Kenapa Mobil yang Sama Bisa Lebih Boros saat Dipakai di Kota?

Mobil lebih boros di kota karena sering berhenti, berakselerasi, dan mengerem.
Mesin tetap menggunakan bahan bakar saat mobil berhenti dalam kondisi idle.
AC, perjalanan pendek, dan kondisi lalu lintas turut meningkatkan konsumsi bahan bakar.
Pernah merasa mobil yang biasanya cukup irit justru lebih cepat menghabiskan bensin saat digunakan di dalam kota? Padahal, mobilnya sama dan jarak tempuh masing-masing mungkin tidak jauh berbeda. Kondisi ini sebenarnya wajar dan berkaitan erat dengan cara mesin bekerja ketika menghadapi lalu lintas perkotaan.
Saat berkendara di kota, mobil lebih sering berhenti, kembali melaju, melakukan pengereman, hingga terjebak dalam kemacetan. Sebaliknya, perjalanan di jalan tol atau jalan raya yang lancar memungkinkan mobil melaju dengan kecepatan lebih stabil. Perbedaan kondisi berkendara inilah yang membuat konsumsi bahan bakar bisa terpaut cukup jauh. Yuk, kita bahas lebih dalam kenapa mobil yang sama bisa lebih boros saat dipakai di kota!
1. Sering berhenti dan kembali berakselerasi

ilustrasi mengendarai mobil (pexels.com/ALEEM UL HASSAN) Salah satu alasan utama mobil lebih boros di dalam kota ialah pola berkendara stop-and-go. Mobil harus berulang kali berhenti di lampu merah, persimpangan, atau karena kondisi lalu lintas. Kemudian, ia kembali berakselerasi untuk mencapai kecepatan semula. Setiap kali mobil mulai bergerak dari posisi diam, mesin membutuhkan tenaga lebih besar untuk mengatasi inersia kendaraan. Bahan bakar pun digunakan untuk menghasilkan tenaga tersebut. Setelah beberapa saat, mobil kembali mengerem dan energi kinetik yang sebelumnya dihasilkan banyak terbuang sebagai panas pada sistem pengereman. Siklus akselerasi dan pengereman ini bisa terjadi puluhan kali dalam satu perjalanan di dalam kota. Semakin sering dilakukan, semakin besar pula bahan bakar yang terpakai.
2. Mesin tetap membakar bensin saat mobil berhenti

ilustrasi mengemudi mobil (unsplash.com/Samuele Errico Piccarini) Mobil yang berhenti bukan berarti mesinnya juga berhenti bekerja. Ketika mesin masih menyala saat menunggu lampu merah atau terjebak kemacetan, bahan bakar tetap dikonsumsi meski mobil tidak berpindah tempat. Masalahnya, selama mesin dalam kondisi idle, mobil tidak menambah jarak tempuh sama sekali. Akibatnya, konsumsi bahan bakar selama periode tersebut ikut menurunkan angka efisiensi secara keseluruhan.
Jika melakukan perjalanan di kota yang sering melewati lampu merah dan kemacetan, waktu yang dihabiskan saat mesin idle bisa terakumulasi cukup banyak. Meski mobil tidak bergerak, mesin tetap menggunakan bahan bakar. Kondisi inilah yang membuat konsumsi bahan bakar di dalam kota biasanya lebih tinggi dibandingkan saat berkendara di jalan yang lancar.
3. Mobil lebih sering menggunakan gigi rendah

ilustrasi transmisi manual (pexels.com/Martinus) Kecepatan yang relatif rendah dan lalu lintas yang padat membuat mobil lebih sering menggunakan gigi 1, 2, atau 3. Dalam kondisi ini, putaran mesin atau RPM cenderung lebih tinggi dibandingkan ketika mobil melaju dengan kecepatan konstan menggunakan gigi yang lebih tinggi. Ketika berada di jalan bebas hambatan, transmisi dapat berpindah ke gigi yang lebih tinggi sehingga RPM mesin menjadi lebih rendah. Mesin pun bisa bekerja lebih stabil dan efisien untuk mempertahankan kecepatan kendaraan. Sementara itu, perpindahan gigi yang lebih sering di perkotaan membuat mesin bekerja dalam kondisi yang kurang ideal untuk efisiensi bahan bakar.
4. Mesin sering bekerja dalam kondisi dingin

ilustrasi mengemudi mobil (unsplash.com/Dan Gold) Perjalanan di dalam kota juga biasanya terdiri dari rute-rute pendek, misalnya pergi ke minimarket, mengantar anak, atau menuju kantor yang jaraknya tidak terlalu jauh. Akibatnya, mesin bisa menghabiskan sebagian besar perjalanan sebelum mencapai suhu kerja optimal. Ketika mesin masih dingin, sistem mesin membutuhkan lebih banyak bahan bakar agar proses pembakaran dapat berlangsung dengan baik. Efisiensinya baru meningkat setelah mesin mencapai temperatur kerja yang sesuai. Hal ini berbeda dengan perjalanan jarak jauh. Setelah mesin mencapai suhu optimal, kendaraan dapat mempertahankan kondisi tersebut selama sebagian besar perjalanan sehingga penggunaan bahan bakarnya menjadi lebih efisien.
5. AC dan perangkat elektronik ikut menambah beban

ilustrasi AC mobil (unsplash.com/Olav Tvedt) Penggunaan AC juga dapat memengaruhi konsumsi bahan bakar, terutama ketika mobil digunakan dalam kondisi lalu lintas padat. Kompresor AC membutuhkan tenaga dari mesin sehingga ada tambahan beban yang harus ditanggung mesin. Di perkotaan, AC sering digunakan dalam waktu lama karena perjalanan bisa berlangsung lebih panjang akibat kemacetan. Penggunaan berbagai perangkat elektronik kendaraan juga membutuhkan energi meski pengaruhnya terhadap konsumsi bahan bakar biasanya lebih kecil dibandingkan faktor, seperti akselerasi dan kemacetan. Kondisi jalan yang buruk, banyak tikungan, dan kebutuhan untuk sering memperlambat serta mempercepat kendaraan juga dapat membuat konsumsi energi meningkat.
Pada akhirnya, mobil yang sama bisa terasa jauh lebih boros di kota bukan karena mesinnya tiba-tiba berubah menjadi tidak efisien. Pola berkendara yang sering berhenti, akselerasi, pengereman, dan waktu idle membuat mesin bekerja lebih berat dibandingkan ketika mobil melaju stabil di jalan raya. Jadi, jangan heran lagi, ya!




![[QUIZ] Pilih Karakter Upin & Ipin, Kami Tebak Kamu Jago Baca Maps atau Tidak](https://image.idntimes.com/post/20260823/images-13_b42b328f-243b-4d52-971e-314f8571b432.jpeg)















