Penjualan Xiaomi SU7 Ultra Terjun Bebas di Akhir Tahun 2025

- Penurunan tajam penjualan Xiaomi SU7 Ultra di akhir tahun 2025, dari ribuan unit menjadi hanya puluhan unit saja.
- Dampak kontroversi dan masalah teknis terhadap kepercayaan publik, menyebabkan konsumen beralih ke merek lain atau model Xiaomi yang lebih mapan.
- Pergeseran fokus pasar ke model kendaraan keluarga, dengan penjualan model SUV keluarga mencapai angka fenomenal hingga 39.000 unit.
Dunia otomotif Tiongkok dikejutkan oleh penurunan drastis angka penjualan Xiaomi SU7 Ultra pada penghujung tahun 2025. Mobil listrik berperforma tinggi yang sempat menjadi primadona dan bahkan muncul dalam gim Gran Turismo ini kini harus menghadapi kenyataan pahit setelah sempat mencatatkan masa keemasan di awal peluncurannya.
Berdasarkan data terbaru, angka pengiriman model ini merosot tajam dari puncaknya yang mencapai ribuan unit per bulan menjadi hanya puluhan unit saja di akhir tahun. Meski secara keseluruhan performa perusahaan tetap kuat, anomali pada model flagship ini menjadi sorotan tajam bagi para analis industri dan penggemar otomotif di seluruh dunia.
1. Penurunan tajam dalam siklus penjualan bulanan

Melansir laporan dari carnewschina.com, penjualan Xiaomi SU7 Ultra mencatatkan kontras yang sangat menyedihkan jika dibandingkan dengan awal tahun. Pada Maret 2025, model ini berhasil terjual sebanyak 3.101 unit, dan terus stabil di angka 2.000 hingga 3.000 unit hingga bulan Agustus. Namun, memasuki bulan September, angka tersebut anjlok menjadi 488 unit, dan terus merosot hingga mencapai titik terendahnya di angka 45 unit pada Desember 2025.
Padahal, secara teknis mobil seharga 529.900 yuan (sekitar Rp1,1 miliar) ini memiliki spesifikasi yang sangat luar biasa. Dibekali sistem tiga motor listrik, mobil ini mampu menghasilkan tenaga maksimal 1.548 daya kuda dengan akselerasi 0-100 km/jam hanya dalam 1,98 detik. Namun, spesifikasi di atas kertas tersebut tampaknya belum cukup kuat untuk mempertahankan minat pasar di tengah persaingan yang semakin sengit dan perubahan tren konsumen.
2. Dampak kontroversi dan masalah teknis terhadap kepercayaan publik

Penurunan minat konsumen diduga kuat dipicu oleh serangkaian kontroversi yang menyelimuti Xiaomi SU7 Ultra beberapa bulan setelah peluncurannya. Berdasarkan informasi dari carnewschina.com, model ini sempat tersandung masalah dugaan iklan palsu serta kebijakan pembayaran di muka yang dinilai memberatkan calon pembeli. Hal-hal non-teknis seperti ini disinyalir mulai mengikis antusiasme publik terhadap kendaraan yang diposisikan sebagai mobil sport listrik premium tersebut.
Tidak hanya itu, laporan mengenai masalah keselamatan serius juga memperburuk citra mobil ini. Terdapat insiden di mana pintu mobil gagal terbuka setelah terjadi kecelakaan, yang memicu kekhawatiran besar terkait standar keamanan dalam situasi darurat. Rentetan masalah teknis dan kontroversi pemasaran ini dianggap sebagai faktor utama yang membuat konsumen lebih memilih untuk beralih ke merek lain atau model Xiaomi yang lebih mapan.
3. Pergeseran fokus pasar ke model kendaraan keluarga

Meskipun nasib SU7 Ultra terlihat suram, Xiaomi Auto secara keseluruhan sebenarnya masih mencatatkan pertumbuhan yang sangat impresif. Pada Desember 2025, model Xiaomi SU7 standar masih laku keras dengan penjualan 11.123 unit, sementara model SUV keluarga, Xiaomi YU7, mencatatkan angka fenomenal hingga 39.000 unit. Hal ini membuktikan bahwa permintaan pasar otomotif Tiongkok tetap didominasi oleh segmen kendaraan rumah tangga (mainstream) daripada segmen performa tinggi yang bersifat ceruk (niche).
Xiaomi Auto bahkan berhasil masuk dalam jajaran 10 besar produsen kendaraan energi baru (NEV) tahun 2025 dengan total penjualan tahunan mencapai 411.837 unit. Untuk tahun 2026, Lei Jun telah menetapkan target ambisius sebanyak 550.000 unit. Dengan struktur produk saat ini, kegagalan SU7 Ultra di pasar tidak akan memberikan dampak besar pada lintasan pertumbuhan perusahaan, karena fokus utama Xiaomi kini bergeser pada penguasaan volume di segmen kendaraan harian yang lebih praktis.


















