5 Alasan Mengapa Perusahaan Jepang Masih Sangat Lambat Pakai AI

- Penggunaan AI oleh pekerja Jepang baru sekitar 8,4%, tertinggal dari AS dan Inggris, meski negara ini menghadapi kekurangan tenaga kerja, populasi menua, serta tantangan produktivitas.
- Budaya perusahaan yang konservatif, toleransi rendah terhadap kesalahan, dan kekhawatiran reputasi membuat AI umumnya dibatasi untuk tugas berisiko rendah seperti menulis, merangkum, dan mencari informasi.
- Keterampilan digital yang terbatas, sistem lama, transformasi digital belum merata, serta kekhawatiran pengurangan pekerjaan menghambat penerapan AI secara luas; perusahaan cenderung memilih perubahan bertahap.
Jepang dikenal sebagai salah satu negara dengan teknologi yang maju, tapi urusan penggunaan artificial intelligence (AI) di tempat kerja justru masih terbilang lambat. Kondisi ini cukup menarik karena Jepang sedang menghadapi kekurangan tenaga kerja, populasi yang menua, serta masalah produktivitas yang seharusnya bisa dibantu oleh teknologi.
Data dari Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) menunjukkan hanya sekitar 8,4 persen pekerja Jepang yang menggunakan AI dalam pekerjaannya. Angka tersebut jauh di bawah Amerika Serikat yang mencapai 50 persen (berdasarkan survei Gallup) dan Inggris sebesar 32 persen (berdasarkan survei Gallup). Lantas, kenapa perusahaan Jepang masih sangat hati-hati dalam menggunakan AI meski kebutuhan terhadap teknologi ini sebenarnya cukup besar?
1. Budaya perusahaan cenderung konservatif

ilustrasi suasana kerja (pexels.com/Karolina Grabowska) Salah satu alasan utama perusahaan Jepang masih lambat menggunakan AI adalah budaya kerja yang cenderung konservatif dan menghindari risiko. Austin Xu, salah satu pendiri perusahaan rintisan AI asal Amerika Serikat, menilai budaya konsensus di perusahaan Jepang dapat membuat proses pengambilan keputusan berjalan lebih lambat. Kondisi ini semakin terasa ketika perusahaan harus mempertimbangkan penggunaan teknologi baru yang masih memiliki kemungkinan melakukan kesalahan. Bagi sebagian perusahaan, mempertahankan cara kerja lama dianggap lebih aman daripada mengambil risiko menggunakan AI.
Risiko kesalahan juga menjadi perhatian besar, terutama untuk pekerjaan yang berhubungan langsung dengan pelanggan. Xu menjelaskan bahwa sejumlah perusahaan Jepang bahkan lebih memilih membiarkan sebuah posisi kosong daripada menyerahkan tugas tersebut kepada mesin yang berpotensi melakukan kesalahan. Situasinya berbeda dengan sebagian perusahaan di Amerika Serikat yang cenderung membiarkan AI mencoba membantu pekerjaan terlebih dahulu, kemudian memperbaiki kesalahan yang muncul. Perbedaan cara pandang inilah yang membuat proses adopsi AI di Jepang berjalan lebih hati-hati.
2. Takut terhadap kesalahan dan risiko reputasi

ilustrasi stres, takut, lelah, burnout (magnific.com/tirachardz) Bukan cuma soal budaya kerja, perusahaan Jepang juga sangat memperhatikan kemungkinan terjadinya kesalahan, ketidakpastian, serta risiko terhadap reputasi. Parrisa Haghirian, profesor manajemen internasional di Kyoto University of Advanced Science, menilai tantangan penggunaan AI di perusahaan Jepang sebenarnya mirip dengan tantangan ketika mereka ingin melakukan perubahan lainnya. Karena tingkat toleransi terhadap kesalahan cenderung rendah, perusahaan akhirnya memilih menggunakan AI untuk pekerjaan yang risikonya kecil.
Kondisi tersebut membuat AI lebih banyak digunakan untuk menulis, merangkum dokumen, atau mencari informasi dibandingkan untuk mengambil keputusan penting. Padahal, manfaat AI bisa jauh lebih besar jika teknologi tersebut digunakan untuk memperbaiki proses bisnis secara keseluruhan. Masalahnya, teknologi generative AI sendiri masih belum sepenuhnya dapat diandalkan sehingga perusahaan Jepang membutuhkan lebih banyak bukti sebelum memberikan kepercayaan yang lebih besar. Akibatnya, AI memang mulai digunakan, tapi belum benar-benar menjadi bagian penting dari operasional perusahaan.
3. Keterampilan digital pekerja masih terbatas

ilustrasi mengetik, keyboard, kerja depan komputer (magnific.com/DC Studio) Alasan lainnya berkaitan dengan kemampuan digital tenaga kerja. Prof Yasushi Ogasawara dari Meiji University menilai Jepang masih kekurangan pekerja yang memiliki kemampuan teknologi memadai, meskipun masyarakatnya cukup akrab dengan berbagai perangkat seperti smartphone. Menurutnya, tingginya penggunaan gadget gak otomatis berarti tingkat literasi digital masyarakat juga tinggi. Kondisi ini tentu bisa menjadi hambatan ketika perusahaan ingin memperluas penggunaan AI di tempat kerja.
Masalah kekurangan tenaga ahli teknologi juga diperkirakan semakin serius. Salah satu laporan dari Kementerian Ekonomi, Perdagangan, dan Industri Jepang (METI) menyebut Jepang berpotensi menghadapi kekurangan hampir 800.000 tenaga profesional IT pada 2030. Di sisi lain, banyak perusahaan masih menggunakan sistem komputer lama, bahkan sekitar 60 persen sistem tersebut disebut telah berusia lebih dari 20 tahun menurut laporan METI Jepang. Kalau fondasi teknologi perusahaan saja belum siap, penerapan AI secara luas tentu menjadi jauh lebih sulit.
4. Perusahaan masih khawatir AI mengurangi lapangan kerja

ilustrasi Tokyo, Jepang, pejalan kaki, crowd, perkotaan (unsplash.com/Cory Schadt) Penggunaan AI juga berhadapan dengan kekhawatiran mengenai dampaknya terhadap tenaga kerja. Ogasawara menjelaskan bahwa perusahaan Jepang menghadapi tekanan untuk menghindari kebijakan yang bisa meningkatkan pengangguran. Karena mempertahankan lapangan kerja menjadi prioritas, pengembangan teknologi yang berpotensi menggantikan sebagian pekerjaan manusia pun menjadi lebih rumit.
Pemerintah Jepang memang sudah mendorong perusahaan untuk meningkatkan keterampilan digital dan melakukan reskilling. Namun, Ogasawara menilai penerapannya gak semudah sekadar memberikan pelatihan baru kepada pekerja. Perusahaan perlu menyesuaikan kemampuan manusia dengan kebutuhan digital tanpa mengorbankan komitmen terhadap lapangan pekerjaan. Situasi tersebut akhirnya membuat perusahaan lebih memilih pendekatan bertahap daripada melakukan perubahan besar-besaran melalui AI.
5. Transformasi digital perusahaan belum merata

ilustrasi dokumen (unsplash.com/Wesley Tingey) Masalah terakhir adalah transformasi digital yang belum merata di berbagai sektor. Sektor kesehatan menjadi salah satu contoh paling jelas karena sejumlah rumah sakit di Jepang bahkan masih belum sepenuhnya melakukan digitalisasi dokumen pasien. Seorang pekerja rumah sakit di Jepang yang tidak disebutkan namanya menggambarkan banyaknya dokumen kertas yang masih menumpuk. Kondisi seperti ini menunjukkan bahwa sebagian organisasi masih harus menyelesaikan persoalan digitalisasi dasar sebelum bisa memanfaatkan AI secara maksimal.
Meski begitu, bukan berarti Jepang sama sekali gak mengalami kemajuan, lho. Kementerian Keuangan Jepang menyebut penggunaan AI oleh perusahaan sudah meningkat menjadi 75 persen, dibandingkan hanya 11 persen lima tahun sebelumnya. Namun, angka tersebut dikritik karena jumlah pekerja yang benar-benar menggunakan AI dan tingkat penggunaannya masih relatif terbatas. Beberapa perusahaan besar bahkan mulai memasukkan kemampuan atau literasi AI sebagai salah satu pertimbangan dalam perekrutan lulusan baru, sehingga perlahan-lahan perubahan mulai terlihat.
Pada akhirnya, lambatnya penggunaan AI di perusahaan Jepang bukan berarti negara tersebut gak tertarik dengan teknologi. Masalahnya lebih berkaitan dengan budaya perusahaan yang menghindari risiko, keterbatasan keterampilan digital, kekhawatiran terhadap lapangan kerja, serta sistem teknologi lama yang masih digunakan.
Pemerintah Jepang sendiri sudah berusaha mendorong adopsi AI melalui kebijakan yang lebih ramah terhadap pengembangan dan penggunaan teknologi tersebut. Jika perusahaan mulai lebih berani bereksperimen dan meningkatkan kemampuan digital pekerjanya, AI berpotensi menjadi salah satu solusi untuk membantu Jepang menghadapi masalah produktivitas dan kekurangan tenaga kerja.





















