Cuan Mobil Listrik China Kini Bergantung pada Ekspor? Ini Faktanya

- Geely mencatat 39,8% penjualan kuartal III 2026 dari ekspor, tetapi pasar internasional menyumbang sekitar 92,9% laba inti di tengah tekanan harga domestik.
- BYD membukukan laba bersih 10,02 miliar yuan pada kuartal III 2026; ekspor sembilan bulan melampaui 1,3 juta kendaraan dan membantu mengimbangi pelemahan permintaan domestik.
- Pasar China tetap utama bagi Geely dan BYD, sementara ekspansi global diperkuat melalui pertimbangan produksi lokal untuk menghadapi hambatan perdagangan di negara tujuan.
Industri mobil listrik China sedang menghadapi situasi yang menarik. Di satu sisi, produsen otomotifnya mampu menjual kendaraan dalam jumlah besar. Namun, persaingan harga di pasar domestik semakin ketat sehingga penjualan tinggi tidak selalu menghasilkan keuntungan yang sepadan. Karena itu, pasar luar negeri kini menjadi salah satu tumpuan penting bagi pabrikan China.
Geely dan BYD menjadi dua contoh yang memperlihatkan perubahan strategi tersebut. Keduanya semakin agresif memperluas pasar internasional. Data keuangan terbaru bahkan menunjukkan bahwa ekspor bukan sekadar tambahan penjualan, melainkan mulai berperan besar dalam menopang pertumbuhan bisnis mereka.
1. Geely memperoleh sebagian besar laba dari ekspor

Mobil baru Geely (galaxy-geely.com) Laporan keuangan Geely Auto kuartal III 2026 memperlihatkan betapa pentingnya pasar internasional. Perusahaan mencatat pendapatan sebesar 98,96 miliar yuan atau sekitar US$14,8 miliar, dengan laba bersih inti 5,21 miliar yuan. Dari total penjualan 812.500 kendaraan, sekitar 323.700 unit dikirim ke luar China. Jumlah tersebut setara 39,8 persen dari keseluruhan penjualan.
Menariknya, ekspor tersebut dilaporkan menghasilkan laba bersih sekitar 4,84 miliar yuan. Artinya, sekitar 92,9 persen laba inti Geely pada kuartal itu berasal dari pasar internasional. Sementara itu, penjualan domestik yang menyumbang lebih dari 60 persen volume penjualan hanya berkontribusi sekitar 7,1 persen terhadap laba. Data yang dikutip CarNewsChina.com ini menunjukkan bahwa pasar China sangat kompetitif dan menekan keuntungan produsen.
Geely juga mencatat pertumbuhan ekspor kendaraan energi baru atau new energy vehicles (NEV). Dalam sembilan bulan pertama 2026, ekspor NEV mencapai 484.000 unit, meningkat 531 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Perusahaan bahkan menaikkan target ekspor tahunannya.
2. BYD juga semakin mengandalkan pasar luar negeri

BYD Sealion 7 (byd.com) BYD menghadapi kondisi yang tidak jauh berbeda. Pada kuartal III 2026, produsen mobil listrik terbesar China tersebut membukukan pendapatan 221,49 miliar yuan atau sekitar US$33,1 miliar. Laba bersihnya mencapai 10,02 miliar yuan, tumbuh 28,08 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Meski demikian, pertumbuhan bisnis di luar negeri semakin penting ketika persaingan domestik memanas.
Pada September 2026, BYD mengekspor 180.700 kendaraan energi baru. Angka ini meningkat sekitar 153,6 persen secara tahunan. Secara keseluruhan, ekspor BYD selama sembilan bulan pertama 2026 mencapai lebih dari 1,3 juta kendaraan, hampir dua kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Penjualan luar negeri membantu mengimbangi pelemahan permintaan di pasar domestik.
3. Ekspor penting, tetapi belum berarti pasar China ditinggalkan

ilustrasi BYD M6 (byd.com) Meski kontribusinya meningkat, bukan berarti produsen mobil listrik China sepenuhnya bergantung pada ekspor. Pasar domestik tetap sangat besar dan menjadi arena utama bagi produsen seperti BYD dan Geely. BYD, misalnya, masih memiliki pangsa sekitar 22 persen di pasar kendaraan energi baru China. Pertumbuhan ekspor lebih tepat dilihat sebagai strategi untuk memperluas sumber pendapatan sekaligus mengurangi tekanan persaingan di dalam negeri.
Tantangannya, ekspansi internasional juga tidak selalu mudah. Sejumlah negara mulai menerapkan hambatan perdagangan terhadap kendaraan buatan China. Karena itu, produsen seperti BYD dan Geely mulai mempertimbangkan produksi lokal di pasar tujuan agar tidak hanya mengandalkan pengiriman dari China.
Dengan demikian, ekspor memang semakin menentukan kinerja keuangan pabrikan mobil listrik China. Namun, strategi jangka panjang mereka bukan sekadar menjual lebih banyak kendaraan ke luar negeri, melainkan membangun bisnis global yang lebih kuat dan tidak bergantung pada satu pasar saja.




















