Kenapa Fitur Regeneratif Breaking Mobil Listrik Bikin Pusing?

- Regenerative braking memanfaatkan motor listrik sebagai generator untuk mengubah energi kinetik menjadi listrik baterai, sehingga mobil melambat saat pedal akselerator dilepas.
- Level regen yang kuat menghasilkan perlambatan spontan; tubuh terdorong ke depan dan perubahan akselerasi-deselerasi berulang dapat memicu pusing, terutama pada penumpang sensitif gerakan.
- Pengemudi baru disarankan menyesuaikan level regen bertahap serta mengurangi tekanan pedal akselerator perlahan agar perlambatan lebih halus dan nyaman.
Mobil listrik punya fitur regenerative braking yang membuat deselerasi terasa berbeda dibanding mobil bermesin bensin. Saat pedal akselerator dilepas, mobil bisa langsung melambat tanpa harus menginjak pedal rem.
Bagi pengemudi yang baru beralih ke mobil listrik, karakter tersebut terkadang terasa aneh. Bahkan, penggunaan regen yang terlalu kuat bisa membuat kepala terasa pusing atau tubuh seperti terdorong ke depan. Kenapa bisa begitu?
1. Deselerasi terasa lebih kuat dari mobil biasa

ilustrasi mual saat terkena AC mobil (freepik.com/diana.grytsku) Regenerative braking bekerja dengan memanfaatkan motor listrik sebagai generator ketika mobil melambat. Energi kinetik kendaraan diubah menjadi energi listrik dan kemudian disimpan kembali ke baterai. Proses inilah yang membuat mobil bisa mengurangi kecepatan ketika pedal akselerator dilepas.
Pada mobil dengan pengaturan regen yang kuat, efek perlambatannya dapat terasa cukup spontan. Pengemudi yang terbiasa dengan mobil konvensional biasanya masih membiarkan mobil meluncur ketika pedal gas dilepas. Perbedaan karakter ini membuat tubuh harus beradaptasi dengan perubahan kecepatan yang lebih cepat.
2. Kepala bisa pusing karena tubuh belum terbiasa

ilustrasi AC mobil (pexels.com/JESHOOTS) Rasa pusing bukan berarti regenerative braking secara langsung menyebabkan gangguan kesehatan. Sensasi tersebut lebih berkaitan dengan bagaimana tubuh menerima perubahan percepatan dan perlambatan. Ketika mobil melambat cukup cepat, tubuh penumpang terdorong ke depan, sementara mata tetap melihat lingkungan yang bergerak dengan pola berbeda.
Kondisi ini bisa terasa semakin kuat jika pengemudi sering melepas dan kembali menginjak pedal akselerator secara berulang. Gerakan deselerasi dan akselerasi yang terjadi terus-menerus dapat membuat perjalanan terasa seperti naik kendaraan yang sering mengerem. Penumpang yang sensitif terhadap gerakan kendaraan juga bisa lebih cepat merasa tidak nyaman.
3. Atur level regen agar berkendara lebih halus

interior BYD Sealion 7 (byd.com) Sebagian mobil listrik menyediakan beberapa tingkat regenerative braking. Level rendah biasanya memberikan efek perlambatan yang lebih ringan ketika pedal akselerator dilepas, sedangkan level tinggi membuat mobil lebih cepat mengurangi kecepatan. Pengemudi yang baru beradaptasi sebaiknya mencoba pengaturan tersebut secara bertahap.
Teknik mengoperasikan pedal juga berpengaruh besar. Alih-alih langsung melepas pedal secara mendadak, pedal akselerator bisa dikurangi tekanannya secara perlahan agar perlambatan terasa lebih halus. Setelah terbiasa, regenerative braking justru bisa membuat berkendara lebih nyaman karena kecepatan dapat dikontrol dengan lebih sedikit penggunaan pedal rem.
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)


















