ilustrasi dokumen (unsplash.com/Wesley Tingey)
Masalah terakhir adalah transformasi digital yang belum merata di berbagai sektor. Sektor kesehatan menjadi salah satu contoh paling jelas karena sejumlah rumah sakit di Jepang bahkan masih belum sepenuhnya melakukan digitalisasi dokumen pasien. Seorang pekerja rumah sakit di Jepang yang tidak disebutkan namanya menggambarkan banyaknya dokumen kertas yang masih menumpuk. Kondisi seperti ini menunjukkan bahwa sebagian organisasi masih harus menyelesaikan persoalan digitalisasi dasar sebelum bisa memanfaatkan AI secara maksimal.
Meski begitu, bukan berarti Jepang sama sekali gak mengalami kemajuan, lho. Kementerian Keuangan Jepang menyebut penggunaan AI oleh perusahaan sudah meningkat menjadi 75 persen, dibandingkan hanya 11 persen lima tahun sebelumnya. Namun, angka tersebut dikritik karena jumlah pekerja yang benar-benar menggunakan AI dan tingkat penggunaannya masih relatif terbatas. Beberapa perusahaan besar bahkan mulai memasukkan kemampuan atau literasi AI sebagai salah satu pertimbangan dalam perekrutan lulusan baru, sehingga perlahan-lahan perubahan mulai terlihat.
Pada akhirnya, lambatnya penggunaan AI di perusahaan Jepang bukan berarti negara tersebut gak tertarik dengan teknologi. Masalahnya lebih berkaitan dengan budaya perusahaan yang menghindari risiko, keterbatasan keterampilan digital, kekhawatiran terhadap lapangan kerja, serta sistem teknologi lama yang masih digunakan.
Pemerintah Jepang sendiri sudah berusaha mendorong adopsi AI melalui kebijakan yang lebih ramah terhadap pengembangan dan penggunaan teknologi tersebut. Jika perusahaan mulai lebih berani bereksperimen dan meningkatkan kemampuan digital pekerjanya, AI berpotensi menjadi salah satu solusi untuk membantu Jepang menghadapi masalah produktivitas dan kekurangan tenaga kerja.