Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

China Wajibkan Fitur Pengereman Darurat Otomatis pada Kendaraan Komersial

ilustrasi truk berjalan di jalan tol (pexels.com/craigadderley)
ilustrasi truk berjalan di jalan tol (pexels.com/craigadderley)
Intinya sih...
  • Perluasan cakupan standar nasional untuk kendaraan niaga ringan
    • Standar wajib pertama di China untuk sistem bantuan mengemudi canggih berlaku pada 1 Januari 2028.
    • Aturan ini mencakup kendaraan komersial ringan kategori N1 seperti truk pikap dan truk mini dengan bobot maksimal 3,5 ton.
    • Kehadiran standar ini mengubah status AEB dari fitur tambahan menjadi perlengkapan wajib di setiap unit kendaraan baru.
    • Fokus perlindungan bagi pengguna jalan yang rentan
      • Sistem AEB kini diwajibkan untuk mampu mendeteksi serta
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Pemerintah China baru saja menetapkan kebijakan revolusioner terkait standar keselamatan jalan raya dengan mewajibkan sistem pengereman darurat otomatis atau Automatic Emergency Braking (AEB) pada kendaraan komersial ringan. Peraturan ini menandai langkah maju dalam upaya negara tersebut menekan angka kecelakaan lalu lintas melalui integrasi teknologi bantuan pengemudi tingkat lanjut.

Langkah ini memperluas cakupan perlindungan keamanan yang sebelumnya hanya berfokus pada mobil penumpang pribadi kini mencakup armada pengangkut logistik dan operasional. Dengan beralihnya fitur ini dari pilihan opsional menjadi standar wajib, industri otomotif di China bersiap menghadapi era baru di mana kecerdasan buatan menjadi garda terdepan dalam melindungi nyawa manusia.

1. Perluasan cakupan standar nasional untuk kendaraan niaga ringan

ilustrasi truk tanpa moncong (pexels.com/Mert Dinçer)
ilustrasi truk tanpa moncong (pexels.com/Mert Dinçer)

Berdasarkan laporan yang dilansir dari carnewschina.com, standar nasional wajib pertama di China untuk sistem bantuan mengemudi canggih (GB 39901—2025) akan resmi berlaku pada 1 Januari 2028. Untuk pertama kalinya, aturan ini tidak hanya berlaku bagi kendaraan kategori M1 (sedan, SUV, dan MPV), tetapi juga mencakup kendaraan komersial ringan kategori N1 seperti truk pikap dan truk mini dengan bobot maksimal 3,5 ton.

Perluasan ini menambah jangkauan regulasi hingga 30 persen lebih luas dibanding peraturan sebelumnya. Hal ini mencerminkan keseriusan pemerintah dalam memastikan bahwa kendaraan operasional, yang seringkali memiliki intensitas penggunaan tinggi di jalan raya, dilengkapi dengan sensor kamera dan radar milimeter untuk memantau risiko tabrakan secara real-time. Kehadiran standar ini mengubah status AEB dari fitur tambahan menjadi perlengkapan wajib di setiap unit kendaraan baru yang keluar dari pabrik.

2. Fokus perlindungan bagi pengguna jalan yang rentan

ilustrasi truk di lajur kiri (pexels.com/mikebird)
ilustrasi truk di lajur kiri (pexels.com/mikebird)

Salah satu poin paling krusial dalam standar baru ini adalah peningkatan kemampuan sistem dalam mengenali target yang lebih kecil dan dinamis. Sistem AEB kini diwajibkan untuk mampu mendeteksi serta merespons pergerakan pejalan kaki, pengendara sepeda, hingga pengguna skuter. Teknologi ini harus memberikan peringatan serta melakukan pengereman otomatis saat mendeteksi adanya pengguna jalan yang melintas dalam rentang kecepatan 20 hingga 60 km/jam.

Data menunjukkan bahwa lebih dari 30 persen kecelakaan kendaraan ringan di China melibatkan benturan dengan pejalan kaki dan pesepeda. Selain itu, banyak insiden fatal terjadi pada rentang kecepatan 60 hingga 80 km/jam. Dengan mandat baru ini, sistem diharapkan dapat bekerja lebih responsif dalam menghindari atau setidaknya memitigasi dampak benturan, sehingga tingkat fatalitas akibat kecelakaan lalu lintas dapat berkurang secara signifikan di masa mendatang.

3. Transformasi industri otomotif menuju standar keselamatan global

ilustrasi truk berjalan di lajur kanan jalan tol (pexels.com/uhgo)
ilustrasi truk berjalan di lajur kanan jalan tol (pexels.com/uhgo)

Perubahan regulasi dari standar yang bersifat "rekomendasi" (GB/T) menjadi "wajib" (GB) menunjukkan kedewasaan industri otomotif China dalam mengadopsi teknologi keselamatan. Pada tahun 2025, tingkat penetrasi fitur AEB pada mobil penumpang baru di negara tersebut sebenarnya sudah cukup tinggi, yakni melampaui angka 60 persen. Namun, melalui kebijakan ini, pemerintah ingin memastikan tidak ada kesenjangan teknologi keselamatan antara mobil mewah dan kendaraan komersial ringan.

Strategi ini juga sejalan dengan ambisi China untuk memimpin pasar kendaraan energi baru dan teknologi kemudi otonom secara global. Dengan menjadikan AEB sebagai standar dasar, pabrikan otomotif didorong untuk terus berinovasi dalam memproduksi sensor yang lebih akurat dan perangkat lunak yang lebih cerdas. Langkah ini diharapkan tidak hanya menciptakan ekosistem berkendara yang lebih aman di dalam negeri, tetapi juga meningkatkan standar kualitas produk otomotif China saat diekspor ke berbagai belahan dunia lainnya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Dwi Agustiar
EditorDwi Agustiar
Follow Us

Latest in Automotive

See More

Cetak Rekor! Xiaomi SU7 Ultra Jadi Mobil China Pertama di Gran Turismo 7

30 Jan 2026, 07:05 WIBAutomotive