Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Benarkah As Roda Mobil Listrik Rentan Patah? Ini Penyebabnya

3 min read
Benarkah As Roda Mobil Listrik Rentan Patah? Ini Penyebabnya
Ilustrasi pengecekan komponen pada kaki-kaki mobil (freepik.com/freepik)
  • As roda mobil listrik tidak otomatis lebih mudah patah karena dirancang sesuai tenaga motor dan bobot kendaraan.
  • Torsi instan serta akselerasi agresif dapat memberi beban kejut berulang pada as roda, CV joint, dan transmisi hingga mempercepat kelelahan material.
  • Bobot baterai, jalan rusak, kualitas produksi, pemasangan, dan perawatan memengaruhi usia komponen; bunyi ketukan atau getaran perlu segera diperiksa.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Mobil listrik dikenal memiliki akselerasi spontan karena motor listrik mampu menghasilkan torsi sejak putaran awal. Karakteristik tersebut membuat kendaraan bisa melaju cepat hanya dengan sedikit tekanan pedal akselerator. Namun, di balik performa tersebut, muncul kekhawatiran mengenai kekuatan komponen penggerak, terutama as roda atau drive shaft.

Benarkah as roda mobil listrik lebih mudah patah dibandingkan mobil bermesin bensin? Anggapan ini tidak sepenuhnya benar. As roda mobil listrik sebenarnya dirancang sesuai beban dan tenaga kendaraan. Meski demikian, ada sejumlah faktor teknis yang bisa meningkatkan tekanan pada komponen tersebut.

  1. 1. Torsi instan memberikan beban kejut pada as roda

    ilustrasi membersihkan kotoran di area kaki-kaki mobil
    ilustrasi membersihkan kotoran di area kaki-kaki mobil (pexels.com/Artem Podrez)

    Salah satu karakteristik motor listrik adalah kemampuannya menghasilkan torsi besar sejak putaran rendah. Berbeda dengan mesin bensin yang membutuhkan putaran tertentu untuk mencapai torsi puncak, motor listrik dapat menyalurkan tenaga dengan sangat cepat. Karakteristik ini membuat mobil listrik terasa responsif ketika pedal akselerator diinjak.

    Namun, akselerasi mendadak dari posisi diam dapat memberikan beban kejut atau shock load pada sistem penggerak. As roda, sambungan CV joint, dan komponen transmisi harus meneruskan tenaga tersebut ke roda. Jika pengemudi sering melakukan akselerasi agresif, terutama ketika traksi ban berubah secara tiba-tiba, tekanan berulang dapat mempercepat kelelahan material atau metal fatigue. Meski begitu, bukan berarti torsi instan otomatis membuat as roda mudah patah karena komponen sudah diperhitungkan berdasarkan kemampuan motor dan bobot kendaraan.

  2. 2. Bobot baterai menambah beban sistem kaki-kaki

    ilustrasi kaki-kaki mobil
    ilustrasi kaki-kaki mobil (pexels.com/Malte Luk)

    Mobil listrik umumnya memiliki bobot lebih besar dibandingkan mobil bermesin pembakaran internal dengan ukuran sekelas. Penyebab utamanya adalah paket baterai berkapasitas besar yang ditempatkan di bagian bawah kendaraan. Tambahan bobot ini membuat sistem suspensi, ban, rem, dan komponen penggerak harus bekerja dengan beban lebih tinggi.

    Ketika mobil melewati lubang atau menghantam permukaan jalan yang tidak rata, beban mekanis pada kaki-kaki dapat meningkat. Kondisi tersebut bisa memengaruhi usia pakai komponen, termasuk as roda dan CV joint. Namun, bobot kendaraan saja tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa as roda mobil listrik lebih rentan patah. Produsen biasanya menyesuaikan diameter, material, dan konstruksi komponen penggerak dengan bobot serta karakteristik tenaga kendaraan.

  3. 3. Kesalahan produksi dan perawatan juga perlu diperhatikan

    ilustrasi seorang teknisi yang sedang memperbaiki kaki-kaki mobil di bengkel (pexels.com/Gustavo Fring)
    ilustrasi seorang teknisi yang sedang memperbaiki kaki-kaki mobil di bengkel (pexels.com/Gustavo Fring)

    Kerusakan as roda tidak selalu berkaitan dengan karakteristik mobil listrik. Faktor kualitas material, kesalahan proses produksi, desain komponen, hingga pemasangan yang tidak tepat juga dapat menjadi penyebab. Dalam beberapa kasus, produsen kendaraan melakukan recall karena menemukan masalah pada komponen penggerak. Namun, setiap kasus harus dilihat berdasarkan model dan penyebab teknisnya, bukan digeneralisasi untuk seluruh mobil listrik.

    Pengemudi juga perlu memperhatikan gejala kerusakan sejak awal. Bunyi ketukan ketika berbelok, getaran saat berakselerasi, atau suara tidak normal dari area roda bisa menjadi tanda adanya masalah pada as roda maupun CV joint. Pemeriksaan sebaiknya dilakukan di bengkel yang memahami sistem penggerak kendaraan listrik. Hindari memaksakan mobil tetap digunakan jika muncul gejala serius.

    Jadi, anggapan bahwa as roda mobil listrik mudah patah tidak sepenuhnya tepat. Torsi instan dan bobot baterai memang menghadirkan tantangan teknis, tetapi kekuatan komponen ditentukan oleh desain, kualitas produksi, dan perawatan kendaraan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Related Articles

See More