Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

4 Risiko Membeli Ban Motor Second yang Wajib Diwaspadai

4 min read
4 Risiko Membeli Ban Motor Second yang Wajib Diwaspadai
ilustrasi ban motor (pexels.com/Rahul Soni)
  • Ban motor bekas dapat mengalami pengerasan dan retak akibat usia serta cuaca, menurunkan daya cengkeram dan meningkatkan risiko tergelincir atau bocor mendadak.
  • Bekas tambalan yang disembunyikan berpotensi menyebabkan kebocoran ulang, sementara kode produksi perlu diperiksa karena ban kedaluwarsa bisa kehilangan elastisitas dan pecah saat melaju.
  • Keausan ban yang tidak merata mengganggu pembuangan air dan memperpanjang respons pengereman di jalan basah, sehingga risiko selip serta kehilangan kendali meningkat.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Memutuskan untuk membeli ban motor bekas mungkin kerap dianggap sebagai solusi alternatif yang dapat menghemat biaya untuk para pemilik kendaraan yang memang memiliki anggaran terbatas. Walau memiliki harga yang relatif lebih terjangkau, namun langkah ini sebetulnya turut menyimpan risiko bahaya yang bisa mengancam keselamatan dan keamananmu selama berkendara di jalan raya.

​Kondisi luar yang ada pada ban bekas sangat kerap menipu penglihatan pembeli karena banyak kerusakan struktural internal yang tidak dapat terdeteksi secara langsung tanpa harus melakukan pemeriksaan teknis secara lebih mendalam. Oleh karena itu, penting untuk secara dalam memahami konsekuensi teknis terkait mendalam sebelum memutuskan untuk mencoba ban bekas tersebut pada motor kesayangan.

  1. ​1. Penurunan kualitas struktur karet yang mulai mengeras dan retak

    ilustrasi ban motor
    ilustrasi ban motor (pexels.com/Karan Mridha)

    Ban motor bekas biasanya sudah mengalami degradasi terkait kualitas bahan karet dasarnya akibat paparan suhu panas dan juga perubahan cuaca yang terjadi secara terus-menerus dalam jangka waktu yang cukup lama. Kondisi penuaan ban tersebut ternyata bisa menyebabkan daya cengkeram ban terhadap permukaan aspal pun menurun secara signifikan, sehingga hal ini membuat kendaraan menjadi sangat rawan tergelincir ketika melaju.

    ​Adanya retakan-retakan halus pada area sela-sela ulir dari tapak ban sebetulnya sangat berpotensi besar memicu risiko kebocoran secara mendadak pada saat harus menahan tekanan beban motor yang cukup berat. Situasi yang ada tentu bisa sangat membahayakan kestabilan posisi motormu, terutama ketika sedang melewati area jalanan yang licin, basah, atau pun berlubang.

  2. 2. Terdapat bekas tambalan yang disembunyikan oleh penjual

    ilustrasi ban motor
    ilustrasi ban motor (pexels.com/Prakash Chavda)

    Banyak oknum penjual nakal yang dengan sengaja berusaha menutup bagian bekas tambalan yang terdapat pada ban bekas, sehingga tampilan luarnya justru terlihat masih sangat mulus dan tampak seperti baru. Penggunaan metode tambalan yang tidak memenuhi standar pabrikan jelas memiliki risiko yang sangat tinggi untuk menyebabkan terjadinya kebocoran ulang secara mendadak apabila ban menerima tekanan udara dalam tingkat yang cukup tinggi.

    ​Kondisi ban yang mengalami masalah bocor halus ketika berada di tengah perjalanan tentu akan terasa sangat mengganggu kenyamanan dari aktivitas mobilitas harianmu. Pada akhirnya, kamu justru jadi harus mengeluarkan uang lebih untuk melakukan biaya perbaikan secara berulang, sehingga pengeluaranmu menjadi tidak efisien sama sekali.

  3. ​3. Usia pakai komponen yang sebenarnya sudah melewati batas kedaluwarsa

    ilustrasi ban motor (pexels.com/Robert So)
    ilustrasi ban motor (pexels.com/Robert So)

    Setiap unit ban motor sebetulnya memiliki batas usia pakai ideal yang dapat terlihat langsung melalui kode angka produksi yang tertera pada bagian dinding luar ban. Hampir sebagian besar ban bekas yang dijual di pasaran sebetulnya sudah hampir mendekati atau bahkan sudah melewati batas masa kedaluwarsa yang ada, sehingga ketahanan elastisitasnya jelas berkurang secara signifikan.

    ​Walau pola kembangan atau alur tapak ban sekilas tampak masih cukup tebal, namun lapisan serat baja yang tertera pada struktur bagian dalam bisa saja sudah mengalami pelapukan. Dengan menggunakan ban yang sudah kedaluwarsa tentu akan sangat berbahaya karena berisiko memicu adanya insiden ban pecah secara mendadak ketika kendaraan sedang dipacu dalam kecepatan yang cukup tinggi.

  4. ​4. Performa sistem pengereman kendaraan menjadi tidak optimal

    ilustrasi ban motor (unsplash.com/Scorn Pion)
    ilustrasi ban motor (unsplash.com/Scorn Pion)

    Ban bekas yang tingkat keausannya mulai tidak merata biasanya memiliki pola alur tapak yang sudah tidak simetris lagi, sehingga secara langsung justru akan sangat mengganggu saluran pembuangan air ketika kamu melintasi kondisi jalanan yang basah. Masalah teknis seperti ini jelas bisa menyebabkan jarak respons pengereman motor terasa jauh lebih panjang dari standar keselamatan umum dan pada akhirnya justru akan meningkatkan risiko kendaraan mengalami selip.

    ​Kondisi seperti ini bisa rentan menyebabkan pengendara mudah kehilangan kontrol dan keseimbangan atas kendaraan yang dibawanya, khususnya pada saat sedang bermanuver melintasi area tikungan yang cukup tajam. Penurunan efisiensi pada sistem pengereman bukan hanya bisa membahayakan diri sendiri, namun juga sangat mengancam keselamatan para pengguna jalan lainnya.

    ​Hanya mengutamakan penawaran harga murah ketika membeli ban motor jelas bukanlah sebuah keputusan yang bijak untuk investasi jangka panjang. Keselamatan diri dan kenyamanan dalam berkendara tentu memiliki nilai yang lebih tinggi daripada sekadar nominal uang. Jangan pertaruhkan keselamatan diri hanya untuk membeli ban bekas yang mungkin tidak cukup aman.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Kisah Koperasi Perempuan di Tepi Rel

Related Articles

See More