Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Perbandingaan Home Charging dan SPKLU, Mana yang Lebih Ekonomis?

5 min read
5 Perbandingaan Home Charging dan SPKLU, Mana yang Lebih Ekonomis?
ilustrasi charging mobil listrik (pexels.com/DaeYeoung Ahn)
  • Home charging cenderung lebih murah per kWh: contoh 40 kWh sekitar Rp67.981 di rumah, dibanding Rp98.671 di SPKLU sebelum biaya tambahan.
  • Home charging memerlukan investasi awal seperti wall charger, penyesuaian instalasi, atau peningkatan daya; SPKLU tidak membutuhkan pemasangan pribadi, tetapi dapat mengenakan biaya layanan.
  • Untuk pemakaian rutin, tarif rumah berpotensi menutup biaya instalasi dalam jangka panjang. SPKLU unggul untuk perjalanan jauh, kebutuhan cepat, atau pengguna tanpa akses listrik rumah.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Memiliki mobil listrik memang menawarkan peluang penghematan biaya operasional, tetapi pemilihan tempat pengisian daya ternyata ikut menentukan besarnya pengeluaran. Dua pilihan yang paling umum digunakan adalah home charging atau pengisian daya di rumah dan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU). Meski sama-sama berfungsi mengisi baterai kendaraan, keduanya memiliki perbedaan biaya, kecepatan, hingga kebutuhan infrastruktur yang cukup signifikan.

Sebagian pemilik mobil listrik lebih memilih pengisian daya di rumah karena dianggap praktis dan murah untuk penggunaan sehari-hari. Sementara itu, SPKLU menawarkan fleksibilitas serta teknologi pengisian cepat yang sangat membantu ketika melakukan perjalanan jauh. Lantas, mana yang sebenarnya lebih ekonomis untuk penggunaan jangka panjang? Yuk, pahami lima perbandingan berikut agar gak salah menentukan pilihan!

  1. 1. Tarif listrik per kWh memiliki selisih cukup besar

    ilustrasi charging mobil listrik
    ilustrasi charging mobil listrik (pexels.com/Andersen EV)

    Perbedaan paling mendasar antara home charging dan SPKLU terletak pada tarif energi listrik yang digunakan untuk mengisi baterai kendaraan. Pengisian daya di rumah mengikuti tarif listrik pelanggan sesuai golongan daya terpasang, sedangkan SPKLU menggunakan tarif khusus layanan pengisian kendaraan listrik. Sebagai gambaran, PLN mencantumkan tarif energi SPKLU sebesar Rp2.466,78 per kWh, sehingga biaya pengisian publik berpotensi lebih tinggi dibanding tarif listrik rumah tangga nonsubsidi tertentu.

    Selisih tersebut akan semakin terasa ketika mobil listrik digunakan secara intensif untuk aktivitas sehari-hari. Misalnya, dengan asumsi tarif rumah tangga Rp1.699,53 per kWh, kebutuhan energi sebesar 40 kWh memerlukan biaya sekitar Rp67.981, sedangkan jumlah energi yang sama di SPKLU mencapai Rp98.671 sebelum biaya tambahan. Perhitungan ini menunjukkan bahwa home charging cenderung lebih ekonomis dari sisi tarif energi, meskipun biaya aktual tetap dipengaruhi golongan pelanggan, kehilangan energi, dan ketentuan tarif yang berlaku.

  2. 2. Biaya pemasangan awal menjadi pertimbangan penting

    ilustrasi charging mobil listrik
    ilustrasi charging mobil listrik (unsplash.com/Zaptec)

    Pengisian daya di rumah membutuhkan infrastruktur kelistrikan yang memadai agar proses pengisian baterai berlangsung aman dan stabil. Pemilik kendaraan mungkin perlu memasang perangkat wall charger, menyesuaikan instalasi listrik, atau meningkatkan kapasitas daya apabila pasokan yang tersedia belum mencukupi. Kebutuhan tersebut membuat home charging berpotensi memerlukan pengeluaran awal yang cukup besar, terutama jika kondisi kelistrikan rumah membutuhkan penyesuaian tambahan.

    Sebaliknya, penggunaan SPKLU gak mengharuskan pemilik kendaraan mengeluarkan biaya pemasangan perangkat pengisian pribadi. Seluruh infrastruktur pengisian sudah disediakan operator sehingga pengguna cukup membayar energi dan biaya layanan sesuai ketentuan. Dari sisi pengeluaran awal, SPKLU lebih menguntungkan bagi pemilik mobil listrik yang belum memiliki fasilitas pengisian di rumah atau hanya sesekali membutuhkan tambahan daya baterai.

  3. 3. Kecepatan pengisian memengaruhi efisiensi waktu

    ilustrasi charging mobil listrik
    ilustrasi charging mobil listrik (unsplash.com/Ernest Ojeh)

    Kecepatan pengisian menjadi faktor pembeda berikutnya karena berhubungan langsung dengan waktu yang harus dialokasikan pemilik kendaraan. Perangkat home charging umumnya menggunakan pengisian arus bolak-balik atau AC dengan kemampuan daya yang menyesuaikan instalasi rumah dan spesifikasi kendaraan. Proses pengisian biasanya membutuhkan waktu beberapa jam, tetapi kondisi tersebut gak terlalu mengganggu apabila kendaraan memang diparkir sepanjang malam.

    SPKLU menawarkan pilihan teknologi yang lebih beragam, termasuk fast charging dan ultra fast charging yang mampu menyalurkan daya lebih besar melalui sistem pengisian cepat. Teknologi tersebut memungkinkan baterai memperoleh tambahan energi dalam waktu lebih singkat, meskipun kecepatannya tetap bergantung pada kemampuan kendaraan dan kondisi baterai. Dari sisi efisiensi waktu, SPKLU berdaya tinggi lebih unggul untuk perjalanan jauh atau kebutuhan mendesak, sedangkan home charging lebih sesuai untuk pengisian terjadwal tanpa tekanan waktu.

  4. 4. Kehilangan energi dan biaya tambahan memengaruhi pengeluaran

    ilustrasi charging mobil listrik
    ilustrasi charging mobil listrik (unsplash.com/Marek Studzinski)

    Biaya pengisian mobil listrik gak selalu sama dengan hasil perkalian kapasitas baterai dan tarif listrik yang berlaku. Sebagian energi dapat hilang selama proses pengisian akibat konversi listrik, panas, serta konsumsi daya sistem pendukung kendaraan. Pada home charging, energi yang tercatat melalui meteran listrik rumah dapat lebih besar dibanding energi yang benar-benar tersimpan dalam baterai, sehingga biaya aktual perlu memperhitungkan efisiensi pengisian.

    Sementara itu, pengguna SPKLU juga perlu memperhatikan kemungkinan biaya layanan tambahan di luar tarif energi listrik. Beberapa fasilitas pengisian cepat dapat mengenakan biaya layanan sesuai teknologi yang digunakan dan ketentuan operator, sehingga total pembayaran berpotensi meningkat. Artinya, perbandingan ekonomis sebaiknya menggunakan total biaya transaksi dan energi yang benar-benar diterima baterai, bukan sekadar melihat tarif dasar per kWh.

  5. 5. Penggunaan jangka panjang menentukan keuntungan sebenarnya

    ilustrasi charging mobil listrik
    ilustrasi charging mobil listrik (unsplash.com/Michael Fousert)

    Penghematan biaya pengisian daya sangat dipengaruhi frekuensi penggunaan kendaraan dan jumlah energi yang dibutuhkan setiap bulan. Pemilik mobil listrik yang rutin menempuh perjalanan harian berpotensi memperoleh manfaat finansial lebih besar dari home charging karena tarif energi rumah tangga tertentu relatif lebih rendah. Semakin banyak energi yang digunakan, semakin besar pula akumulasi selisih biaya yang dapat membantu menutup pengeluaran awal pemasangan perangkat pengisian pribadi.

    Sebaliknya, SPKLU dapat menjadi pilihan lebih rasional bagi pengguna yang jarang berkendara atau belum memiliki tempat parkir pribadi dengan akses listrik memadai. Penggunaan fasilitas publik menghilangkan kebutuhan investasi perangkat, meskipun biaya pengisian per kWh berpotensi lebih mahal. Oleh karena itu, keputusan paling ekonomis bergantung pada total konsumsi listrik, biaya pemasangan, tarif yang berlaku, serta berapa lama kendaraan akan digunakan.

    Secara keseluruhan, home charging cenderung lebih ekonomis untuk penggunaan mobil listrik secara rutin karena menawarkan potensi penghematan tarif energi dalam jangka panjang. Namun, SPKLU tetap memiliki keunggulan dari sisi kecepatan, fleksibilitas, dan kemudahan akses tanpa perlu investasi perangkat pengisian pribadi. Memahami kebutuhan berkendara serta menghitung seluruh komponen biaya menjadi langkah penting agar keputusan pengisian daya benar-benar memberikan keuntungan finansial.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Dari Kebun Nilam ke Pasar Dunia

Related Articles

See More