Tata Motors Gandeng Chery Produksi Mobil Listrik Premium

- Tata Motors menggandeng Chery untuk memproduksi mobil listrik premium berbasis platform Freelander, menandai langkah strategis baru dalam memperkuat posisi global di segmen kendaraan ramah lingkungan.
- Produksi akan dilakukan di pabrik Tamil Nadu dengan sistem perakitan lokal dari komponen impor, disertai target peningkatan kandungan lokal dan peluncuran model kedua pada 2029.
- Kerja sama ini mencerminkan ketergantungan teknologi India pada China di tengah pembatasan investasi politik, sekaligus upaya Tata Motors menaikkan porsi penjualan EV hingga 30 persen pada 2030.
Produsen otomotif terbesar di India, Tata Motors, secara resmi mengumumkan langkah strategis baru untuk mempercepat penetrasi mereka di pasar kendaraan ramah lingkungan global. Perusahaan memutuskan untuk menggunakan platform otomotif canggih milik pabrikan asal China, Chery, guna memproduksi lini kendaraan listrik (electric vehicle/EV) mewah. Kolaborasi lintas negara ini diharapkan mampu memulihkan momentum bisnis sekaligus menghidupkan kembali proyek kendaraan listrik premium mereka yang sempat tertunda.
Langkah ini menandai perubahan arah yang cukup signifikan dari rencana bisnis awal yang sudah disusun oleh Tata Motors sebelumnya. Sebagai pemimpin pasar mobil listrik di tanah airnya, Tata Motors memilih untuk beradaptasi dengan dinamika industri global demi mempertahankan daya saing eksternal. Sinergi teknologi ini menjadi bukti nyata bahwa keahlian manufaktur China di sektor elektrifikasi kini menjadi pilar yang semakin krusial bagi peta industri otomotif dunia.
1. Pemanfaatan platform freelander untuk membangkitkan proyek avinya

Berdasarkan laporan yang dihimpun pada pertengahan tahun 2026, Tata Motors akan melisensikan platform Freelander, sebuah arsitektur mutakhir yang dikembangkan melalui perusahaan patungan antara Chery dan Jaguar Land Rover (JLR) di China. Platform ini akan menjadi basis utama bagi pengembangan ulang jajaran mobil listrik mewah di bawah payung merek Avinya. Keputusan ini diambil setelah rencana awal menggunakan platform Electrified Modular Architecture (EMA) milik JLR batal terlaksana akibat perubahan kebijakan internal tahun lalu.
Melalui kerja sama pelisensian ini, Tata Motors dapat memangkas waktu riset secara signifikan serta menghemat biaya investasi yang masif jika harus mengembangkan struktur dari nol. Model perdana dari seri Avinya yang mengadopsi teknologi Chery ini dijadwalkan meluncur ke publik pada tahun 2027 mendatang. Mengenai komitmen global ini, pihak manajemen Tata Motors menyatakan, "Avinya sedang dikembangkan sebagai merek premium global. Kolaborasi kami dengan JLR dan para mitranya akan menjadi salah satu pilar penting dalam perjalanan global kami di segmen kendaraan listrik premium."
2. Skema perakitan lokal dan target peningkatan komponen domestik

Proses manufaktur dari lini mobil premium berbasis teknologi Chery ini akan dipusatkan di fasilitas pabrik baru milik Tata Motors yang terletak di Tamil Nadu, India bagian selatan. Pada tahap awal pelaksanaan proyek di tahun 2027, unit kendaraan akan dikirim dari China dalam bentuk komponen terurai (kit) untuk kemudian dirakit secara lokal oleh tenaga kerja domestik. Pola ini sengaja diterapkan untuk menjaga efisiensi logistik sekaligus memastikan kualitas kontrol perakitan tetap berada di bawah pengawasan ketat.
Meskipun awalnya mengandalkan pasokan komponen impor, upaya integrasi dan peningkatan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) sudah mulai berjalan di belakang layar. Setelah peluncuran model pertama, Tata Motors telah menjadwalkan kehadiran model EV premium kedua pada tahun 2029 dengan target lokalisasi suku cadang yang jauh lebih tinggi. Melalui skema produksi bertahap ini, Tata Motors berharap dapat menghadirkan kendaraan listrik mewah dalam skala besar dengan harga yang tetap kompetitif di pasar.
3. Ketergantungan teknologi di tengah batasan investasi politik global

Kemitraan antara Tata Motors dan Chery merefleksikan sebuah tren baru yang unik di dalam industri otomotif India, di mana para produsen lokal mulai mengandalkan teknologi China agar tidak tertinggal dalam persaingan EV. Di sisi lain, pemerintah India sendiri masih memberlakukan pembatasan investasi yang sangat ketat terhadap negara tetangga sejak tahun 2020. Kondisi politik ini memaksa pabrikan India untuk mengimpor lisensi teknologi murni tanpa melibatkan kemitraan kepemilikan saham yang lebih dalam dengan perusahaan China.
Bagi Chery, kesepakatan ini mempertegas peran mereka sebagai penyedia teknologi global terpercaya setelah sukses berkolaborasi dengan JLR. Langkah taktis ini dinilai sebagai solusi sementara yang krusial bagi Tata Motors, mengingat kompetitor domestik seperti Mahindra & Mahindra dan JSW MG Motor terus memperkecil jarak penjualan. Saat ini, EV menyumbang 14 persen dari total penjualan Tata Motors, dan perusahaan berambisi mendongkrak angka tersebut hingga melampaui 30 persen pada tahun 2030 melalui kehadiran lini premium baru ini.


















