3 Alasan Mobil LIstrik Belum Akan Menggeser Mobil Bensin di Indonesia

- Penyebaran SPKLU belum semerata SPBU, sementara pengisian baterai membutuhkan waktu lebih lama, sehingga mobil bensin masih lebih praktis untuk perjalanan jauh.
- Harga awal mobil listrik dan biaya baterai berkapasitas besar masih menjadi perhatian, termasuk kekhawatiran penggantian baterai saat performanya menurun.
- Ekosistem mobil bensin lebih familiar bagi konsumen, dari bengkel hingga kebiasaan pengisian; peralihan ke mobil listrik diperkirakan berlangsung bertahap.
Mobil listrik memang berkembang pesat di Indonesia. Beragam model baru bermunculan dengan harga yang semakin kompetitif, sementara teknologi baterai dan fitur pendukungnya terus mengalami perkembangan.
Meski begitu, dominasi mobil bensin tidak akan mudah berakhir. Ada sejumlah faktor yang membuat mobil listrik masih membutuhkan waktu cukup panjang untuk benar-benar menggantikan mobil bermesin pembakaran internal di Indonesia.
1. Infrastruktur pengisian belum merata

Mobil listrik dan stasiun pengisian daya.(pixels.com/smart-me AG) Salah satu tantangan terbesar adalah ketersediaan infrastruktur pengisian daya. SPKLU memang terus bertambah di berbagai kota dan jalur utama, tetapi penyebarannya belum semerata stasiun pengisian bahan bakar yang sudah tersedia hingga daerah pelosok.
Kondisi tersebut bisa menjadi pertimbangan bagi konsumen yang sering melakukan perjalanan jauh. Pengguna mobil bensin cukup mencari SPBU ketika bahan bakar menipis dan proses pengisian hanya membutuhkan waktu beberapa menit. Sementara itu, pengisian baterai mobil listrik umumnya membutuhkan waktu lebih lama, terutama jika menggunakan charger dengan daya terbatas.
2. Harga baterai masih teramat tinggi

Ilustrasi pengecasan mobil listrik.(Unsplash/Priscilla Du Preez 🇨🇦) Harga mobil listrik kini semakin beragam. Beberapa model bahkan sudah berada di rentang harga yang dapat bersaing dengan mobil bensin. Namun, bagi sebagian konsumen, harga awal masih menjadi pertimbangan penting karena mobil listrik dengan baterai berkapasitas besar umumnya membutuhkan biaya produksi yang tinggi.
Selain harga kendaraan, baterai juga menjadi perhatian tersendiri. Baterai merupakan komponen mahal dan performanya dapat menurun seiring usia serta pola penggunaan. Kekhawatiran mengenai biaya penggantian baterai dalam jangka panjang dapat membuat sebagian konsumen masih memilih mobil bensin yang teknologi dan biaya perawatannya sudah lebih familiar.
3. Kebiasaan dan kebutuhan konsumen belum berubah

ilustrasi isi bensin (pexels.com/Gustavo Fring) Mobil bensin sudah digunakan masyarakat Indonesia selama puluhan tahun. Infrastruktur pendukungnya sangat luas, bengkel mudah ditemukan, mekanik lebih familiar dengan teknologi mesin pembakaran, dan pilihan bahan bakarnya juga beragam. Ekosistem tersebut membuat konsumen merasa lebih aman ketika memilih mobil bensin.
Di sisi lain, mobil listrik membutuhkan perubahan kebiasaan, terutama dalam pengisian energi. Pengguna perlu membiasakan diri mengisi daya di rumah atau mencari SPKLU ketika melakukan perjalanan jauh. Bagi konsumen yang belum memiliki akses pengisian di rumah atau tinggal di hunian tanpa fasilitas parkir pribadi, penggunaan mobil listrik juga bisa menjadi lebih rumit.
Pada akhirnya, mobil listrik memiliki peluang besar untuk terus mengambil pangsa pasar mobil bensin. Namun, proses tersebut kemungkinan berlangsung secara bertahap. Harga yang semakin terjangkau, jaringan pengisian yang semakin luas, teknologi baterai yang semakin matang, dan perubahan kebiasaan konsumen akan menjadi faktor penting dalam menentukan seberapa cepat peralihan tersebut terjadi.



















