Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Etika Wisata Alam di Kalimantan saat Musim Karhutla, Patuhi!

5 Etika Wisata Alam di Kalimantan saat Musim Karhutla, Patuhi!
ilustrasi wisatawan menjelajahi hutan Kalimantan (pexels.com/Quang Nguyen Vinh)
  • Wisatawan perlu memantau status kawasan dan informasi resmi BMKG atau pengelola, mengurus SIMAKSI, serta mematuhi penutupan jalur karena risiko api, asap, dan perubahan kondisi cepat.
  • Di lahan gambut, terapkan zero flame policy: jangan menyalakan api, membakar sampah, atau merokok. Gunakan kompor portable secara aman bila memasak untuk mencegah kebakaran bawah tanah.
  • Saat karhutla, gunakan pemandu lokal, jaga jarak dari satwa bereksodus, jangan memberi makan atau membocorkan lokasi, serta bawa pulang sampah dan laporkan potensi titik api.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Kalimantan selalu punya cara untuk membuat siapa pun jatuh cinta, mulai dari lebatnya hutan tropis, aliran sungai yang membelah permukiman, hingga kawasan konservasi yang menjadi rumah bagi beragam satwa liar. Namun, di tengah ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla), menikmati pesona tersebut tak cukup hanya bermodalkan rasa penasaran saja.

Kabut asap dan penurunan jarak pandang di sejumlah wilayah menjadi pengingat bahwa kawasan yang tampak tenang pun bisa menyimpan bahaya. Dengan begitu, wisatawan juga perlu memperhitungkan kembali kondisi lingkungan serta keselamatan di sekitarnya tanpa harus membuat rencana liburan langsung dibatalkan.

Berwisatalah dengan bijak agar perjalanan tetap aman tanpa merugikan lingkungan maupun masyarakat setempat. Maka dari itu, agar liburanmu tetap aman serta tidak merusak alam, pahami terlebih dahulu lima etika penting berikut ini sebelum mulai menjelajahi alam Kalimantan!

  1. 1. Wajib cek status kawasan dan kantongi SIMAKSI resmi

    ilustrasi pria menjelajahi hutan di Kalimantan
    ilustrasi pria menjelajahi hutan di Kalimantan (pexels.com/Murillo Molissani )

    Bagi orang awam, Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi (SIMAKSI) mungkin terdengar seperti sekadar formalitas administratif. Padahal, izin ini adalah sistem life saving resmi yang memastikan keberadaanmu tercatat di pos penjagaan.

    Saat titik api (hotspot) mulai terdeteksi, pengelola kawasan sering memberlakukan penutupan jalur parsial hingga penyesuaian rute evakuasi secara mendadak. Alhasil, memeriksa status kawasan dan mengurus izin resmi sebelum melangkah ke jalur jelajah merupakan prosedur wajib yang tak boleh diterobos demi keselamatanmu sendiri.

    Jika suatu destinasi ditutup, jangan pernah nekat menerobos demi konten media sosial atau kepuasan pribadi. Penutupan jalur dilakukan karena adanya ancaman yang kerap tak kasatmata, seperti kebakaran bawah tanah, bara api tersembunyi, hingga tumbangnya pohon yang rapuh akibat terkikis api.

    Dalam situasi darurat ini, menghormati penutupan kawasan merupakan bentuk etika dasar. Tidak adanya asap atau titik api yang terlihat bukan jaminan bahwa kawasan tersebut sudah aman. Dinamika angin dan vegetasi gambut Kalimantan bisa mengubah pergerakan api dan menurunkan kualitas udara secara drastis dalam hitungan menit

    Maka dari itu, pastikan kamu memantau informasi resmi dari BMKG atau pengelola setempat secara real time, bukan hanya bersandar pada foto atau unggahan wisatawan lain yang bisa jadi sudah kedaluwarsa.

  2. 2. Menerapkan zero flame policy di area lahan gambut

    ilustrasi api unggun di dalam hutan
    ilustrasi api unggun di dalam hutan (pexels.com/Анастасия Быкова)

    Sebagian besar lantai hutan Kalimantan didominasi oleh lahan gambut yang merupakan tumpukan material organik tebal serta dapat bertindak sebagai bahan bakar raksasa saat musim kemarau. Di area seperti ini, bahaya terbesar justru sering kali tak terlihat di permukaan. Sebab, percikan api sekecil apa pun bisa meresap ke bawah tanah dan memicu smoldering fire (kebakaran bawah tanah) yang tersembunyi, sulit dideteksi, serta sangat sulit dipadamkan.

    Oleh karena itu, prinsip zero flame policy atau kebijakan yang melarang keras penggunaan api dalam bentuk apa pun wajib diterapkan. Menyalakan api unggun, membakar sampah, hingga merokok di sepanjang jalur jelajah harus sepenuhnya kamu tinggalkan.

    Jika harus memasak, kamu bisa menggunakan kompor portable dengan tatakan tahan panas dan menjauhkan dari serasah kering. Jangan pernah berasumsi api kecil mudah dikendalikan, sebab angin kemarau mampu menyebarkan titik api jauh lebih cepat dari bayangan kita.

    Kepatuhan pada aturan ini bukan cuma soal mencegah kebakaran, melainkan juga menjaga arsip karbon dunia. Lahan gambut di Kalimantan menyimpan cadangan karbon raksasa dan jika terbakar, jutaan ton emisi akan terlepas ke atmosfer serta merusak ekosistem.

    Dengan menahan diri dari penggunaan api sekecil apa pun, kamu bukan sekadar menjadi wisatawan bijak, tetapi juga ikut menjaga benteng pertahanan iklim Bumi.

  3. 3. Menerapkan responsible wildlife watching saat satwa bereksodus

    ilustrasi orang utan yang sedang kehausan
    ilustrasi orang utan yang sedang kehausan (unsplash.com/Susanne Karl)

    Bencana karhutla kerap memicu eksodus satwa liar, seperti orangutan dan bekantan, keluar dari zona inti hutan menuju jalur perlintasan manusia demi mencari sumber air serta area perlindungan baru. Perlu dipahami bahwa satwa yang keluar dari habitatnya bukan berarti sedang jinak atau membutuhkan interaksi dengan manusia, melainkan bisa berada dalam kondisi panik, lapar, haus, dan lebih defensif dari biasanya.

    Kamu sebagai wisatawan dilarang keras memberi makanan (feeding), membuat suara gaduh, atau menggunakan flash kamera saat mengabadikan momen tersebut. Memberikan makanan atau mencoba mendekat justru bisa mengubah perilaku alaminya, membuat satwa bergantung pada manusia, serta meningkatkan kemungkinan mereka kembali ke permukiman untuk mencari sumber makanan.

    Selalu jaga jarak aman dan ikuti arahan pemandu lokal agar tidak memicu stres pada satwa yang terdesak serta meminimalisasi risiko zoonosis. Jika melihat satwa bereksodus, amati tanpa menghalangi jalurnya dan segera laporkan ke petugas konservasi jika keberadaan mereka berisiko atau mendekati permukiman.

    Prinsip responsible wildlife watching juga berarti memahami bahwa tidak semua momen satwa liar harus kamu abadikan atau bagikan secara real time di media sosial. Membocorkan lokasi persis kemunculan satwa juga bisa memicu wildlife chasing, yaitu perilaku orang-orang berbondong-bondong mengejar atau mendatangi satwa demi mendapatkan foto, sehingga tekanan terhadap satwa yang sudah kehilangan habitatnya akan semakin besar.

  4. 4. Wajib menggunakan local guide sebagai early warning system

    ilustrasi sekelompok wisatawan bersama seorang pemandu
    ilustrasi sekelompok wisatawan bersama seorang pemandu (pexels.com/Quang Nguyen Vinh)

    Masyarakat lokal memiliki kepekaan naluriah dalam membaca tanda alam yang tak terdeteksi oleh aplikasi GPS maupun peta digital. Mereka mampu menangkap sinyal bahaya karhutla lebih cepat melalui pergeseran arah angin, bau asap tipis (smoke plume), hingga perubahan perilaku satwa liar.

    Kehadiran pemandu lokal (local guide) bertindak sebagai early warning system berjalan yang sangat vital untuk membaca batas aman kawasan serta menentukan rute evakuasi darurat tercepat saat titik api baru muncul. Lebih dari sekadar penunjuk jalan, local guide adalah pemegang navigasi atas tata ruang tradisional rimba Kalimantan.

    Pasalnya, hutan di area ini bukanlah ruang publik bebas, melainkan bagian dari wilayah adat yang bisa terbagi menjadi zona pemanfaatan dan kawasan sakral. Membuka jalur sendiri demi mengejar spot viral hanya akan memperbesar risiko tersesat serta berbenturan dengan aturan adat setempat.

    Bersama pemandu lokal, kamu tidak hanya dipastikan aman dari ancaman kebakaran, tetapi juga diajak menghormati sistem konservasi tradisional yang telah menjaga ekosistem ini selama berabad-abad. Melibatkan pemandu lokal menciptakan hubungan timbal balik yang saling menguntungkan. Sebab, kamu mendapatkan kepastian keselamatan sekaligus wawasan budaya yang otentik, sementara warga lokal menerima dampak ekonomi langsung dari aktivitas pariwisata.

    Menjadikan local guide sebagai pendamping jelajah ialah keputusan paling rasional bagi kamu seorang traveler yang ingin menikmati keindahan Kalimantan secara bijak dan bertanggung jawab di tengah ancaman karhutla.

  5. 5. Jangan cuma berkunjung, ikutlah menjaga kelestarian destinasi

    ilustrasi memungut sampah saat berada di alam
    ilustrasi memungut sampah saat berada di alam (pexels.com/Vitaly Gariev)

    Menjadi wisatawan yang bertanggung jawab tidak berhenti pada keberhasilan menghindari api, tetapi juga memastikan kehadiran kita tidak meninggalkan masalah baru. Pahami bahwa aksi nyata seperti membawa pulang sampah, mematuhi jalur resmi, dan melaporkan potensi titik api jauh lebih berdampak daripada sekadar mengunggah pesan "Save Kalimantan" di media sosial.

    Di lapangan, ribuan petugas mulai dari Manggala Agni hingga relawan lokal sedang berusaha keras. Sehingga, kamu sebagai wisatawan harus sadar akan posisi untuk tidak menjadi beban atau risiko tambahan lagi bagi mereka.

    Kepedulian juga diuji oleh cara kita beretika di dunia digital dan berekonomi. Hindari menjadikan penderitaan masyarakat yang terdampak sebagai latar konten atau menyebarkan informasi tanpa konteks demi mengejar engagement.

    Sebagai gantinya, beri dukungan nyata dengan mengalihkan kunjungan ke destinasi alternatif yang aman, memberdayakan pelaku usaha lokal saat jalur dibuka kembali, serta membagikan informasi resmi agar tidak memicu kepanikan publik.

    Pada dasarnya, karhutla memang isu kompleks yang melibatkan iklim hingga tata kelola lahan. Namun, kamu sebagai wisatawan tetap punya peran penting melalui keputusan bijak dengan tidak bermain api, menghormati aturan adat setempat, dan mengetahui kapan harus menunda perjalanan.

    Mencintai alam Kalimantan bukan sekadar soal seberapa jauh kita berani menjelajahinya, melainkan keberanian untuk mundur sejenak demi memberi ruang pemulihan bagi rimba Borneo. Jadilah traveler bijak yang paham bahwa menjaga keselamatan alam dan masyarakat setempat adalah bagian terpenting dari perjalanan itu sendiri.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More