Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Truk listrik FUSO (IDN Times/Dwi Agustiar)
  • Kesediaan 50 UMKM angkutan barang memakai truk listrik naik dari 8 persen menjadi 56 persen ketika uang muka, bunga kredit, dan agunan diperingan.

  • Pustral UGM dan Egis mengusulkan kredit hijau, sewa armada tanpa uang muka, serta langganan baterai; harga truk listrik masih dua hingga tiga kali truk diesel.

  • Emisi angkutan barang Jawa-Bali diproyeksikan naik 51 persen menjadi 29,80 juta ton CO2 pada 2035; kajian merekomendasikan uji coba di koridor prioritas.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
2026

Emisi angkutan barang berbasis jalan di Jawa-Bali diperkirakan mencapai 19,72 juta ton CO2.

2 November 2026

Kajian Pustral UGM dan Egis tentang kesediaan UMKM menggunakan truk listrik dipaparkan dalam forum diseminasi di Jakarta. Survei terhadap 50 UMKM menunjukkan kesediaan meningkat dari 8 persen menjadi 56 persen dengan skema pembiayaan lebih ringan.

5/11/2026

Ketua Tim Kajian Pustral, Arif Wismadi, menyatakan hambatan yang disampaikan pelaku usaha bermuara pada biaya dan pembiayaan.

2035

Tanpa intervensi, emisi angkutan barang di Jawa-Bali diproyeksikan meningkat 51 persen menjadi 29,80 juta ton CO2.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Kesediaan UMKM angkutan barang menggunakan truk listrik naik dari 8 persen menjadi 56 persen dalam skenario pembiayaan lebih ringan, berdasarkan survei Pustral UGM dan Egis.
  • Who?
    Pustral UGM dan Egis mengkaji 50 UMKM angkutan barang; Arif Wismadi, Gemilang Tarigan, dan Febriani Astari turut menyampaikan temuan serta usulan tindak lanjut.
  • Where?
    Temuan survei dipaparkan di Jakarta, sementara pemodelan emisi dan akses SPKLU mencakup koridor angkutan barang di Jawa-Bali.
  • When?
    Forum diseminasi berlangsung di Jakarta pada 2 November 2026. Ketua Tim Kajian Pustral, Arif Wismadi, menyampaikan keterangan pada 5 November 2026.
  • Why?
    Uang muka, bunga kredit, dan persyaratan agunan menjadi hambatan utama UMKM. Harga truk listrik saat ini disebut dua hingga tiga kali lipat dibandingkan truk diesel.
  • How?
    Kesediaan meningkat pada skema uang muka 15 persen, bunga nol persen, dan agunan BPKB. Kajian mengusulkan kredit hijau, sewa armada, langganan baterai, serta uji coba pada rute tetap atau depo.
  • What?
    Kesediaan UMKM angkutan barang menggunakan truk listrik naik dari 8 persen menjadi 56 persen dalam skenario pembiayaan lebih ringan, berdasarkan survei Pustral UGM dan Egis.
  • Who?
    50 UMKM angkutan barang menjadi responden survei; Pustral UGM dan Egis melakukan kajian. APTRINDO turut menyampaikan pandangan mengenai biaya peremajaan armada.
  • Where?
    Temuan survei dipaparkan di Jakarta. Kajian emisi dan infrastruktur pengisian daya mencakup koridor angkutan barang di Jawa-Bali.
  • When?
    Forum diseminasi berlangsung di Jakarta pada 2 November 2026. Ketua Tim Kajian Pustral, Arif Wismadi, menyampaikan keterangan pada 5 November 2026.
  • Why?
    Uang muka, bunga kredit, dan agunan memengaruhi kesiapan UMKM. Dalam skema ringan, uang muka 15 persen, bunga nol persen, dan BPKB sebagai agunan meningkatkan kesediaan responden.
  • How?
    Kajian mengusulkan kredit hijau, sewa armada, dan langganan baterai untuk diuji. Uji coba truk listrik serta pengisian daya direkomendasikan pada koridor atau kota prioritas dengan rute tetap atau depo.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Banyak usaha kecil angkutan barang mau memakai truk listrik jika cara bayarnya lebih ringan. Dari 50 usaha yang ditanya, yang mau naik dari 8 persen jadi 56 persen saat uang muka lebih kecil dan bunga nol. Harga truk listrik masih mahal. Sekarang orang juga mau mencoba truk listrik dan tempat isi daya di rute tertentu.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Lonjakan kesediaan UMKM dari 8 menjadi 56 persen pada skema lebih ringan memperlihatkan bahwa hambatan elektrifikasi angkutan barang dapat dipetakan secara konkret. Usulan kredit berbasis kontrak, sewa armada, dan langganan baterai memberi gambaran pilihan yang menyesuaikan kemampuan usaha, sementara konsentrasi emisi di titik-titik tertentu membuat penanganannya lebih terarah.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times – Minat pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) angkutan barang untuk menggunakan truk listrik menunjukkan peningkatan. Namun, kesiapan tersebut sangat dipengaruhi oleh skema pembiayaan, terutama terkait uang muka, bunga kredit, dan persyaratan agunan.

Berdasarkan kajian Pusat Studi Transportasi dan Logistik Universitas Gadjah Mada (Pustral UGM) bersama Egis, kesediaan UMKM beralih ke truk listrik meningkat dari 8 persen menjadi 56 persen ketika diberikan skema pembiayaan yang lebih ringan.

Temuan ini berasal dari survei terhadap 50 UMKM angkutan barang dan dipaparkan dalam forum diseminasi di Jakarta pada 2 November 2026.

1. Skema kredit ringan meningkatkan minat UMKM

Truk listrik FUSO (IDN Times/Dwi Agustiar)

Dalam survei tersebut, hanya 8 persen responden yang menyatakan bersedia beralih ke truk listrik apabila harus membayar uang muka 30 persen, bunga kredit 12 persen, serta menyediakan sertifikat tanah sebagai agunan.

Namun, ketika skema pembiayaan diubah menjadi uang muka 15 persen, bunga nol persen, dan agunan cukup menggunakan Buku Pemilik Kendaraan Bermotor (BPKB), kesediaan responden meningkat menjadi 56 persen.

Hasil ini memperlihatkan bahwa akses pembiayaan menjadi salah satu faktor penting dalam mendorong elektrifikasi angkutan barang. Meski demikian, angka tersebut merupakan kesediaan yang dinyatakan dalam dua skenario survei, bukan keputusan pembelian atau tingkat adopsi aktual.

“Semua hambatan yang disampaikan pelaku usaha dalam rangkaian diskusi bermuara pada satu hal, yaitu biaya dan pembiayaan,” ujar Ketua Tim Kajian dari Pustral Arif Wismadi, Kamis (5/11/2026).

2. Ada tiga skema pembiayaan yang diusulkan

ilustrasi truk listrik (MJofLakeland1, Public Domain, via Wikimedia Commons)

Untuk mengatasi hambatan tersebut, kajian Pustral UGM dan Egis mengusulkan tiga model pembiayaan yang perlu diuji lebih lanjut.

Pertama, kredit hijau yang didukung kontrak angkutan jangka panjang. Skema ini diharapkan dapat memberikan kepastian pendapatan bagi operator sehingga mempermudah akses pembiayaan kendaraan listrik.

Kedua, skema sewa armada dengan pembayaran berdasarkan jarak tempuh atau periode penggunaan tanpa memerlukan uang muka. Model ini dapat menjadi alternatif bagi UMKM yang belum memiliki kemampuan finansial untuk membeli truk listrik secara langsung.

Ketiga, langganan baterai yang memisahkan biaya baterai dari harga kendaraan. Dengan begitu, biaya awal pembelian truk listrik berpotensi menjadi lebih ringan.

Ketua Umum APTRINDO, Gemilang Tarigan, menegaskan bahwa peremajaan armada harus menjadi bagian dari upaya membangun sistem logistik rendah emisi, bukan justru menambah beban operator.

Menurut APTRINDO, harga truk listrik saat ini masih dua hingga tiga kali lipat dibandingkan truk diesel. Karena itu, skema langganan maupun penukaran baterai dinilai perlu dikaji lebih lanjut untuk menekan biaya awal sekaligus mengurangi waktu pengisian daya.

3. Emisi truk di Jawa-Bali diproyeksikan meningkat

potret soket daya truk listrik Fuso (dok. KTB Fuso)

Selain membahas pembiayaan, kajian tersebut turut memetakan emisi angkutan barang berbasis jalan dan akses infrastruktur pengisian daya di koridor Jawa-Bali.

Berdasarkan pemodelan yang mengacu pada GLEC Framework, emisi angkutan barang di wilayah tersebut diperkirakan mencapai 19,72 juta ton CO2 pada 2026. Tanpa intervensi, jumlahnya diproyeksikan meningkat 51 persen menjadi 29,80 juta ton pada 2035.

Jawa Barat menjadi penyumbang emisi terbesar dengan porsi 31 persen, disusul Jawa Tengah sebesar 26 persen dan Jawa Timur sebesar 22 persen. Sementara itu, truk dua sumbu medium dan truk tiga sumbu menyumbang 59 persen dari total emisi yang dimodelkan.

Kajian juga menemukan ketimpangan persebaran infrastruktur pengisian daya. Sebanyak 36 persen stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU) di Jawa-Bali berada di lima kota administrasi Jakarta, padahal wilayah tersebut hanya menyumbang sekitar 4,8 persen emisi truk yang dimodelkan.

“Kajian ini menunjukkan lebih dari tiga perempat emisi terkonsentrasi di tiga provinsi, dan lebih dari seperempatnya berasal dari sepuluh kabupaten/kota. Persoalannya ternyata lebih sempit dan lebih bisa dikelola, sehingga tugas kita adalah memulai dari titik-titik panas tersebut,” ujar Senior Transport Engineer PT Egis International Indonesia, Febriani Astari.

Sebagai tindak lanjut, tim kajian merekomendasikan uji coba penggunaan truk listrik, pembangunan infrastruktur pengisian daya, serta penerapan skema pembiayaan di satu atau dua koridor atau kota prioritas.

Pengujian tersebut akan dimulai dari segmen yang dinilai paling siap, seperti rute tetap atau operasional berbasis depo. Evaluasi biaya dan operasional juga perlu dilakukan sebelum implementasi diperluas ke wilayah lain.

Curated For You

Editorial Team

Related Article