Spesifikasi Pikap India yang Dipakai Koperasi Merah Putih

- Pemerintah melalui Koperasi Desa Merah Putih mengimpor 105 ribu kendaraan niaga dari dua pabrikan India untuk mendukung distribusi logistik nasional di berbagai wilayah Indonesia.
- Model utama seperti Mahindra Scorpio, Tata Yodha, dan Tata Ultra T.7 dibekali mesin diesel bertenaga besar serta fitur keselamatan modern untuk menghadapi medan berat pedesaan.
- Kebijakan impor ini menuai kritik karena dianggap mengabaikan kapasitas industri otomotif lokal yang mampu memproduksi kendaraan serupa dan berpotensi mengurangi peluang kerja dalam negeri.
Jakarta, IDN Times - Rencana impor 105 ribu unit mobil pikap sebagai kendaraan operasional untuk Koperasi Desa Merah Putih menarik perhatian masyarakat Indonesia.
Langkah ini merupakan bagian dari kontrak besar pengadaan kendaraan logistik nasional. Selain memicu perhatian publik, spesifikasi kendaraan hingga dampaknya terhadap industri otomotif dalam negeri ikut menjadi sorotan.
1. Distribusi awal sudah berjalan, ribuan unit menyusul

PT Agrinas Pangan Nusantara memastikan pikap impor telah masuk Indonesia dan mulai disebar ke berbagai wilayah. Pada tahap awal, ratusan unit telah digunakan untuk kebutuhan operasional koperasi desa.
Unit-unit tersebut ditempatkan sementara di fasilitas TNI setempat sebelum koperasi siap beroperasi penuh. Kendaraan berwarna putih itu sudah diberi stiker "Koperasi Desa Merah Putih" pada bagian bak.
Secara keseluruhan, kontrak pengadaan mencapai 105 ribu kendaraan niaga dari dua pabrikan India dengan rincian 35 ribu unit pikap Mahindra Scorpio, 35 ribu unit Tata Yodha, dan 35 ribu unit truk ringan Tata Ultra T.7.
2. Spesifikasi kendaraan dirancang untuk daerah berat

Pikap utama yang digunakan adalah Mahindra Scorpio produksi India. Model ini memakai mesin diesel 2.200 cc dengan tenaga 140 PS dan torsi 320 Nm dengan transmisi manual 6 percepatan.
Fitur yang disediakan tergolong lengkap untuk kendaraan kerja, mulai dari AC, power window, hingga cruise control. Sistem keselamatan juga mencakup dual airbag dan ABS.
Selain itu hadir Tata Yodha yang tersedia dalam opsi diesel dan CNG, fokus pada daya angkut dan efisiensi operasional. Sementara truk ringan Tata Ultra T.7 bermesin 2.956 cc bertenaga 100 PS diproyeksikan menangani distribusi logistik skala menengah.
Kendaraan-kendaraan tersebut dirancang untuk berbagai kondisi jalan, termasuk jalur pedesaan berbatu dan sektor pertanian.
3. Impor jadi perdebatan industri otomotif

Pengadaan kendaraan impor memunculkan perdebatan karena industri otomotif domestik dinilai mampu memproduksi kendaraan niaga dalam jumlah besar. Kapasitas produksi pikap nasional disebut dapat mencapai sekitar satu juta unit per tahun.
Ketua Umum IMI (Ikatan Motor Indonesia) Pusat, Moreno Soeprapto, menilai kebijakan tersebut berpotensi menutup peluang kerja bagi tenaga lokal. Di sisi lain, dia melihat industri modifikasi dan aftermarket Indonesia justru berada pada fase siap naik kelas menuju manufaktur berbasis rekayasa teknis.
"Dengan impor 105 ribu unit mobil secara CBU, peluang membuka lapangan kerja untuk masyarakat Indonesia itu tidak ada. Malah memberikan lapangan kerja untuk India," kata Moreno dalam keterangan resmi yang diterima IDN Times, Senin (23/2/2026).

![[QUIZ] Pilih Mobil LCGC Favorit, Kami Bisa Tebak Gaya Hidupmu](https://image.idntimes.com/post/20240222/oip-40-f3bcadc4b1a39af7191309eb7f658bc1.jpg)
















