Sering Injak Rem Saat Menikung? Mobil Bisa Terguling

- Pengereman keras saat menikung mengganggu distribusi bobot mobil, membuat ban kehilangan traksi dan kendaraan sulit dikendalikan, terutama pada kecepatan tinggi atau tikungan tajam.
- Risiko tergelincir, understeer, oversteer, hingga terguling meningkat di jalan licin atau berkerikil, saat ban aus atau tekanannya tidak sesuai, serta pada mobil berpusat gravitasi tinggi.
- Pengemudi disarankan mengurangi kecepatan sebelum tikungan, menjaga laju stabil, dan bila perlu mengerem secara halus tanpa gerakan setir mendadak.
Menikung sambil menginjak rem mungkin terasa seperti cara paling aman untuk mengurangi kecepatan. Namun, jika dilakukan terlalu keras atau pada kecepatan tinggi, kebiasaan ini justru dapat membuat kendaraan kehilangan keseimbangan.
Risikonya semakin besar ketika kondisi jalan licin, tikungan terlalu tajam, atau kendaraan memiliki pusat gravitasi tinggi. Dalam situasi tertentu, pengereman mendadak saat menikung bahkan dapat meningkatkan kemungkinan mobil tergelincir hingga terguling.
1. Bobot mobil berpindah saat menikung

ilustrasi jalanan dengan tikungan tajam (pexels.com/Hyundai Motor Group) Ketika mobil menikung, gaya yang bekerja pada kendaraan membuat bobot berpindah ke sisi luar tikungan. Semakin tinggi kecepatan dan semakin tajam tikungan, semakin besar pula gaya yang diterima kendaraan. Kondisi ini membuat ban di sisi luar bekerja lebih keras untuk mempertahankan cengkeraman terhadap permukaan jalan.
Ketika pedal rem diinjak secara mendadak dalam kondisi tersebut, distribusi beban kendaraan kembali berubah. Bobot cenderung berpindah ke bagian depan sehingga keseimbangan mobil dapat terganggu. Jika manuver dilakukan secara ekstrem, ban bisa kehilangan traksi dan kendaraan menjadi sulit dikendalikan.
2. Rem mendadak bisa membuat mobil tidak stabil

ilustrasi menyetir mobil di tikungan (freepik.com/azerbaijan_stockers) Pengereman keras ketika setir sedang diputar dapat membuat kemampuan ban terbagi antara mengerem dan menghasilkan gaya untuk menikung. Jika permintaan terhadap ban terlalu besar, daya cengkeram bisa berkurang dan kendaraan berpotensi mengalami understeer atau oversteer.
Risiko tersebut semakin tinggi pada permukaan jalan basah, berpasir, atau memiliki banyak kerikil. Mobil juga bisa lebih sulit dikendalikan jika kondisi ban sudah aus atau tekanan anginnya tidak sesuai. Pada kendaraan dengan pusat gravitasi tinggi, perubahan keseimbangan yang ekstrem dapat meningkatkan risiko kehilangan stabilitas hingga terguling.
3. Kurangi kecepatan sebelum masuk tikungan

ilustrasi jalanan dengan tikungan tajam (pexels.com/Lina Kivaka) Cara yang lebih aman adalah mengurangi kecepatan sebelum memasuki tikungan. Dengan kecepatan yang sudah lebih rendah, kendaraan memiliki beban kerja yang lebih ringan ketika harus mengubah arah. Setelah masuk tikungan, pengemudi dapat menjaga kecepatan tetap stabil dan menghindari pengereman mendadak.
Jika memang harus mengurangi kecepatan saat menikung, lakukan secara halus dan terkontrol sambil menjaga arah kendaraan. Jangan melakukan gerakan setir secara tiba-tiba setelah menginjak rem. Sistem seperti abs dan electronic stability control memang dapat membantu menjaga kendali dalam situasi tertentu, tetapi teknologi tersebut bukan alasan untuk mengabaikan teknik berkendara yang aman.
Selain itu, perhatikan kondisi jalan dan karakter kendaraan sebelum menikung. Tikungan yang terlihat sederhana bisa menjadi berbahaya jika permukaannya licin atau pandangan terhalang. Menjaga kecepatan tetap wajar, mengurangi kecepatan sejak sebelum tikungan, serta menghindari manuver mendadak dapat membantu menjaga mobil tetap stabil dan mengurangi risiko kecelakaan.



















