Kebijakan Baru Malaysia Perketat Impor EV China Termasuk BYD

- Pemerintah Malaysia memperketat impor kendaraan listrik CBU mulai Juli 2026 dengan syarat harga minimal 200.000 ringgit dan daya motor di atas 180kW, memukul merek China seperti BYD.
- Produsen China kesulitan beralih ke produksi lokal karena aturan baru mewajibkan ekspor 80% hasil produksi dan batas harga minimum 100.000 ringgit, membuat proyek pabrik BYD di Perak terhenti.
- Beberapa produsen seperti Leapmotor dan Xpeng memilih strategi kemitraan lokal agar tetap bisa beroperasi tanpa terkena kewajiban ekspor tinggi, memanfaatkan fasilitas manufaktur yang sudah ada.
Pemerintah Malaysia resmi memperketat regulasi impor untuk kendaraan listrik murni (Completely Built-Up/CBU). Langkah ini secara signifikan mempersempit ruang gerak bagi produsen otomotif asal China, termasuk raksasa EV seperti BYD yang selama ini mendominasi pasar kendaraan energi baru di negara tersebut.
Berdasarkan laporan dari situs carnewschina.com, aturan baru yang mulai berlaku per 1 Juli 2026 ini menerapkan batasan ketat yang menyasar segmen harga dan spesifikasi teknis. Kendaraan listrik impor kini diwajibkan memenuhi nilai Cost, Insurance, and Freight (CIF) minimal sebesar 200.000 ringgit (sekitar 49.160 USD) serta memiliki daya motor tidak kurang dari 180kW. Kebijakan ini tentu memukul telak merek China yang selama ini mengandalkan efisiensi harga.
1. Dampak Langsung pada Model Populer BYD

Aturan baru ini menjadi hambatan besar bagi model-model andalan dari Negeri Tirai Bambu. Data dari Departemen Transportasi Jalan Malaysia (JPJ) menunjukkan bahwa merek China (di luar Proton milik Geely) sebenarnya menguasai sekitar 60% pasar kendaraan energi baru di Malaysia pada tahun 2025. Namun, dengan ambang batas baru ini, banyak model populer yang otomatis tidak lagi memenuhi syarat untuk diimpor.
Sebagai contoh, lini kendaraan BYD di Malaysia saat ini terdiri dari tujuh model yang semuanya memiliki harga awal di bawah 200.000 ringgit. Bahkan model terlaris seperti BYD Dolphin dan varian dasar Atto 3 memiliki daya motor di bawah syarat minimum 180kW. Selain BYD, model populer lain dari kompetitor seperti Zeekr 7X dan Chery Omoda E5 juga terjebak dan tidak bisa lagi didatangkan ke Malaysia dalam kondisi utuh.
2. Hambatan Produksi Lokal dan Syarat Ekspor 80 persen

Upaya untuk beralih ke produksi lokal (Completely Knocked Down/CKD) juga tidak berjalan mudah bagi para produsen China. Pemerintah Malaysia memberlakukan syarat yang sangat ketat untuk proyek manufaktur baru yang disetujui setelah 1 September 2025. Aturan tersebut menetapkan harga mobil minimum sebesar 100.000 ringgit dan mewajibkan proses pengelasan, pengecatan, hingga perakitan akhir dilakukan sepenuhnya di dalam negeri.
Lebih berat lagi, ada mandat ekspor yang mewajibkan produsen mengapalkan minimal 80% dari hasil produksi mereka ke luar negeri, sementara penjualan lokal dibatasi hanya 20%. Hal ini membuat rencana pembangunan pabrik CKD BYD di Tanjung Malim, Perak, dilaporkan terhenti. Analis menilai target ekspor 80% tersebut sangat tidak realistis bagi BYD, mengingat mereka sudah memiliki basis produksi besar di Thailand, Indonesia, dan China.
3. Siasat Kemitraan Lokal Jadi Solusi Alternatif

Di tengah ketatnya regulasi baru, sejumlah perusahaan otomotif China memilih strategi lain dengan memanfaatkan infrastruktur dan kemitraan lokal yang sudah ada. Cara ini terbukti efektif karena fasilitas lama tidak terikat dengan aturan wajib ekspor 80% yang dibebankan pada proyek baru. Pemerintah Malaysia sendiri menegaskan bahwa rangkaian kebijakan ini dirancang demi mendorong investasi berkualitas tinggi serta transfer teknologi.
Contoh sukses dari strategi ini terlihat pada Leapmotor yang telah memulai perakitan lokal untuk model C10 di pabrik Gurun, Kedah, dengan memanfaatkan fasilitas milik Stellantis. Langkah serupa juga diambil oleh Xpeng yang mengumumkan dimulainya produksi model kemudi kanan G6 berkolaborasi dengan manufaktur lokal, EPMB. Siasat cerdas ini menjadi celah bagi sebagian produsen untuk tetap menjaga eksistensi mereka di pasar Malaysia.
















