Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
1 kWh Berapa Rupiah? Ini Rinciannya dan Cara Hitungnya
ilustrasi listrik rumah (pexels.com/Kleison Leopoldino)

  • Satu kWh setara penggunaan perangkat 1.000 Watt selama satu jam; konsumsi dihitung dari daya alat dibagi 1.000 lalu dikalikan durasi pemakaian.

  • Tarif listrik bervariasi menurut golongan pelanggan, dari Rp415 per kWh untuk rumah tangga 450 VA bersubsidi hingga Rp1.699,53 untuk daya rumah tangga lebih besar.

  • Token prabayar dipotong PPJ sekitar 3%; tagihan dipengaruhi daya perangkat dan kebiasaan penggunaan, sementara penghematan dapat dilakukan lewat LED, pengaturan AC, serta mencabut colokan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

1 kWh berapa rupiah? Pertanyaan ini mungkin sering terlintas di pikiranmu. Pasalnya, penggunaan listrik yang kita gunakan untuk kebutuhan sehari-hari memang diukur dengan satuan kWh (kilowatt-hour).

Dengan mengetahui besaran biaya listrik per kWh, kamu bisa lebih mudah memantau penggunaan listrik agar tidak boros dan tentunya dapat menghemat pengeluaran bulanan. Nah, buat kamu yang penasaran berapa rupiah biaya 1 kWh saat ini, yuk simak artikel lengkapnya berikut ini!

1. Satu kWh Berapa?

Ilustrasi listrik. (Pixabay)

Satuan kiloWatt hour (kWh) dipakai untuk menghitung total pemakaian energi listrik dalam jangka waktu tertentu. 1 kWh setara dengan penggunaan perangkat berdaya 1.000 Watt selama 1 jam. Sebagai contoh, mengoperasikan perangkat 1.000 Watt selama 2 jam akan menghabiskan 2 kWh, yang menjadi acuan utama perhitungan tagihan pascabayar maupun token listrik prabayar.

Rincian Tarif Listrik PLN Terbaru

Besaran biaya per kWh bervariasi sesuai dengan kategori daya dan jenis pelanggannya:

1. Sektor Rumah Tangga

  • 450 VA (R-1 Subsidi): Rp415 per kWh

  • 900 VA (R-1 Subsidi): Rp605 per kWh

  • 900 VA (R-1 Non-Subsidi): Rp1.352 per kWh

  • 1.300–2.200 VA (R-1 Non-Subsidi): Rp1.444,70 per kWh

  • 3.500–5.500 VA (R-2): Rp1.699,53 per kWh

  • Di atas 6.600 VA (R-3): Rp1.699,53 per kWh

2. Sektor Bisnis dan Industri

  • B-1 (450–5.500 VA): Rp1.444,70 per kWh

  • B-2 (6.600–200.000 VA): Rp1.444,70 per kWh

  • B-3 (Di atas 200.000 VA): Rp1.035,78 per kWh

Khusus untuk golongan daya besar, PLN menerapkan skema Time of Use (TOU) yang membedakan tarif antara Waktu Beban Puncak (WBP) dan Luar Beban Puncak (LWBP).

2. Cara Hitung Penggunaan Listrik

ilustrasi tagihan listrik, biaya listrik (magnific.com/freepik)

Rumus dasar untuk menghitung konsumsi energi listrik adalah sebagai berikut:

1. Menghitung Konsumsi Energi (kWh):

(Daya Alat (Watt) ÷ 1000) × Durasi Penggunaan (Jam) = Konsumsi Energi (kWh)

2. Menghitung Biaya per Hari (Rupiah):

Konsumsi Energi (kWh) × Tarif Listrik per kWh = Biaya per Hari

3. Menghitung Biaya per Bulan (30 Hari):

Biaya per Hari × 30 = Biaya per Bulan

Contoh sederhana:

Kulkas dua pintu dengan daya 200 Watt digunakan 8 jam: (200 ÷ 1000) × 8 = 1,6 kWh

Jika tarif listrik Rp1.444 per kWh, maka biaya penggunaan alat tersebut: 1,6 × 1.444 = Rp2.310,40 per hari

Dalam sebulan (30 hari): Rp2.310,40 × 30 = Rp69.312 per bulan

3. Kisaran Penggunaan Token Listrik

ilustrasi tagihan listrik (vecteezy.com/Jittawit Tachakanjanapong)

Bagi pengguna listrik prabayar, perhitungannya memiliki sedikit perbedaan. Banyak yang mengira pembelian token listrik sebesar Rp100.000 akan menghasilkan nilai listrik utuh tanpa potongan. Padahal, terdapat potongan Pajak Penerangan Jalan (PPJ) sekitar 3%, sehingga nilai token tidak sepenuhnya dikonversi menjadi kWh.

Sebagai ilustrasi, jika kamu membeli token Rp100.000 dan dikenakan PPJ 3%, maka pulsa efektif yang didapat berkisar di angka Rp97.000. Jumlah inilah yang nantinya dikonversi ke dalam satuan kWh berdasarkan golongan tarif listrik yang berlaku.

Berikut adalah perkiraan jumlah kWh bersih yang didapatkan setelah dipotong PPJ (berdasarkan asumsi tarif Rp1.444 per kWh):

  • Token Rp20.000: Pulsa efektif ±Rp17.000 (±13,2 kWh)

  • Token Rp50.000: Pulsa efektif ±Rp47.000 (±33,1 kWh)

  • Token Rp100.000: Pulsa efektif ±Rp97.000 (±66,2 kWh)

  • Token Rp250.000: Pulsa efektif ±Rp244.000 (±132,3 kWh)

  • Token Rp500.000: Pulsa efektif ±Rp494.000 (±328,9 kWh)

  • Token Rp1.000.000: Pulsa efektif ±Rp994.000 (±659,7 kWh)

Perlu dicatat bahwa perolehan angka kWh tersebut dapat berubah menyesuaikan tarif dasar listrik yang berlaku di tempat kamu.

4. Faktor yang Memengaruhi Tagihan Listrik

ilustrasi tagihan listrik dan air membengkak (freepik.com/Wavebreakmedia_micro)

Meskipun tarif per kWh tidak berubah, total tagihan listrik tetap bisa mengalami kenaikan atau penurunan akibat beberapa faktor berikut:

1. Besarnya Daya Perangkat

Peralatan elektronik berdaya tinggi seperti AC, kulkas berukuran besar, mesin produksi, freezer, serta oven listrik merupakan komponen utama yang menyumbang konsumsi kWh terbanyak.

2. Pemilihan Sistem Pembayaran (Prabayar vs Pascabayar)

  • Prabayar (Token): Memberikan kemudahan dalam memantau konsumsi secara langsung dan sifatnya lebih transparan.

  • Pascabayar: Tagihan dibayarkan pada akhir bulan, namun memiliki risiko terkena denda apabila terjadi keterlambatan pembayaran.

3. Pola dan Kebiasaan Penggunaan

  • Saat cuaca panas, AC cenderung dinyalakan dalam waktu yang lebih lama.

  • Ketika musim liburan, seluruh anggota keluarga menghabiskan waktu lebih banyak di rumah.

  • Jam operasional tempat usaha mengalami penambahan durasi. Perubahan kecil pada kebiasaan ini dapat memberikan dampak yang cukup besar pada total tagihan.

4.Kapasitas Daya yang Terpasang

Semakin tinggi kapasitas daya listrik di rumah atau tempat usaha, maka semakin tinggi pula tarif per kWh yang dikenakan. Oleh karena itu, penting untuk memilih daya yang sesuai dengan kebutuhan agar tidak berlebihan maupun kekurangan.

5. Tips Menghemat Tagihan Listrik

Membaca Tagihan Listrik (freepik.com/tirachardz)

Agar tagihan listrik kamu tidak membengkak, kamu bisa terapkan tips berikut untuk menghemat penggunaa listrik kamu, di antaranya:

  • Ganti lampu konvensional dengan lampu LED supaya konsumsi daya lebih efisien dan usia pakai lebih panjang.

  • Matikan lampu di siang hari serta maksimalkan pencahayaan matahari langsung dari luar.

  • Hidupkan lampu hanya pada ruangan yang aktif digunakan.

  • Cabut colokan dari stopkontak setiap kali peranti elektronik selesai dipakai.

  • Lepaskan charger ponsel maupun laptop jika tidak sedang mengisi daya guna menghindari arus listrik siaga (standby power).

  • Setel temperatur AC di kisaran 24°C agar bekerja secara ideal dan efisien.

  • Bersihkan saringan AC secara berkala untuk menjaga performa mesin tetap ringan.

  • Manfaatkan panas matahari langsung untuk mengeringkan pakaian ketimbang terus-menerus mengandalkan mesin pengering.

Itulah rincian tarif 1 kWh terbaru beserta cara hitung dan tips hematnya. Dengan mulai bijak menggunakan perangkat elektronik di rumah, dijamin dompet dan tagihan bulananmu bakal lebih aman. Semoga bermanfaat!

Curated For You

Editorial Team

Related Article