Ilustrasi mobil listrik Geely EX2. (dok. Geely Indonesia)
CPCA mengaitkan sebagian penurunan permintaan mobil bensin dengan meningkatnya biaya operasional kendaraan. Harga bensin di China disebut mengalami kenaikan lebih dari 1.720 yuan atau sekitar US$256 per ton sejak awal 2026. Sejak akhir Juli saja, harga tersebut telah meningkat 180 yuan atau sekitar US$26,8 per ton.
Harga rata-rata bensin beroktan 95 di China kini berada di sekitar 8,7 yuan atau sekitar US$1,3 per liter. Kondisi tersebut dapat membuat biaya penggunaan mobil bermesin bensin semakin tinggi dan menjadi salah satu pertimbangan konsumen ketika memilih kendaraan baru.
Sepanjang Januari hingga Agustus 2026, penjualan ritel mobil penumpang China mencapai 11,7 juta unit, turun 20,8 persen secara tahunan. Penjualan NEV mencapai 6,7 juta unit, sedangkan mobil ICE hanya sekitar 5 juta unit atau turun 30 persen. Pada periode tersebut, pangsa NEV mencapai 56,9 persen berbanding 43,1 persen untuk ICE.
Perubahan tersebut menunjukkan bahwa dominasi kendaraan listrik di China semakin kuat. Selain penjualan domestik, ekspor juga membantu industri otomotif China. Pada Agustus, ekspor mobil penumpang meningkat 77,8 persen menjadi 888.000 unit, sementara ekspor NEV melonjak 154,7 persen menjadi 518.000 unit.