Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Kenapa Mobil Listrik Bekas Kurang Diminati?

Kenapa Mobil Listrik Bekas Kurang Diminati?
ilustrasi mobil listrik (pexels.com/Jae P)
Intinya Sih
  • Harga mobil listrik bekas anjlok karena inovasi baterai cepat membuat model lama tertinggal, terutama dalam jarak tempuh yang kini jauh lebih unggul pada model terbaru.
  • Kekhawatiran terhadap degradasi baterai dan biaya penggantian tinggi membuat calon pembeli ragu membeli EV bekas tanpa jaminan garansi atau transparansi kondisi baterai.
  • Perang harga antar produsen dan subsidi pemerintah untuk unit baru menekan nilai jual mobil listrik bekas, menjadikannya kurang menarik secara finansial di pasar.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Pasar kendaraan listrik bekas saat ini tengah menghadapi tantangan besar berupa penurunan nilai jual yang sangat drastis dibandingkan mobil bermesin konvensional. Fenomena anjloknya harga mobil listrik atau Electric Vehicle (EV) bekas ini memicu kekhawatiran di kalangan pemilik awal dan spekulan yang mengharapkan stabilitas nilai aset jangka panjang.

Kondisi ini menciptakan jurang pemisah yang lebar antara harga unit baru yang masih tergolong premium dengan harga unit tangan kedua yang merosot tajam dalam waktu singkat. Berbagai faktor teknis dan psikologis pasar berkelindan, menciptakan situasi di mana depresiasi harga menjadi momok utama bagi adopsi kendaraan ramah lingkungan secara lebih luas.

1. Lompatan teknologi jarak tempuh pada model terbaru

ilustrasi mobil listrik (pexels.com/Hyundai Motor Group)
ilustrasi mobil listrik (pexels.com/Hyundai Motor Group)

Salah satu faktor utama yang menghancurkan harga EV bekas adalah kecepatan inovasi baterai yang membuat model lama terlihat sangat tertinggal. Mobil listrik keluaran tiga atau empat tahun lalu mungkin hanya memiliki jarak tempuh maksimal sekitar 200 hingga 300 kilometer dalam satu pengisian daya penuh. Sementara itu, pabrikan otomotif saat ini terus meluncurkan model terbaru dengan harga yang setara namun mampu menempuh jarak di atas 500 kilometer berkat kepadatan energi baterai yang lebih tinggi.

Kemajuan ini membuat konsumen lebih memilih untuk menambah sedikit anggaran demi mendapatkan unit baru dengan jangkauan lebih jauh daripada membeli unit bekas yang memiliki keterbatasan mobilitas. Akibatnya, stok mobil listrik bekas di diler-diler menumpuk karena kehilangan daya tarik fungsionalnya. Jarak tempuh yang semakin jauh pada EV baru secara otomatis mendegradasi nilai guna dan nilai ekonomi dari generasi pendahulunya, memaksa harga unit bekas turun hingga titik terendah agar tetap bisa bersaing di pasar.

2. Kekhawatiran terhadap degradasi dan biaya penggantian baterai

penggerak BYD Sealion 7 (byd.com)
penggerak BYD Sealion 7 (byd.com)

Baterai merupakan komponen paling mahal dalam sebuah mobil listrik, yang bisa mencakup hingga 40 persen dari total harga kendaraan. Ketakutan calon pembeli mobil bekas terhadap penurunan kapasitas baterai atau degradasi seiring bertambahnya usia pakai menjadi hambatan psikologis yang sangat kuat. Tidak seperti mobil bensin yang performanya bisa dikembalikan dengan servis besar, baterai kimia memiliki siklus hidup yang pasti dan akan menurun kemampuannya dalam menyimpan daya secara permanen.

Kurangnya standar pengujian kesehatan baterai yang transparan bagi konsumen awam membuat mereka enggan mengambil risiko membeli unit bekas tanpa jaminan garansi yang panjang. Biaya penggantian baterai yang mencapai ratusan juta rupiah membuat calon pembeli lebih memilih untuk menghindar, kecuali jika harga mobil bekas tersebut ditawarkan dengan diskon yang sangat ekstrim. Ketidakpastian mengenai sisa umur pakai baterai ini menjadi variabel utama yang memangkas nilai jual kembali secara signifikan di pasar barang seken.

3. Perang harga unit baru dan subsidi pemerintah

Screen Shot 2025-07-23 at 11.23.29 PM.png
BYD Atto 1 (byd.com)

Dinamika pasar EV global yang diwarnai oleh perang harga antar produsen besar seperti Tesla dan pabrikan asal Tiongkok berdampak langsung pada harga unit bekas. Ketika sebuah merek memutuskan untuk memotong harga unit baru secara besar-besaran guna mengejar pangsa pasar, maka secara otomatis harga unit bekas dari model yang sama akan ikut terseret turun. Penurunan harga baru ini sering kali terjadi secara mendadak, sehingga pemilik lama tiba-tiba mendapati nilai mobil mereka merosot jauh di bawah sisa pinjaman bank atau ekspektasi pasar.

Selain itu, skema insentif atau subsidi dari pemerintah yang biasanya hanya berlaku untuk pembelian unit baru semakin memperburuk posisi mobil bekas. Konsumen merasa jauh lebih menguntungkan secara finansial untuk membeli mobil baru karena adanya potongan pajak atau bantuan tunai yang tidak bisa didapatkan saat membeli unit tangan kedua. Faktor-faktor eksternal ini, dikombinasikan dengan biaya perawatan sistem elektrikal yang masih eksklusif di bengkel resmi, membuat mobil listrik bekas menjadi aset yang sulit dipertahankan nilai ekonomisnya untuk saat ini.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Dwi Agustiar
EditorDwi Agustiar
Follow Us

Latest in Automotive

See More