5 Orang yang Cocok Jadi Tester Makanan sebelum Buka Usaha Kuliner

- Sebelum membuka usaha kuliner, tester diperlukan untuk mengoreksi rasa, memilih menu yang berpotensi laku, dan memberi masukan bagi penyempurnaan produk.
- Tester ideal punya pengalaman jajan yang relevan dengan jenis makanan, mampu menjaga rahasia rencana serta resep usaha, dan jujur memberi kritik dengan cara membangun.
- Pilih tester yang mendukung niat berusaha sekaligus mewakili target pasar, tetapi tetap tetapkan waktu mulai usaha agar tidak ragu akibat terlalu banyak masukan.
Apakah kamu ada rencana bikin usaha yang berkaitan dengan makanan? Usaha ini memang menjanjikan mengingat banyak orang sekarang malas ribet masak setiap hari. Mending beli masakan siap santap.
Meski keluar lebih banyak uang, setidaknya mereka tidak capek dan membuang banyak waktu. Apalagi bagi orang-orang yang tak terlalu jago masak. Mereka sudah capek-capek masak, hasilnya belum tentu memuaskan dan habis disantap.
Namun, sebelum dirimu mulai menjalankan usaha sebaiknya ada tester untuk mencoba berbagai masakanmu. Peran tester penting buat mengoreksi rasa yang belum pas. Bahkan, mereka membantumu memilih menu yang lebih tepat supaya lebih laku saat dijual. Tester gak boleh sembarang orang. Kriterianya ada di bawah ini.
1. Orang yang suka jajan

ilustrasi menikmati hidangan (pexels.com/Rachel Claire) Semua orang tentu pernah jajan. Namun, frekuensinya berbeda-beda. Ada orang yang sering sekali jajan, sesekali saja, atau hanya ketika situasi darurat atau ditraktir. Kamu perlu mencari orang-orang yang hobi jajan buat menjadi tester.
Alasannya, pengalaman rasa mereka lebih banyak. Mereka dapat membandingkan masakanmu dengan berbagai makanan yang pernah dicobanya. Kalau mau lebih bagus lagi, pilih orang yang selera jajannya benar-benar sesuai jenis masakanmu.
Misal, kamu mau jualan makanan Korea. Kurang pas apabila testernya orang yang gemar jajan, tetapi masakan nusantara. Dengan memilih tester yang pengalaman jajannya banyak dan pas dengan produkmu diharapkan bisa kasih kamu masukan yang berharga.
2. Orang yang bisa jaga rahasia

ilustrasi siap mencicipi hidangan (pexels.com/PICHA) Bukan cuma teman curhat yang harus punya sifat dapat menjaga rahasia. Tester makanan sebelum kamu buka usaha kuliner juga sebaiknya gak suka membocorkan cerita. Kalau rencana usahamu tersebar dengan cepat, takutnya ada kompetitor yang merebut idemu.
Misal, dirimu mau buka warung ayam geprek di rumah. Tester masih tetangga sekitar dan dia kasih tahu tetangga kalian bahwa kamu hendak bikin usaha ayam geprek. Selang beberapa hari saja, salah satu tetangga tahu-tahu duluan buka usaha yang sama
Padahal, jarak rumahnya cukup dekat dengan rumahmu. Masa kamu hendak rencana usaha serupa? Dirimu belum punya pembeli satu pun, tetapi persaingan langsung berat. Kemampuan jaga rahasia juga penting supaya tak sedikit pun resep dan cara masakmu yang merupakan nadi usaha tersebar luas.
3. Orang yang jujur menilai, tapi gaya bicaranya gak nyakitin

ilustrasi menikmati makanan (pexels.com/rakhmat suwandi) Orang yang tidak enakan buat kasih kritik tak cocok untuk menjadi tester makanan. Kamu sedang sangat membutuhkan masukan yang jujur dan membangun. Bukan sekadar pujian masakanmu enak, padahal masih ada yang perlu diperbaiki.
Meski dirimu memiliki banyak saudara dan sahabat, apabila mereka cuma suka memuji demi membahagiakanmu jangan dijadikan tester. Pilih orang yang gak merasa terbebani buat kasih penilaian apa adanya. Namun, cara bicaranya jangan yang terlalu tajam.
Sebab, dirimu baru akan memulai usaha kuliner. Jangan sampai gaya penyampaian kritik yang terlalu negatif malah menjatuhkan mentalmu. Kamu menjadi tidak percaya diri buat menyempurnakan resep apalagi menjual masakanmu.
4. Orang yang tak meremehkan niatmu berusaha

ilustrasi siap menikmati hidangan (pexels.com/ธันยกร ไกรสร) Tugas tester sebetulnya tidak hanya menilai masakan enak atau gak. Lantaran dirimu akan menjadikan penilaian mereka dasar buat membuka usaha kuliner, kamu juga memerlukan suara dari orang yang suportif. Bukan karena mentalmu lembek.
Namun, menjadi pemula dalam usaha apa pun memang tidak mudah. Kebutuhanmu adalah dukungan agar lebih mantap menjalankan rencana usaha. Sekalipun resep masih perlu disempurnakan.
Bukan orang yang melihatmu mempersiapkan usaha justru bersikap meremehkan. Misalnya, dengan ia berkata usaha seperti itu mana laku? Paling buka sebentar terus bangkrut kehabisan modal untuk operasional. Setiap menu ciptaanmu dan semangatmu menjalankan usaha semestinya diapresiasi.
5. Orang yang mewakili target marketmu

ilustrasi menikmati makanan (pexels.com/Anna Tarazevich) Orang yang mewakili target usaha penting biar dirimu benar-benar tahu produk yang disukai mereka. Jangan sampai salah sasaran. Masih dengan contoh usaha ayam geprek. Menu ini memiliki rasa pedas dan tekstur kriuk dari ayam tepungnya.
Umumnya ayam geprek digemari oleh remaja dan dewasa muda. Usia belasan sampai 20-an tahun. Sementara dirimu yang sudah berumur di atas 30 tahun otomatis punya lebih banyak teman sepantar.
Mereka juga pasti mau menjadi tester, tetapi kurang pas dengan target pasarmu. Lebih baik mengajak beberapa orang dengan kriteria yang cocok untuk mencoba serta memberikan masukan. Sayang apabila kamu sudah berkali-kali minta bantuan tester, tapi produk tetap kurang diminati sebab tester gak mewakili selera target konsumen.
Mencari tester untuk produk makanan yang akan dijual mesti dilakukan dengan selektif. Kamu juga kudu punya keberanian untuk menetapkan target kapan usaha akan dimulai. Jangan sampai dirimu malah menjadi ragu setelah mendengar berbagai masukan dari tester.





















