Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Penyebab Produk UMKM Sulit Ditemukan Pembeli, Ini Solusinya

5 Penyebab Produk UMKM Sulit Ditemukan Pembeli, Ini Solusinya
Ilustrasi Bisnis. (IDN Times/Aditya Pratama)
  • Produk UMKM kerap sulit ditemukan karena nama dan deskripsi tidak memakai kata yang dicari pembeli, serta data usaha seperti alamat, jam buka, dan kontak belum lengkap.
  • Keterbatasan waktu membuat kanal digital tidak konsisten diperbarui; pelaku UMKM disarankan memprioritaskan perbaikan deskripsi lima produk terlaris secara bertahap.
  • Menggabungkan banyak produk dalam satu halaman dan mengharapkan hasil instan menghambat optimasi; setiap produk perlu halaman sendiri serta pengelolaan yang konsisten.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Banyak pelaku UMKM yang telah merambah kanal digital tetapi masih sepi pesanan karena produknya sulit ditemukan calon pembeli di mesin pencari.

Praktisi optimasi mesin pencari dari masdzikry.com, Moch Dzikry Nur Alam mengatakan, masalah itu umumnya bukan disebabkan oleh minimnya anggaran promosi, melainkan hal-hal dasar yang belum dirapikan. Dia mengatakan, ada lima penyebab mengapa produk UMKM sulit ditemukan oleh pembeli.

  1. 1. Penamaan produk tidak menggunakan kata yang diketik pembeli

    Ilustrasi Bisnis. (IDN Times/Aditya Pratama)
    Ilustrasi Bisnis. (IDN Times/Aditya Pratama)

    Banyak pemilik usaha memberi nama produk berdasarkan istilah internal atau nama merek tanpa mencantumkan kata kunci sederhana yang sering dicari konsumen. Solusinya, Dzikry menyarankan pelaku usaha untuk menuliskan nama dan deskripsi produk menggunakan bahasa sehari-hari yang dipakai pembeli, seperti menambahkan jenis produk dan lokasi kota tempat usaha berada.

    “Yang punya usaha nulis nama produknya pakai istilah sendiri, sementara pembelinya ngetik pakai bahasa sehari-hari. Dua-duanya benar, tapi tidak pernah ketemu,” ujar Dzikry dikutip Sabtu, (22/8/2026).

  2. 2. Informasi dasar usaha tidak diisi dengan lengkap

    ilustrasi bisnis (IDN Times/Aditya Pratama)
    ilustrasi bisnis (IDN Times/Aditya Pratama)

    Rincian seperti alamat, jam operasional, dan nomor kontak kerap diabaikan karena dianggap kurang penting. Padahal, informasi ini dibutuhkan mesin pencari untuk merekomendasikan bisnis kepada calon konsumen di sekitarnya.

    Solusi untuk masalah ini adalah melengkapi seluruh data dasar usaha agar sistem dapat menampilkan bisnis ketika ada calon pembeli yang mencari produk terdekat yang sedang buka.

    “Banyak yang lupa, orang mencari bukan cuma produknya, tapi juga yang paling dekat dan masih buka. Kalau informasinya kosong, ya tidak akan ditampilkan,” kata Dzikry.

  3. 3. Kurangnya konsistensi akibat keterbatasan waktu

    Ilustrasi Bisnis. (IDN Times/Aditya Pratama)
    Ilustrasi Bisnis. (IDN Times/Aditya Pratama)

    Kanal digital UMKM sering berhenti diperbarui karena pemilik usaha harus menangani produksi, penjualan, hingga pengiriman barang seorang diri. Sebagai solusinya, Dzikry menyarankan pendekatan bertahap daripada membuat rencana besar yang sulit direalisasikan.

    Merapikan deskripsi untuk lima produk terlaris secara fokus jauh lebih berdampak ketimbang membuat puluhan konten yang tidak menjawab kebutuhan pembeli.

    “Kendalanya bukan mau atau tidak mau, tapi waktu. Produksi, jualan, kirim barang, semua dikerjakan sendiri. Urusan konten selalu jadi yang terakhir,” tutur Dzikry.

  4. 4. Menumpuk seluruh produk dalam satu halaman

    Ilustrasi Belanja Online/Belanja di e-commerce. (IDN Times/Aditya Pratama)
    Ilustrasi Belanja Online/Belanja di e-commerce. (IDN Times/Aditya Pratama)

    Menggabungkan belasan jenis produk ke dalam satu halaman membuat mesin pencari kebingungan memahami fokus konten tersebut.

    Solusinya adalah memisahkan setiap produk ke dalam halaman tersendiri. Meskipun keterangannya singkat, satu halaman untuk satu produk akan memudahkan mesin pencari menilai relevansi halaman terhadap pencarian konsumen.

    “Kalau semua digabung jadi satu, mesin pencari bingung halaman itu sebenarnya soal apa. Lebih baik dipisah, satu produk satu halaman, walaupun isinya pendek,” ucap Dzikry.

  5. 5. Mengharapkan hasil instan dan terlalu cepat menyerah

    Ilustrasi Belanja Online/Belanja di e-commerce. (IDN Times/Aditya Pratama)
    Ilustrasi Belanja Online/Belanja di e-commerce. (IDN Times/Aditya Pratama)

    Proses optimasi membutuhkan waktu, namun banyak pemilik usaha memilih berhenti di bulan kedua atau tergiur jasa yang menjanjikan peringkat instan.

    Solusi terbaik dari Dzikry adalah tetap konsisten dan memahami dasar optimasi sendiri tanpa menyerahkan sepenuhnya kepada pihak lain. Sebab, pemilik usahalah yang paling memahami detail produknya untuk memberikan penjelasan paling akurat.

    “Hasilnya memang lama kelihatan, dan itu yang paling sering bikin orang berhenti. Padahal yang berhenti di bulan kedua biasanya cuma kurang sedikit lagi,” tutur Dzikry.

    Kemampuan membuat produk mudah ditemukan di pencarian digital kini menjadi keterampilan dasar yang krusial bagi pelaku UMKM. Kuncinya tidak membutuhkan biaya besar atau kemampuan teknis rumit, melainkan kesediaan menuliskan data usaha selengkap mungkin dengan bahasa yang digunakan pembeli sehari-hari.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More