Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

3 Dampak Kabut Asap Karhutla bagi Tubuh, Siapa yang Paling Berisiko?

3 Dampak Kabut Asap Karhutla bagi Tubuh, Siapa yang Paling Berisiko?
gambar asap hasil kebakaran hutan dan lahan (unsplash.com/Malachi Brooks)
  • Asap karhutla mengandung gas berbahaya dan PM2.5 yang memicu iritasi mata, hidung, tenggorokan, serta kulit, termasuk memperparah eksim atau psoriasis.

  • Partikel PM2.5 dapat masuk ke saluran napas dan paru-paru, menyebabkan sesak, nyeri dada, bronkitis akibat paparan lama, serta memperburuk asma dan penyakit paru.

  • Kabut asap juga membebani jantung; risikonya lebih tinggi bagi penderita penyakit kronis, lansia, anak-anak, dan kelompok rentan yang dianjurkan membatasi paparan serta memakai masker N95 atau KN95.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Hampir setiap tahun, hutan-hutan di Indonesia terbakar. Tahun ini, kebakaran hutan dan lahan atau karhutla kembali terjadi, termasuk di Kalimantan. Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, kebakaran hutan dan lahan juga menyebabkan sejumlah besar kabut asap yang bukan hanya berdampak pada kehidupan sehari-hari, tetapi juga kesehatan warga sekitar.

Dilansir Kementerian Kesehatan, asap yang berasal dari kebakaran hutan terdiri dari campuran antara gas, partikel, dan bahan kimia akibat proses pembakaran yang gak sempurna. Termasuk juga di antaranya karbon monoksida, karbon dioksida, nitrogen oksida, ozon, sulfur dioksida, dan gas lainnya. Selain itu, asap pembakaran hutan dan lahan juga terdiri dari PM 2.5, partikel kecil seukuran 2,5 mikrometer yang dapat memasuki sistem pernapasan dengan mudah. Lantas seperti apa dampak jika kabut asap karhutla bagi tubuh kita? Berikut penjelasannya!

  1. 1. Mengiritasi mata, hidung, tenggorokan, serta kulit

    Orang yang mengalami iritasi mata
    gambar orang yang mengalami iritasi mata (magnific.com/user18526052)

    Ketika kamu terpapar asap pembakaran hutan dan lahan, maka mata, hidung, tenggorokan, dan kulit akan menjadi organ pertama yang merasakan dampaknya. Dilansir Kementrian Kesehatan, ini karena meski bentuknya hanya asap, partikel kimia dan campuran gas berbahaya yang terkandung di dalamnya dapat menyebabkan iritasi pada mata, hidung, tenggorokan, bahkan menyebabkan masalah kulit.

    Gejalanya ditandai dengan mata pedih dan berair, hidung berair, dan tenggorokan yang terasa gatal. Bagi mereka yang memiliki eksim atau psoriasis kulit, terpapar asap kebakaran hutan bisa membuat penyakit kambuh dengan cepat. Sedangkan untuk kulit normal, asap kebakaran hutan membuat kulit kering dan gatal-gatal.

  2. 2. Mengganggu sistem pernapasan dan paru-paru

    Pasien penyakit paru-paru
    gambar pasien penyakit paru-paru (unsplash.com/Alexander Grey)

    Salah satu hal yang perlu diwaspadai dari kabut asap yang dihasilkan karhutla adalah partikel PM 2.5. Ukurannya memang sangat kecil, tetapi justru karena ukurannya yang kecil inilah yang membuat partikel PM 2.5 jadi sangat berbahaya. Dilansir AARP, ukurannya yang super kecil membuat partikel ini bisa terhirup dan masuk ke saluran pernapasan dengan mudah.

    Gak hanya bikin tenggorokan gatal-gatal, pada orang yang sehat, partikel PM 2.5 dapat memasuki rongga paru-paru dan menimbulkan sejumlah masalah seperti kesulitan bernapas, sesak dada, dan bahkan bronkitis untuk paparan dalam jangka panjang. Situasi ini akan semakin berbahaya bagi mereka yang menderita penyakit asma dan paru-paru. Pada penderita penyakit asma dan paru-paru, partikel yang terhirup dan masuk ke dalam sistem pernapasan dapat menyebabkan kambuhnya sejumlah gejala seperti menurunkan kadar oksigen, membuat pernapasan sulit, dan dada terasa sesak.

  3. 3. Kabut asap karhutla membebani jantung 

    Replika jantung manusia
    gambar replika jantung manusia (unsplash.com/Jesse Orrico)

    Gak hanya paru-paru, kabut asap yang dihasilkan oleh karhutla juga membebani sejumlah organ vital lain di dalam tubuh, termasuk jantung. Dilansir Bangkok Hospital, ini karena selain dapat memasuki rongga paru, partikel halus PM 2.5 juga dapat berpindah ke aliran darah. Jika dibiarkan, kondisi ini dapat melemahkan pembuluh darah bahkan membuatnya pecah. Sementara itu menurut World Health Organization (WHO), paparan PM 2.5 di atas 10-25 µg/m³ dalam jangka waktu lama berpotensi menyebabkan peradangan, gangguan pada proses pembekuan darah, kerusakan pembuluh darah yang berujung pada penyakit kardiovaskular.

    Sedangkan bagi mereka yang memang menderita penyakit jantung, paparan asap serta partikel halus bisa memperburuk kondisinya. Gak tanggung-tanggung, data statistik dari WHO menunjukkan bahwa sekitar 20% kematian akibat penyakit kardiovaskular berkaitan dengan paparan polusi udara, termasuk juga PM 2.5 secara berlebihan. Terakhir, paparan polusi berlebih juga menjadi penyebab kematian lebih dari 3 juta orang penderita kardiovaskular di seluruh dunia setiap tahunnya.

  4. 4. Siapa yang paling berisiko terhadap asap karhutla?

    Tangan keriput orang lanjut usia
    gambar tangan keriput orang lanjut usia (unsplash.com/Danie Franco)

    Asap hasil kebakaran hutan dan lahan memang berbahaya, termasuk bagi mereka yang sehat dan gak menderita kondisi apa pun. Namun dilansir CDC, dampaknya akan jauh lebih parah pada kelompok tertentu. Kelompok ini termasuk:

    • Orang yang menderita penyakit kardiovaskular 
    • Penderita diabetes 
    • Orang-orang dengan kadar kolesterol yang tinggi
    • Orang dengan obesitas
    • Mereka yang memiliki status ekonomi rendah
    • Orang-orang lanjut usia atau lansia
    • Anak-anak
    • Mereka yang menderita penyakit pernapasan kronis seperti asma dan Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK)

    Kelompok ini perlu melakukan berbagai langkah perlindungan maksimal. Mulai dari menutup jendela dan pintu untuk mencegah udara dari luar masuk, membatasi kegiatan di luar ruangan, dan menggunakan masker respirator N95 atau KN95 yang pas guna menyaring partikel asap halus. Jika memungkinkan, gunakan juga alat pembersih udara yang dilengkapi dengan filter HEPA guna mengurangi partikel di udara.

    Kabut asap berdampak sangat besar bagi kehidupan masyarakat sekitar lokasi kebakaran hutan dan lahan. Selain membuat aktivitas terganggu, situasi ini juga jelas akan mempengaruhi kesehatan kita. Pada orang yang berisiko terutama, dampaknya akan jadi lebih serius.

    Referensi

    “Wildfire Smoke and People with Chronic Conditions.” Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Diakses Agustus 2026.

    “Wildfire Smoke Health Risks for Older Adults.” AARP. Diakses Agustus 2026.

    “Wildfire Smoke Is Toxic.” American Lung Association. Diakses Agustus 2026.

    “Tanggap Darurat terhadap Kabut Asap.” Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Diakses Agustus 2026.

    “Menkes: Pakai Masker dan Pantau Kualitas Udara untuk Cegah Dampak Asap Karhutla.” Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Diakses Agustus 2026.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More