Ada Rebalancing, Ekonom Sebut MSCI Belum Percaya Perbaikan Pasar Modal

- MSCI menghapus enam emiten Indonesia dari Global Standard Index tanpa menambah saham baru, menandakan masih adanya keraguan terhadap perbaikan pasar modal nasional.
- Bobot saham Indonesia di indeks MSCI turun dari 0,86 persen menjadi 0,63 persen, membuat posisinya tertinggal jauh dibanding negara Asia lain seperti India dan Thailand.
- Rebalancing MSCI memicu potensi capital outflow hingga 3,4 miliar dolar AS, menekan IHSG yang melemah hampir dua persen meski rupiah justru sedikit menguat.
Jakarta, IDN Times - Penyedia indeks global, Morgan Stanley Capital International (MSCI) telah mengumumkan rebalancing indeks untuk Mei 2026. Sebanyak enam emiten didepak dari MSCI Global Standard Index dan tidak ada saham baru yang masuk ke dalam indeks tersebut.
Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin menilai, keputusan MSCI tersebut sebagai bentuk rasa tidak percaya terhadap perbaikan yang dilakukan terhadap pasar modal Indonesia.
"Keputusan MSCI membekukan rebalancing saham Indonesia mengindikasikan MSCI menganggap otoritas pasar modal kita belum melakukan perbaikan terkait isu free float, investability, struktur kepemilikan dan kualitas saham/informasi," ujar Wijayanto kepada IDN Times, Kamis (14/5/2026).
1. Penurunan bobot saham Indonesia

Selain itu, Wijayanto juga menyoroti penurunan bobot saham Indonesia yang dilakukan MSCI. Bobot saham-saham Indonesia pun kini jauh menurun dibandingkan beberapa negara di Asia lainnya.
"Apalagi MSCI menurunkan weight kita dari 0,86 persen menjadi hanya 0,63 persen. Ini menempatkan Indonesia jauh di bawah India (sekitar 19 persen), Thailand (sekitar 2 persen), dan Malaysia (sekitar 1,5 persen)," kata dia.
2. Dampak rebalancing yang dilakukan MSCI ke pasar modal Indonesia

Adapun rebalancing saham-saham Indonesia yang dilakukan MSCI akan menimbulkan dampak langsung terhadap pasar modal Indonesia.
Untuk diketahui, saat ini Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Self Regulatory Organized (SRO) seperti Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) tengah melakukan reformasi integritas pasar modal yang dilakukan sejak awal 2026.
"Dampaknya pasar akan menghadapi tekanan jual dengan potensi capital outflow hingga 3,4 miliar dolar AS. IHSG berpotensi tertekan dan rupiah akan bernasib sama," kata Wijayanto.
3. Pergerakan IHSG dan kurs rupiah usai pengumuman rebalancing MSCI

Usai pengumuman rebalancing MSCI, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami pelemahan pada penutupan perdagangan Rabu (13/5/2026). Berdasarkan data RTI Business, IHSG ditutup melemah 135,58 poin (-1,98 persen) ke level 6.723,32.
Sementara itu, kurs rupiah berhasil menguat pada penutupan perdagangan, Rabu (13/5/2026) pada level Rp17.475,5 per dolar AS. Berdasarkan Bloomberg, rupiah menguat hingga 53 poin atau 0,30 persen dibandingkan penutupan kemarin.














![[QUIZ] Dari Golongan Darahmu, Ini Ide Bisnis yang Cocok Untukmu](https://image.idntimes.com/post/20240228/lisanto-fjxa21l-ihw-unsplash-a5b9962b3fc7f3cf62c097d65b42212c.jpg)
![[QUIZ] Terlalu Boros Gak Sih Kamu Bulan Ini? Cek di Sini](https://image.idntimes.com/post/20240628/1000117011-b8b330fe5c3838de293668c1427e3f28.jpg)


