Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
3 Tanda Ban Mobil Sudah Tidak Aman untuk Jalan Basah
ilustrasi ban mobil (unsplash.com/Jimmy Nilsson Masth)
  • Alur telapak ban yang menipis mengurangi kemampuan membuang air dan meningkatkan risiko aquaplaning; jika indikator TWI sejajar, ban perlu diganti.
  • Retakan atau benjolan pada dinding ban dapat menandakan karet maupun struktur internal rusak, sehingga perlu diperiksa profesional dan berpotensi harus diganti.
  • Mobil yang mudah selip, kurang stabil, atau membutuhkan pengereman lebih jauh di jalan basah perlu ditangani dengan mengurangi kecepatan lalu memeriksa ban dan tekanan angin.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Ban mobil bisa bahaya saat jalan basah kalau alurnya sudah tipis, ada retak atau benjol. Mobil juga bisa mudah selip dan susah berhenti. Kalau ada tanda itu, kita harus pelan-pelan, lalu cek ban dan anginnya di tempat aman. Ban yang rusak perlu diperiksa bengkel atau diganti.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Mengemudi di jalan basah membutuhkan kondisi ban yang prima. Genangan air, permukaan aspal licin, dan hujan deras bisa membuat mobil kehilangan daya cengkeram, terutama ketika ban sudah aus atau mengalami kerusakan. Situasi ini berisiko memicu aquaplaning, yakni kondisi ketika ban kehilangan kontak efektif dengan permukaan jalan akibat lapisan air.

Masalahnya, kondisi ban yang tidak lagi aman terkadang sulit dikenali hanya dari tampilan sekilas. Padahal, ada sejumlah tanda yang bisa diperiksa sebelum mobil digunakan saat hujan. Mengenali gejala tersebut membantu pemilik kendaraan menentukan kapan ban perlu diperiksa lebih lanjut atau diganti demi menjaga keselamatan berkendara.

1. Alur telapak ban mulai menipis

ilustrasi mengecek ban mobil (freepik.com/peoplecreation)

Tanda pertama yang perlu diperhatikan adalah alur telapak ban yang semakin dangkal. Alur tersebut berfungsi membantu mengalirkan air dari area kontak ban dengan permukaan jalan. Ketika kedalamannya berkurang, kemampuan ban membuang air juga dapat menurun sehingga risiko kehilangan daya cengkeram di jalan basah meningkat.

Periksa telapak ban secara berkala, termasuk bagian tengah dan kedua sisi. Jika permukaannya sudah mendekati batas keausan atau indikator keausan ban (TWI) sejajar dengan permukaan telapak, ban perlu segera diganti. Sebagai acuan umum, batas minimum kedalaman alur ban mobil penumpang di Indonesia adalah 1,6 mm, tetapi performa di jalan basah bisa menurun sebelum mencapai angka tersebut. Karena itu, jangan menunggu sampai alur benar-benar habis untuk melakukan penggantian.

2. Ada retakan atau benjolan pada dinding ban

ilustrasi ban mobil (unsplash.com/Jaye Haych)

Tanda kedua adalah munculnya retakan pada dinding ban atau sidewall. Kerusakan ini bisa terjadi akibat usia karet, paparan panas, tekanan angin yang tidak sesuai, atau benturan berulang dengan lubang jalan dan trotoar. Retakan yang terlihat jelas perlu diperiksa karena dapat menandakan kondisi karet sudah memburuk.

Benjolan pada dinding ban bahkan lebih berbahaya karena dapat menunjukkan kerusakan struktur internal. Kondisi tersebut meningkatkan risiko ban pecah ketika mobil melaju, termasuk saat melewati jalan basah. Ban yang benjol sebaiknya tidak terus digunakan dan perlu segera diperiksa oleh tenaga profesional. Jika kerusakannya dinilai membahayakan, penggantian menjadi langkah yang lebih aman daripada memaksakan perjalanan.

3. Mobil mudah selip dan terasa kurang stabil

ilustrasi setir mobil (pexels.com/JESHOOTS.com)

Tanda ketiga dapat dirasakan ketika mobil digunakan di jalan basah. Misalnya, bagian belakang terasa bergeser saat berbelok, mobil membutuhkan jarak lebih panjang untuk berhenti, atau kemudi terasa kurang mantap ketika melewati genangan. Gejala tersebut bisa berkaitan dengan kondisi ban, meskipun faktor lain seperti kecepatan, tekanan angin, dan kondisi suspensi juga berpengaruh.

Jika gejala itu muncul, kurangi kecepatan secara bertahap dan hindari pengereman atau perubahan arah secara mendadak. Setelah berada di tempat aman, periksa kondisi ban dan tekanan anginnya sesuai rekomendasi pabrikan. Jangan sengaja menguji ban dengan melaju cepat melewati genangan karena tindakan tersebut justru meningkatkan risiko kecelakaan.

Pada akhirnya, kondisi ban sangat menentukan keselamatan saat hujan. Pemeriksaan alur, dinding ban, dan perilaku kendaraan sebaiknya dilakukan secara rutin. Jika ditemukan tanda kerusakan atau keausan berlebihan, segera konsultasikan dengan bengkel tepercaya sebelum kembali berkendara di jalan basah.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article