Penjualan Merosot, Audi Mendadak Tutup Banyak Dealer di China

Industri otomotif mewah di China tengah diguncang kabar mengejutkan mengenai penutupan mendadak sejumlah jaringan dealer resmi Audi. Penurunan angka penjualan yang signifikan serta margin keuntungan yang terus tergerus memaksa banyak diler di berbagai provinsi, seperti Henan, Beijing, hingga Zhejiang, untuk menghentikan operasional mereka secara permanen.
Fenomena ini mencerminkan tekanan besar yang dihadapi merek otomotif global di tengah sengitnya persaingan pasar domestik China. Selain berdampak pada angka penjualan perusahaan, krisis ini juga meninggalkan kerugian nyata bagi para pemilik kendaraan yang baru saja melakukan pembelian namun harus kehilangan akses terhadap layanan purna jual yang telah mereka bayar di muka.
1. Dampak penutupan bagi konsumen dan karyawan

Berdasarkan laporan yang dilansir dari carnewschina, banyak pemilik Audi di Kaifeng melaporkan bahwa dealer Jin’ao Audi telah tutup secara tiba-tiba pada awal Januari 2026. Hal ini memicu keresahan karena paket perawatan jangka panjang yang dibeli seharga 2.400 hingga 2.700 USD kini tidak lagi bisa digunakan. Beberapa konsumen bahkan baru saja memiliki mobil mereka selama enam bulan sebelum dealer tersebut mencabut otorisasi dari jaringan FAW-Audi.
Krisis ini tidak hanya memukul konsumen, tetapi juga para pekerja. Karyawan dealer dilaporkan tengah menempuh jalur hukum untuk menuntut gaji yang belum dibayarkan oleh pihak pengelola. Layanan pelanggan FAW-Audi mengonfirmasi bahwa dealer terkait telah keluar dari jaringan resmi sejak November 2025, dan menyarankan pemilik kendaraan untuk mencari upaya hukum mandiri guna mendapatkan kembali hak-hak mereka.
2. Tren penurunan penjualan selama dua tahun berturut-turut

Data menunjukkan bahwa performa Audi di China sedang dalam tren mengkhawatirkan. Pada tahun 2025, total penjualan Audi merosot 5 persen secara tahunan dengan total 617.500 unit. Ini menandai tahun kedua berturut-turut Audi mengalami penurunan volume penjualan di pasar China, yang merupakan salah satu wilayah terpenting bagi strategi pertumbuhan global mereka.
Meski FAW-Audi mengklaim sempat menduduki posisi puncak pasar mobil mewah berbahan bakar bensin (ICE), angka penjualan riil menunjukkan kenyataan yang berbeda. Penjualan mobil bensin Audi justru turun 6,7% dibandingkan tahun sebelumnya. Penurunan ini mencerminkan pergeseran preferensi konsumen China yang mulai beralih dari mobil mewah tradisional menuju kendaraan energi baru (NEV) yang lebih canggih dan efisien.
3. Diskon drastis dan strategi pemulihan di tahun 2026

Untuk bertahan di tengah tekanan pasar, Audi telah meluncurkan kampanye potongan harga yang sangat agresif. Beberapa dealer kini menawarkan Audi A3 model 2026 dengan harga mulai dari 15.300 USD, yang setara dengan diskon fantastis sebesar 40%. Bahkan, model Audi Q3 dan SUV listrik Q4 e-tron ditawarkan dengan potongan harga hingga 50% dari harga normal demi menghabiskan stok dan menjaga arus kas.
Menatap sisa tahun 2026, Audi mencoba bangkit dengan mengandalkan teknologi terbaru. FAW-Audi berencana meluncurkan Audi A6L terbaru dan Audi A6L e-tron, sedan listrik pertama yang dibangun di atas arsitektur Premium Platform Electric (PPE) khusus untuk pasar China. Langkah ini diharapkan mampu mengembalikan kepercayaan konsumen dan memperbaiki posisi Audi dalam persaingan ketat melawan dominasi produsen mobil listrik lokal.
Apakah Anda ingin saya mencarikan informasi mengenai daftar dealer Audi lainnya yang masih beroperasi secara stabil di wilayah utama China untuk memastikan keamanan layanan purna jual?


















