Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Amankah Menggunakan Bensin Pertalite di Mobil Hybrid?

Amankah Menggunakan Bensin Pertalite di Mobil Hybrid?
Ilustrasi mobil hybrid (pexels.com/Gustavo Fring)
Intinya Sih
Gini Kak
  • Mobil hybrid umumnya memiliki rasio kompresi tinggi sehingga tidak disarankan memakai Pertalite karena risiko knocking yang bisa merusak piston dan silinder.
  • Pertalite dapat menurunkan efisiensi sistem hibrida, membuat motor listrik bekerja lebih berat, konsumsi bahan bakar meningkat, serta emisi gas buang bertambah.
  • Penggunaan Pertalite berpotensi menggugurkan garansi resmi karena pabrikan mewajibkan bahan bakar minimal oktan 92 sesuai spesifikasi kendaraan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Teknologi mobil hibrida atau hybrid kini semakin banyak diminati masyarakat karena menawarkan efisiensi bahan bakar yang tinggi serta emisi gas buang yang lebih rendah. Sistem kendaraan ini memadukan kinerja mesin pembakaran internal konvensional dengan motor listrik bertenaga baterai untuk menggerakkan roda. Efisiensi yang tinggi tersebut sering kali membuat pemilik kendaraan tergoda untuk semakin menekan biaya operasional dengan memilih bahan bakar bersubsidi jenis Pertalite.

Namun, sebelum memutuskan untuk mengisi tangki kendaraan hibrida dengan bahan bakar bernilai oktan 90 tersebut, ada banyak aspek teknis yang perlu dipahami secara mendalam. Kebijakan mengenai boleh atau tidaknya penggunaan Pertalite ini sangat bergantung pada spesifikasi mekanis yang telah ditetapkan oleh pabrikan masing-masing merek. Mengabaikan panduan resmi bahan bakar berisiko merusak sistem penggerak ganda yang memiliki konfigurasi rumit ini.

1. Spesifikasi rasio kompresi tinggi pada mesin mobil hybrid

ilustrasi mesin mobil hybrid (auto2000.co.id)
ilustrasi mesin mobil hybrid (auto2000.co.id)

Alasan utama mengapa sebagian besar mobil hybrid tidak disarankan menggunakan Pertalite terletak pada desain rasio kompresi mesin pembakaran internalnya. Demi mencapai efisiensi termal yang optimal, mesin modern pada kendaraan hibrida umumnya dirancang dengan rasio kompresi yang sangat tinggi, biasanya di atas sebelas banding satu. Beberapa model bahkan menerapkan siklus kerja Atkinson yang membutuhkan bahan bakar dengan ketahanan tekanan yang sangat baik agar pembakaran berjalan sempurna.

Bahan bakar jenis Pertalite memiliki nilai oktan rendah yang membuatnya lebih mudah terbakar secara prematur akibat tekanan tinggi sebelum busi memercikkan api. Ketika bensin bersubsidi ini dipaksakan masuk ke mesin berkompresi tinggi, akan terjadi fenomena ledakan tidak terkendali yang biasa disebut dengan istilah knocking atau mesin menggelitik. Hantaman gelombang kejut dari knocking yang terjadi secara terus-menerus ini lambat laun akan merusak permukaan piston dan dinding silinder kendaraan.

2. Penurunan efisiensi sistem hibrida dan peningkatan emisi gas buang

ilustrasi knalpot mobil (vecteezy.com/Khunkorn Laowisit)
ilustrasi knalpot mobil (vecteezy.com/Khunkorn Laowisit)

Penggunaan Pertalite secara langsung juga akan mengacaukan kalkulasi komputer eksternal yang mengatur pembagian daya antara mesin bensin dan motor listrik. Sistem komputer mobil akan mendeteksi terjadinya pembakaran yang tidak sempurna akibat kualitas bahan bakar yang berada di bawah standar. Sebagai bentuk perlindungan mandiri, komputer akan memundurkan waktu pengapian mesin, yang sayangnya berdampak pada penurunan tenaga mekanis secara drastis.

Penurunan tenaga mesin bensin ini memaksa motor listrik dan baterai bekerja lebih keras dari porsi yang seharusnya untuk menjaga kecepatan kendaraan. Akibatnya, daya baterai hibrida akan lebih cepat terkuras habis dan konsumsi bahan bakar justru menjadi jauh lebih boros dibandingkan saat menggunakan bensin beroktan tinggi. Selain itu, proses pembakaran setengah matang dari Pertalite akan menghasilkan lebih banyak residu jelaga hitam yang meningkatkan emisi gas buang secara signifikan.

3. Ancaman hilangnya garansi resmi dari pihak agen pemegang merek

ilustrasi pembelian mobil bekas (pexels.com/Antoni Shkraba)
ilustrasi pembelian mobil bekas (pexels.com/Antoni Shkraba)

Faktor nonteknis yang tidak kalah penting untuk dipertimbangkan adalah masalah regulasi garansi kendaraan yang diberikan oleh pabrikan mobil. Di dalam buku manual resmi, produsen mobil hybrid biasanya memberikan instruksi tegas bahwa kendaraan minimal harus menggunakan bahan bakar bernilai oktan 92 atau sekelas Pertamax. Setiap riwayat pengisian dan dampak kerusakan akibat salah memilih jenis bahan bakar dapat dideteksi dengan mudah oleh mekanis bengkel resmi melalui pemindaian komputer.

Jika ditemukan kerusakan komponen mesin yang disebabkan oleh penggunaan Pertalite, pihak agen pemegang merek berhak menolak klaim garansi yang diajukan. Biaya perbaikan untuk kerusakan jeroan mesin atau sistem injeksi yang tersumbat residu bensin murah tentu sangat mahal dan menguras kantong. Oleh karena itu, menggunakan bahan bakar nonsubsidi yang sesuai spesifikasi bukan lagi sekadar pilihan, melainkan investasi wajib demi menjaga ketahanan mobil hybrid jangka panjang.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Curated For You
Topics
Editorial Team
Dwi Agustiar
EditorDwi Agustiar

Related Articles

See More