Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Suka Duduk Terlalu Dekat Setir, Ini Bahaya yang Jarang Disadari
ilustrasi seorang perempuan meletakkan kepalanya di atas setir mobil (freepik.com/Racool_studio)
  • Duduk terlalu dekat dengan setir meningkatkan risiko cedera dada, leher, dan wajah akibat hantaman airbag; jarak dada ke pusat kemudi disarankan minimal 25 sentimeter.
  • Posisi terlalu dekat membuat siku tertekuk dan ruang gerak tangan terbatas, sehingga respons bermanuver saat menghadapi rintangan mendadak dapat melambat.
  • Postur terlalu maju menekan leher, bahu, dan punggung bawah, memicu kelelahan, menurunkan konsentrasi, serta berisiko menyebabkan gangguan tulang belakang jangka panjang.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Duduk terlalu dekat dengan setir mobil bisa bahaya. Kalau mobil tabrakan, kantong udara bisa kena dada, leher, atau wajah sangat keras. Tangan juga jadi susah memutar setir cepat. Leher, bahu, dan punggung bisa capek. Dada pengemudi sebaiknya berjarak paling sedikit 25 sentimeter dari setir.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Kebiasaan mengatur posisi duduk terlalu dekat dengan lingkar kemudi masih sering dijumpai pada banyak pengemudi di jalan raya. Posisi ini kerap dipilih karena dianggap mampu memberikan jarak pandang yang lebih jelas serta rasa kendali yang lebih mantap atas kendaraan.

Namun, di balik rasa nyaman dan aman semu tersebut, terdapat berbagai risiko keselamatan yang dapat membahayakan pengemudi. Memahami dampak bahaya dari postur berkendara yang salah sangat penting untuk mencegah cedera fatal saat terjadi kecelakaan.

1. Risiko cedera parah akibat benturan balon udara keselamatan

ilustrasi setir mobil (Pexels.com/Trần Long)

Kantong udara keselamatan atau airbag dirancang untuk mengembang dengan kecepatan tinggi saat terjadi benturan keras. Posisi dada yang terlalu menempel dengan setir membuat tubuh menerima hantaman penuh dari ledakan kantong udara tersebut.

Benturan keras dari kantong udara yang belum mengembang sempurna dapat menyebabkan cedera serius pada area dada, leher, hingga wajah. Jarak aman yang direkomendasikan antara dada dan pusat kemudi adalah minimal 25 sentimeter untuk meminimalkan risiko bahaya tersebut.

2. Keterbatasan ruang gerak tangan saat bermanuver mendadak

ilustrasi setir mobil (pexels.com/Alice B)

Duduk terlalu dekat dengan setir membuat posisi siku tertekuk terlalu dalam sehingga membatasi ruang gerak tangan. Kondisi ini menyulitkan pengemudi untuk memutar lingkar kemudi secara cepat dan tangkas ketika menghadapi situasi darurat di jalan raya.

Gerakan tangan yang terhalang oleh posisi tubuh sendiri berpotensi memperlambat reaksi saat harus menghindari rintangan mendadak. Keterbatasan manuver ini meningkatkan risiko kehilangan kendali atas kendaraan di tengah situasi krisis.

3. Peningkatan kelelahan fisik dan risiko gangguan kesehatan

ilustrasi setir teleskopik pada mobil (freepik.com/pvproduction)

Postur tubuh yang terlalu maju menciptakan tekanan berlebih pada otot leher, bahu, serta punggung bagian bawah. Posisi mengemudi yang tidak ergonomis ini membuat aliran darah menjadi kurang lancar selama perjalanan jauh.

Ketegangan otot yang berlangsung terus-menerus dapat memicu rasa lelah yang lebih cepat serta menurunkan konsentrasi saat mengemudi. Dalam jangka panjang, kebiasaan buruk ini dapat menyebabkan gangguan kesehatan tulang belakang yang cukup serius.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article