potret soket daya truk listrik Fuso (dok. KTB Fuso)
Selain membahas pembiayaan, kajian tersebut turut memetakan emisi angkutan barang berbasis jalan dan akses infrastruktur pengisian daya di koridor Jawa-Bali.
Berdasarkan pemodelan yang mengacu pada GLEC Framework, emisi angkutan barang di wilayah tersebut diperkirakan mencapai 19,72 juta ton CO2 pada 2026. Tanpa intervensi, jumlahnya diproyeksikan meningkat 51 persen menjadi 29,80 juta ton pada 2035.
Jawa Barat menjadi penyumbang emisi terbesar dengan porsi 31 persen, disusul Jawa Tengah sebesar 26 persen dan Jawa Timur sebesar 22 persen. Sementara itu, truk dua sumbu medium dan truk tiga sumbu menyumbang 59 persen dari total emisi yang dimodelkan.
Kajian juga menemukan ketimpangan persebaran infrastruktur pengisian daya. Sebanyak 36 persen stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU) di Jawa-Bali berada di lima kota administrasi Jakarta, padahal wilayah tersebut hanya menyumbang sekitar 4,8 persen emisi truk yang dimodelkan.
“Kajian ini menunjukkan lebih dari tiga perempat emisi terkonsentrasi di tiga provinsi, dan lebih dari seperempatnya berasal dari sepuluh kabupaten/kota. Persoalannya ternyata lebih sempit dan lebih bisa dikelola, sehingga tugas kita adalah memulai dari titik-titik panas tersebut,” ujar Senior Transport Engineer PT Egis International Indonesia, Febriani Astari.
Sebagai tindak lanjut, tim kajian merekomendasikan uji coba penggunaan truk listrik, pembangunan infrastruktur pengisian daya, serta penerapan skema pembiayaan di satu atau dua koridor atau kota prioritas.
Pengujian tersebut akan dimulai dari segmen yang dinilai paling siap, seperti rute tetap atau operasional berbasis depo. Evaluasi biaya dan operasional juga perlu dilakukan sebelum implementasi diperluas ke wilayah lain.