Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

AS Beberkan Rincian Kesepakatan Minyak 100 Tahun Bersama Venezuela

AS Beberkan Rincian Kesepakatan Minyak 100 Tahun Bersama Venezuela
Gedung Putih, Washington D.C. (unsplash.com/Tabrez Syed)
  • AS mengungkap konsesi 100 tahun atas 17 ladang minyak Venezuela berisi sekitar 65 miliar barel kepada NABEP, disertai hak saham dan pembelian produksi bagi pemerintah AS.
  • NABEP menyerahkan 35 persen saham kepada Pentagon, sementara Departemen Luar Negeri AS mendapat akses membeli produksi minyak; perusahaan juga berjanji investasi infrastruktur 100 miliar dolar AS.
  • Ladang yang sebelumnya terkait operator Rusia, China, serta kroni Maduro-Chavez akan memasok kilang AS dan cadangan strategis, meski Trump mengatakan penurunan harga bahan bakar memerlukan waktu.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Pemerintah Amerika Serikat (AS) merilis lembar fakta (fact sheet) di situs resmi Gedung Putih pada Senin (31/8/2026), yang mengungkap detail kesepakatan minyak dengan otoritas sementara Venezuela. Langkah ini diambil usai Presiden Donald Trump mengumumkan kerja sama besar tersebut guna memperkuat akses energi AS di Belahan Bumi Barat.

Melalui kesepakatan itu, otoritas Venezuela memberikan konsesi selama 100 tahun atas 17 ladang minyak dengan cadangan terbukti sekitar 65 miliar barel kepada perusahaan swasta North American Blue Energy Partners (NABEP). Dilansir Al Jazeera, kerja sama yang ditandatangani oleh Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth dan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio ini turut memberikan kepemilikan saham serta hak pembelian produksi minyak bagi pemerintah AS.

  1. 1. Ketentuan kepemilikan saham dan kontrol pemerintah AS

    ilustrasi barel minyak
    ilustrasi barel minyak (pexels.com/Tony Wu)

    Dilansir Al Jazeera, perusahaan NABEP yang dimiliki pebisnis Venezuela Alejandro Betancourt sepakat memberikan 35 persen saham ekuitas perusahaan induknya kepada Kantor Modal Strategis Departemen Pertahanan AS (Pentagon). Sementara itu, dilansir China Daily, NABEP memberi hak kepada Departemen Luar Negeri AS untuk membeli 20 persen hasil produksi dengan harga biaya produksi, serta hak penolakan pertama (right of first refusal) untuk membeli sisa 80 persen produksi lainnya.

    Pemerintah AS memiliki hak veto atas pengangkatan anggota dewan direksi NABEP. Lembar fakta Gedung Putih menyebutkan bahwa mayoritas anggota dewan direksi perusahaan tersebut wajib berkewarganegaraan AS. Seluruh kesepakatan antara pemerintah AS dan NABEP diatur di bawah hukum AS serta berada di bawah yurisdiksi pengadilan AS.

    Perusahaan NABEP berkomitmen mengucurkan investasi infrastruktur minyak baru senilai 100 miliar dolar AS atau setara Rp1.768,5 triliun. Dalam pernyatannya, Betancourt menyebut Venezuela "diberkahi dengan kelimpahan sumber daya alam, masyarakat yang bekerja keras, dan potensi yang belum tergali". Dia menambahkan bahwa kesepakatan ini akan "melepaskan potensi tersebut demi manfaat besar bagi masyarakat Venezuela maupun Amerika".

  2. 2. Pengambilalihan konsesi ladang minyak eks Rusia dan China

    ilustrasi kilang minyak
    ilustrasi kilang minyak (pexels.com/Ali Mucci)

    Otoritas sementara Venezuela yang dipimpin Presiden Penjabat Delcy Rodriguez menyerahkan hak pengelolaan 17 ladang minyak kepada NABEP, yang saat ini menjadi operator swasta terbesar kedua di Venezuela setelah Chevron. Gedung Putih menyatakan mayoritas ladang minyak tersebut sebelumnya dikuasai atau dioperasikan oleh perusahaan asal Rusia dan China.

    Pemerintah AS menegaskan bahwa area produksi tambahan tersebut dulunya juga dikelola oleh kroni korup mantan presiden Nicolas Maduro dan Hugo Chavez. Melalui kerja sama ini, jutaan barel minyak mentah Venezuela yang baru akan diolah melalui kilang minyak AS serta dipompa menggunakan anjungan dan infrastruktur milik AS.

    Dilansir China Daily, pemerintah AS menyatakan kerja sama minyak ini berlangsung tanpa mengeluarkan biaya sama sekali bagi pembayar pajak AS (zero cost). Kesepakatan ini dirancang untuk mengamankan dominasi energi AS hingga abad berikutnya.

  3. 3. Tujuan pengisian cadangan minyak dan situasi harga pasaran

    Presiden AS Donald Trump
    Presiden AS Donald Trump (Marc Nozell from Merrimack, New Hampshire, USA, CC BY 2.0, via Wikimedia Commons)

    Langkah Presiden Trump mempercepat akses ke industri minyak Venezuela telah berlangsung sejak operasi militer AS pada Januari 2026 yang menangkap Nicolas Maduro dan istrinya atas tuduhan "narkoterorisme" serta perdagangan narkoba. Trump menyampaikan bahwa minyak mentah berat dari Venezuela akan dimanfaatkan untuk mengisi kembali cadangan minyak strategis AS yang menyusut akibat perang dengan Iran, serta digunakan untuk memproduksi aspal dan komoditas lainnya.

    Trump mengakui bahwa konsumen di AS tidak akan langsung merasakan perubahan harga bahan bakar minyak secara instan. Menanggapi perkiraan para analis yang menyebutkan butuh waktu bertahun-tahun untuk memulihkan produksi minyak Venezuela, Trump menyatakan "itu bisa memakan sedikit waktu" agar harga turun. Namun, Trump menepis keraguan tersebut dengan menegaskan, "Jika itu memakan waktu dua tahun, kamu tahu, itu adalah jangka waktu yang singkat".

    Harga minyak mentah jenis Brent dilaporkan telah melonjak sekitar 28 persen di tengah operasi militer AS terhadap Iran. Dilansir China Daily, Trump dijadwalkan bertemu dengan para direktur kilang minyak skala besar dan kecil pada Selasa (1/9/2026) guna membahas langkah operasional lebih lanjut.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More