Geely Raup 93 Persen Laba dari Ekspor, Pasar China Tipis

Geely membukukan pendapatan 99 miliar yuan dan laba inti 5,21 miliar yuan pada kuartal III 2026, dengan ekspor menyumbang 92,9 persen laba meski volumenya 39,8 persen.
Penjualan domestik Geely yang melebihi 60 persen volume hanya menyumbang 7,1 persen laba, mencerminkan margin tipis akibat persaingan harga, tekanan biaya, dan banyaknya pemain di China.
Geely menaikkan target ekspor 2026 menjadi 920.000 unit, didukung lonjakan ekspor NEV; BYD juga mencatat pertumbuhan pendapatan, laba, dan ekspor NEV sebagai mesin pertumbuhan.
Persaingan industri otomotif China semakin ketat. Besarnya penjualan mobil ternyata tidak selalu berbanding lurus dengan keuntungan yang diperoleh produsen. Kondisi ini terlihat dari laporan keuangan Geely Auto kuartal III 2026 yang menunjukkan bahwa pasar ekspor justru menjadi sumber utama laba perusahaan.
Pada 29 Oktober 2026, Geely melaporkan pendapatan sebesar 99 miliar yuan atau sekitar US$14,8 miliar. Perusahaan juga mencatat laba bersih inti yang diatribusikan kepada induk sebesar 5,21 miliar yuan atau sekitar 777,6 juta dolar US. Namun, jika ditelusuri lebih jauh, sebagian besar keuntungan tersebut ternyata berasal dari penjualan di luar China.
1. Ekspor menyumbang hampir seluruh laba Geely

Diler Geely Elite Bekasi (Dok. Geely) Berdasarkan laporan keuangan yang dikutip CarNewsChina.com, Geely menjual total 812.500 kendaraan pada kuartal III 2026. Dari jumlah tersebut, sekitar 323.700 unit merupakan kendaraan yang diekspor, setara 39,8 persen dari total penjualan. Angka ekspor ini menghasilkan laba bersih sekitar 4,84 miliar yuan atau US$722,4 juta.
Artinya, ekspor yang hanya menyumbang sekitar 39,8 persen volume penjualan justru menghasilkan sekitar 92,9 persen dari total laba bersih inti perusahaan. Sebaliknya, penjualan domestik di China yang porsinya lebih dari 60 persen hanya menyumbang sekitar 7,1 persen keuntungan. Gambaran ini memperlihatkan betapa tipisnya keuntungan dari penjualan mobil di pasar domestik yang sangat kompetitif.
Kondisi tersebut juga menjelaskan mengapa volume penjualan besar belum tentu menjamin profitabilitas. Persaingan harga, tekanan biaya, dan banyaknya pemain di pasar kendaraan China membuat produsen harus bekerja lebih keras untuk mempertahankan margin keuntungan.
2. Geely menaikkan target ekspor tahunan

Kolaborasi Geely dengan HSR Wheel (Dok. Geely) Kinerja ekspor yang kuat membuat Geely menaikkan target pengiriman kendaraan ke luar negeri. Target awal sebesar 640.000 unit kini ditingkatkan menjadi 920.000 unit untuk sepanjang 2026. Langkah ini menunjukkan bahwa pasar internasional semakin penting bagi pertumbuhan bisnis perusahaan.
Kendaraan energi baru atau new energy vehicles (NEV) menjadi salah satu penopang utama ekspansi tersebut. Sepanjang sembilan bulan pertama 2026, Geely telah mengekspor 484.000 unit NEV. Jumlah ini melonjak 531 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan tersebut memperlihatkan meningkatnya permintaan terhadap produk elektrifikasi Geely di pasar global.
3. BYD juga mengandalkan pasar internasional

BYD M6 (byd.com) Pada hari yang sama, BYD, produsen kendaraan energi baru terbesar di China, turut mengumumkan kinerja keuangan kuartal III 2026. Perusahaan membukukan pendapatan 221,49 miliar yuan atau sekitar 33,1 miliar dolar US naik 13,59 persen secara tahunan. Laba bersihnya mencapai 10,02 miliar yuan atau sekitar US$1,5 miliar, meningkat 28,08 persen.
BYD memang tidak merinci kontribusi laba dari aktivitas ekspor. Namun, perusahaan menyebut penjualan luar negeri telah menjadi salah satu mesin pertumbuhan utama. Pada September 2026 saja, ekspor NEV BYD menembus 180.700 unit, meningkat sekitar 153,6 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Data Geely dan BYD memperlihatkan bahwa pasar internasional semakin strategis bagi produsen otomotif China. Di tengah persaingan harga yang ketat di dalam negeri, ekspor menawarkan peluang pertumbuhan sekaligus keuntungan yang lebih besar.




















