Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Alasan Baterai Mobil Listrik Lebih Cepat Habis Saat Melaju di Tol

Alasan Baterai Mobil Listrik Lebih Cepat Habis Saat Melaju di Tol
ilustrasi mobil listrik (pexels.com/Hyundai Motor Group)
Intinya Sih
  • Hambatan udara meningkat drastis di kecepatan tinggi membuat motor listrik bekerja lebih keras dan menguras daya baterai lebih cepat dibandingkan saat berkendara di kota.
  • Di jalan tol, sistem pengereman regeneratif jarang aktif karena minimnya proses berhenti, sehingga baterai terus mengeluarkan energi tanpa kesempatan untuk mengisi ulang daya.
  • Kecepatan tinggi memicu panas berlebih pada motor dan baterai, memaksa sistem pendingin bekerja ekstra serta menambah konsumsi daya dari fitur kenyamanan seperti AC.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Penggunaan kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) di jalur perkotaan sering kali menunjukkan efisiensi yang luar biasa berkat sistem pengereman regeneratif yang terus mengisi ulang daya saat terjadi kemacetan. Namun, situasi akan berubah drastis ketika mobil bertenaga baterai tersebut dibawa melaju konstan di jalan tol dengan kecepatan tinggi.

Banyak pemilik kendaraan listrik merasa terkejut saat melihat persentase baterai menurun jauh lebih cepat dibandingkan saat berkendara di rute dalam kota. Fenomena ini memicu pertanyaan teknis mengenai mekanisme pengurasan energi yang terjadi di dalam sel baterai ketika motor listrik dipaksa bekerja pada putaran tinggi tanpa adanya jeda istirahat untuk pemulihan daya secara mandiri.

1. Hambatan aerodinamis dan inersia pada kecepatan tinggi

ilustrasi jalan tol (vecteezy.com/khoidir76)
ilustrasi jalan tol (vecteezy.com/khoidir76)

Penyebab utama terkurasnya daya baterai di jalan tol adalah hambatan udara atau drag force yang meningkat secara eksponensial terhadap kecepatan. Ketika sebuah mobil melaju dua kali lebih cepat, hambatan udara yang harus dilawan oleh mesin tidak hanya naik dua kali lipat, melainkan meningkat hingga empat kali lipat. Motor listrik harus mengeluarkan arus listrik yang sangat besar secara terus-menerus untuk menjaga momentum kendaraan agar tetap stabil melawan terpaan angin dari depan.

Pada kecepatan rendah di perkotaan, hambatan aerodinamis ini hampir tidak berpengaruh signifikan terhadap konsumsi energi. Namun, saat mobil menyentuh kecepatan di atas 100 km/jam, sebagian besar energi dari baterai habis hanya untuk membelah udara. Berbeda dengan mobil bermesin bensin yang memiliki transmisi multi-percepatan untuk menjaga putaran mesin tetap rendah di kecepatan tinggi, mayoritas mobil listrik hanya menggunakan transmisi satu percepatan yang membuat motor listrik berputar sangat cepat dan mengonsumsi lebih banyak daya.

2. Absennya sistem pengereman regeneratif di jalur bebas hambatan

ilustrasi jalan tol (pexels.com/Franco Garcia)
ilustrasi jalan tol (pexels.com/Franco Garcia)

Salah satu keunggulan utama kendaraan listrik adalah teknologi regenerative braking, di mana motor listrik berubah fungsi menjadi generator saat pedal gas dilepas atau rem diinjak. Di dalam kota yang penuh dengan lampu merah dan kemacetan, sistem ini sangat efektif untuk mengembalikan sebagian energi kinetik kembali ke dalam baterai, sehingga jarak tempuh menjadi lebih awet. Namun, di jalan tol, pola berkendara cenderung stabil dan jarang sekali terjadi proses pengereman.

Tanpa adanya momen berhenti atau melambat, baterai hanya mengalami proses pengeluaran daya (discharging) secara konstan tanpa ada input pengisian ulang dari pengereman. Hal ini membuat siklus energi menjadi searah dan sangat menguras cadangan listrik di dalam sel baterai. Kondisi melaju tanpa henti ini secara teknis merupakan skenario paling tidak ideal bagi sistem manajemen energi mobil listrik yang dirancang untuk mendapatkan keuntungan dari pola berkendara yang dinamis dan fluktuatif.

3. Beban suhu tinggi pada sistem manajemen termal baterai

penggerak BYD Sealion 7 (byd.com)
penggerak BYD Sealion 7 (byd.com)

Melaju kencang di jalan tol dalam waktu yang lama menyebabkan motor listrik dan baterai bekerja pada beban puncak, yang secara otomatis menghasilkan panas berlebih. Untuk menjaga agar komponen kimia di dalam baterai tidak mengalami kerusakan atau degradasi akibat suhu tinggi, sistem pendingin aktif pada mobil listrik akan bekerja dengan intensitas maksimal. Pompa cairan pendingin dan kipas radiator elektrik akan menyedot daya yang cukup besar dari baterai utama untuk menurunkan suhu sistem.

Beban tambahan dari sistem manajemen termal ini sering kali tidak disadari oleh pengemudi sebagai salah satu faktor pemborosan energi. Selain itu, penggunaan fitur kenyamanan seperti AC yang diatur pada suhu sangat dingin saat menembus cuaca panas di jalan tol juga menambah beban arus listrik secara kumulatif. Gabungan antara hambatan udara yang berat, absennya pengisian regeneratif, dan kebutuhan pendinginan komponen inilah yang membuat jarak tempuh mobil listrik menyusut drastis saat dipacu kencang di rute luar kota.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Dwi Agustiar
EditorDwi Agustiar
Follow Us

Latest in Automotive

See More