Biaya Harian Mobil Konversi BBG Lebih Ringan, Per Liter Cuma Rp4.500!

- Kenaikan harga BBM mendorong pemilik kendaraan beralih ke BBG karena biaya operasional bisa turun lebih dari separuh dibanding bensin.
- Harga BBG sekitar Rp4.500 per liter setara BBM, membuat pengeluaran perjalanan harian jauh lebih hemat hingga 55 persen.
- BBG dinilai cocok untuk mobilitas dalam kota dengan pola stop-and-go, meski pengguna perlu memperhatikan lokasi dan waktu pengisian SPBG.
Jakarta, IDN Times - Kenaikan harga BBM membuat sebagian pemilik kendaraan mulai melirik bahan bakar gas (BBG) sebagai alternatif. Selain lebih murah, biaya operasional kendaraan yang sudah dikonversi ke BBG disebut bisa turun hingga lebih dari separuh dibanding penggunaan bensin.
Ketua Umum Komunitas Mobil Gas (Komogas), Andy Lala mengatakan, efisiensi menjadi alasan utama banyak pengguna mulai beralih ke BBG. Menurut dia, selisih harga bahan bakar memberikan dampak signifikan terhadap pengeluaran harian kendaraan.
1. Penghematan diklaim bisa mencapai 55 persen

Andy menyebut penggunaan BBG dapat memangkas biaya operasional hingga sekitar 55 persen dibanding bensin.
“Sekitar 55 persen lebih hemat dari sisi biaya,” ujar Andy kepada IDN Times, Selasa (5/5/2026).
Saat ini, harga BBG berada di kisaran Rp4.500 per liter setara BBM. Angka tersebut jauh di bawah harga bensin nonsubsidi yang terus mengalami kenaikan dalam beberapa waktu terakhir.
2. Biaya perjalanan bisa turun drastis

Andy mengaku sudah menggunakan BBG di beberapa kendaraan pribadinya. Ia bahkan membandingkan langsung biaya perjalanan menggunakan BBG dengan kendaraan berbahan bakar konvensional.
“Biasanya kalau saya naik Hyundai H1 (yang sudah dikonversi BBG), Rp100 ribu ke Bandung. Kalau pakai Ertiga yang sudah dikonversi BBG, sekitar Rp50 ribu ke Bandung,” katanya.
Menurut dia, efisiensi tersebut membuat BBG mulai dilirik pengguna kendaraan harian, terutama yang memiliki mobilitas tinggi di perkotaan.
3. Dinilai cocok untuk penggunaan dalam kota

Selain lebih murah, BBG dinilai cukup ideal untuk penggunaan harian di area perkotaan. Karakter stop-and-go saat macet membuat perbedaan performa dibanding bensin tidak terlalu terasa.
“Kalau di perkotaan cocok banget, karena kita stop and go doang,” ujar Andy.
Meski begitu, ia mengingatkan pengguna tetap perlu menyesuaikan pola penggunaan kendaraan, termasuk memahami lokasi SPBG dan waktu pengisian agar tidak terjebak antrean panjang.



















