Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Penyebab Utama Inflasi Tinggi Bikin Daya Beli Masyarakat Merosot
ilustrasi inflasi (pexels.com/Monstera Production)
  • Kenaikan harga BBM dan energi menaikkan biaya produksi, distribusi, serta transportasi, yang kemudian dapat mendorong harga makanan, kebutuhan rumah tangga, dan layanan ikut naik.
  • Gangguan rantai pasok global serta kenaikan harga pangan akibat gagal panen, cuaca ekstrem, mahalnya pupuk, atau distribusi terganggu membatasi pasokan dan meningkatkan biaya hidup.
  • Pelemahan rupiah membuat impor dan bahan baku lebih mahal, sementara permintaan yang melampaui pasokan mendorong harga naik; pendapatan yang tak sebanding berisiko menekan daya beli.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Inflasi tinggi sering terasa dari hal-hal sederhana dalam kehidupan sehari-hari, seperti harga makanan yang naik, ongkos transportasi yang makin mahal, hingga tagihan energi yang ikut meningkat. Kondisi ini bisa membuat pengeluaran rumah tangga membengkak karena uang yang sama hanya mampu membeli barang dan jasa dalam jumlah lebih sedikit. Lantas, apa penyebab utama inflasi tinggi yang bikin daya beli masyarakat merosot?

Secara sederhana, inflasi terjadi ketika harga barang dan jasa naik secara umum dalam periode tertentu. Penyebabnya bisa datang dari biaya produksi yang meningkat, gangguan pasokan, perubahan nilai tukar, sampai permintaan masyarakat yang tumbuh lebih cepat daripada ketersediaan barang. Berikut lima faktor utama yang perlu kamu pahami.

1. Kenaikan harga BBM dan energi

Ilustrasi SPBU (pexels.com/Alfin Auzikri)

Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dan energi bisa menjadi salah satu pemicu inflasi yang cukup besar. Pasalnya, energi digunakan dalam berbagai aktivitas ekonomi, mulai dari produksi barang, operasional pabrik, distribusi, hingga transportasi.

Ketika harga BBM naik, biaya pengiriman barang juga berpotensi meningkat. Produsen dan pelaku usaha kemudian bisa menyesuaikan harga jual untuk menutupi kenaikan biaya tersebut.

Efeknya dapat terasa sampai ke konsumen. Harga makanan, kebutuhan rumah tangga, hingga layanan transportasi bisa ikut naik sehingga pengeluaran bulanan bertambah.

2. Gangguan rantai pasok global

ilustrasi bahan baku tekstil di Maroko (unsplash.com/Wolfgang Hasselmann)

Rantai pasok atau supply chain berperan penting dalam memastikan bahan baku dan barang tersedia sesuai kebutuhan. Ketika terjadi gangguan akibat konflik, bencana alam, masalah transportasi, atau hambatan perdagangan, pasokan barang dapat berkurang.

Jika permintaan tetap tinggi sementara barang yang tersedia terbatas, harga cenderung mengalami kenaikan. Kondisi ini bisa semakin terasa pada barang yang bahan bakunya berasal dari luar negeri.

Gangguan rantai pasok juga dapat meningkatkan biaya produksi. Pada akhirnya, tambahan biaya tersebut berpotensi diteruskan kepada konsumen melalui kenaikan harga.

3. Kenaikan harga pangan (cost-push inflation)

Ilustrasi petani (pexels.com/Fahry Samalewa)

Pangan menjadi salah satu komponen yang sangat sensitif terhadap perubahan harga. Ketika harga bahan makanan seperti beras, minyak goreng, daging, sayuran, atau komoditas lainnya naik, biaya hidup masyarakat otomatis ikut meningkat.

Kenaikan ini bisa dipicu oleh gagal panen, cuaca ekstrem, biaya pupuk yang mahal, distribusi yang terganggu, atau pasokan yang terbatas. Kondisi tersebut termasuk cost-push inflation, yaitu inflasi yang terjadi karena meningkatnya biaya produksi.

Bagi masyarakat, kenaikan harga pangan biasanya cepat terasa karena makanan merupakan kebutuhan sehari-hari. Jika harga kebutuhan pokok naik terus, anggaran untuk kebutuhan lain bisa ikut tertekan.

4. Pelemahan nilai tukar mata uang

Ilustrasi uang rupiah (pexels.com/Defrino Maasy)

Nilai tukar rupiah juga dapat memengaruhi harga sejumlah barang dan bahan baku yang berasal dari luar negeri. Ketika rupiah melemah terhadap mata uang asing, biaya impor dapat menjadi lebih mahal.

Perusahaan yang masih bergantung pada bahan baku impor kemungkinan harus mengeluarkan biaya lebih besar. Jika kenaikan biaya tersebut diteruskan ke harga jual, konsumen akhirnya ikut merasakan dampaknya.

Pelemahan nilai tukar tidak selalu langsung membuat semua harga naik. Namun, jika terjadi bersamaan dengan faktor inflasi lainnya, tekanan terhadap harga barang dan jasa bisa semakin besar.

5. Peningkatan permintaan yang melebihi pasokan (demand-pull inflation)

ilustrasi mencatat stok barang (pexels.com/Tima Miroshnichenko)

Inflasi juga dapat terjadi ketika permintaan masyarakat meningkat lebih cepat daripada kemampuan produsen menyediakan barang dan jasa. Kondisi ini dikenal sebagai demand-pull inflation.

Misalnya, ketika daya beli dan aktivitas ekonomi meningkat, masyarakat membeli lebih banyak produk. Jika jumlah barang yang tersedia tidak mampu mengikuti kenaikan permintaan, harga dapat terdorong naik.

Dalam kondisi seperti ini, pertumbuhan permintaan yang terlalu cepat dapat menciptakan tekanan harga. Jika berlangsung cukup lama, dampaknya bisa terasa pada biaya hidup masyarakat secara keseluruhan.

Penyebab utama inflasi tinggi bisa berasal dari berbagai faktor, mulai dari kenaikan BBM dan energi, gangguan rantai pasok, harga pangan, pelemahan nilai tukar, hingga permintaan yang melampaui pasokan. Ketika harga kebutuhan terus meningkat sementara pendapatan tidak bertambah sebanding, daya beli masyarakat pun berpotensi menurun. Karena itu, memahami penyebab inflasi penting agar kamu bisa melihat bagaimana perubahan ekonomi memengaruhi kondisi keuangan sehari-hari.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article