan sebaiknya tidak dilakukan di area kuil hanya karena latarnya menarik.
6. Jangan menganggap semua kuil memiliki aturan yang sama

Potret kuil di Jepang (pexels.com/Kyle Kroeger) Setiap kuil dapat memiliki ketentuan yang berbeda mengenai fotografi, perekaman video, pakaian, hingga penggunaan area tertentu. Karena itu, wisatawan sebaiknya tidak berasumsi bahwa aturan yang berlaku di satu kuil otomatis berlaku di tempat lain.
Kebiasaan mengambil foto di satu kuil bukan berarti hal yang sama diperbolehkan di kuil berikutnya. Bahkan, Pemerintah Jepang melalui Japan Tourism Agency juga mendorong wisatawan asing untuk memahami perbedaan budaya dan kebiasaan. Dengan begitu, dapat menikmati perjalanan yang lebih nyaman sekaligus menghormati masyarakat setempat.
Luangkan waktu untuk membaca informasi yang tersedia sebelum membuat konten. Jika masih ragu, bertanya kepada petugas juga menjadi pilihan yang lebih aman daripada langsung merekam.
Itulah beberapa etika yang perlu kamu perhatikan saat membuat konten di kuil Jepang. Kamu tetap bisa mengabadikan momen selama tidak mengganggu pengunjung, jalur, atau kegiatan ibadah. Dengan menghormati budaya setempat, pengalaman liburan tetap nyaman tanpa mengurangi keseruan membuat konten.





















