Anak Muda Singapura Cemaskan Karier meski Tingkat Pengangguran Rendah

- Tingkat pengangguran muda Singapura mencapai 6,6 persen, tetapi banyak pekerja muda tetap cemas karena pekerjaan belum tentu memberi kepastian masa depan, kesejahteraan, atau rasa berkontribusi.
- Perkembangan AI, ketidakstabilan ekonomi, dan geopolitik membuat pilihan pendidikan, karier, serta kehidupan terasa lebih berisiko; banyak anak muda pun berpindah bidang untuk menemukan kecocokan.
- Sistem pendidikan dinilai belum sepenuhnya membentuk kemampuan menghadapi ambiguitas, kolaborasi, dan masukan tak terstruktur; perubahan arah karier dipandang wajar dalam proses mencari pilihan yang sesuai.
Bagi kamu yang melihat angka pengangguran sebagai patokan kondisi dunia kerja, situasi anak muda Singapura mungkin terlihat cukup baik. Tingkat pengangguran anak muda di negara tersebut hanya 6,6 persen, berdasarkan data Ministry of Manpower (MOM) Singapura dalam laporan Youths in the Labour Market 2025, dan termasuk salah satu yang rendah di dunia.
Namun, angka tersebut ternyata belum sepenuhnya menggambarkan keresahan yang dirasakan banyak anak muda ketika memikirkan masa depan kariernya. Mereka justru menghadapi pilihan pendidikan, pekerjaan, dan kehidupan yang semakin kompleks serta sulit diprediksi. Kondisi ini membuat perjalanan menuju masa dewasa terasa bukan lagi seperti menaiki tangga, melainkan melewati labirin dengan banyak pintu.
1. Pekerjaan ada, tapi belum tentu terasa menjanjikan

ilustrasi Singapura (unsplash.com/Florian Wehde) Rendahnya angka pengangguran memang menunjukkan bahwa banyak anak muda Singapura berhasil mendapatkan pekerjaan. Meski begitu, memiliki pekerjaan belum otomatis membuat seseorang merasa yakin dengan masa depannya. Chew Han Ei dari Singapore Management University menilai statistik ketenagakerjaan yang terlihat positif bisa menutupi persoalan lain, termasuk rendahnya keterlibatan anak muda di tempat kerja. Artinya, kamu bisa saja sudah bekerja tapi masih bertanya-tanya apakah pekerjaan tersebut benar-benar membawamu menuju kehidupan yang diinginkan.
Menurut Chew, bekerja gak selalu berarti seseorang merasa pekerjaannya berkontribusi terhadap masa depan dan kesejahteraan dirinya. Perasaan seperti ini bisa membuat karier terasa jalan di tempat meskipun secara status kamu sudah memiliki pekerjaan. Situasinya menjadi semakin rumit ketika kamu harus memilih antara pekerjaan yang aman dan pekerjaan yang terasa lebih sesuai dengan minat. Akhirnya, kecemasan bukan cuma muncul karena takut menganggur, tapi juga karena takut salah memilih jalan.
2. Dunia kerja membuat pilihan terasa semakin berisiko

ilustrasi universitas di Singapura (unsplash.com/Chunjiang) Anak muda sekarang menghadapi dunia yang berubah cukup cepat, mulai dari perkembangan kecerdasan buatan hingga ketidakstabilan ekonomi dan kondisi geopolitik. David Chua, CEO National Youth Council, melihat generasi muda saat ini semakin berhati-hati dalam mengambil keputusan. Menurutnya, pilihan terkait pendidikan, karier, dan hubungan terasa memiliki konsekuensi yang lebih besar karena lingkungan di sekitar mereka juga semakin kompleks. Hal ini membuat keputusan yang dulu mungkin terasa biasa kini bisa dipikirkan berkali-kali.
Kamu mungkin pernah merasakan situasi serupa ketika harus menentukan pekerjaan pertama atau mempertimbangkan untuk pindah karier. Dulu, jalur kehidupan sering digambarkan sederhana, seperti sekolah, kuliah, bekerja, lalu menetap di satu pekerjaan dalam waktu lama. Sekarang, banyak anak muda justru berpindah pekerjaan beberapa kali dan mencoba berbagai bidang untuk menemukan sesuatu yang cocok. Pilihan yang lebih banyak memang memberi kebebasan, tapi di saat bersamaan juga menghilangkan rasa nyaman karena gak ada satu jawaban yang dianggap paling benar.
3. Anak muda perlu belajar nyaman dengan ketidakpastian

ilustrasi warga Singapura (pexels.com/Kenny Foo) Lim Ee Ling, CEO Wavesparks, melihat adanya perbedaan antara kemampuan menyelesaikan sesuatu dan keyakinan untuk memberikan kontribusi. Sistem pendidikan cenderung membuat siswa terbiasa mengikuti struktur, memenuhi standar, serta mendapatkan penilaian berdasarkan hasil yang jelas. Sementara itu, dunia kerja membutuhkan kemampuan untuk bertanya, bekerja dengan orang yang berbeda, menerima masukan yang tidak selalu terstruktur, dan berani mencoba sesuatu. Karena itu, kemampuan berkontribusi membutuhkan keterampilan yang gak selalu terbentuk hanya dari nilai akademis.
David Chua juga menilai salah satu tantangan besar bagi anak muda adalah belajar menghadapi situasi yang ambigu dan merasa nyaman ketika berada dalam kondisi gak nyaman. Buat kamu, proses ini memang bisa terasa menakutkan karena gak selalu ada panduan langkah demi langkah. Namun, rasa percaya diri bisa tumbuh ketika kamu mulai berani mencoba, gagal, lalu belajar dari pengalaman tersebut. Rasa penasaran juga penting karena gak semua keputusan dalam karier memiliki jawaban yang sudah tersedia.
4. Gak masalah kalau kamu masih mencari arah

Ilustrasi tersenyum (pexels.com/jersy) Narasimman Tivasiha Mani, co-founder sekaligus executive director Impart, melihat banyak anak muda seperti menjalani kehidupan dalam pola yang sudah otomatis. Mereka melewati sekolah dasar, sekolah menengah, hingga pendidikan tinggi tanpa banyak kesempatan untuk benar-benar memikirkan pilihan dan otonomi pribadi. Pola seperti ini bisa membuat seseorang terbiasa mencari jawaban yang benar daripada memahami apa yang sebenarnya ingin dijalani. Ketika memasuki dunia kerja yang penuh pilihan, kebiasaan tersebut akhirnya bisa membuat proses menentukan arah terasa lebih membingungkan.
Attiya Ashraf Ali juga membagikan pandangan bahwa perubahan arah dalam hidup sebenarnya merupakan sesuatu yang wajar. Percakapan dengan profesornya setelah lulus membuatnya memahami bahwa berganti pekerjaan atau mengubah rencana bukan berarti seseorang gagal. Kamu boleh mengatakan bahwa kamu masih mencari tahu apa yang cocok, karena perjalanan karier memang gak selalu berjalan lurus. David Chua bahkan menekankan pentingnya lingkungan yang tidak menghakimi agar anak muda bisa mengatakan, "Saya masih mencari tahu," tanpa merasa tertinggal dari orang lain.
Kecemasan karier anak muda Singapura menunjukkan bahwa kondisi pasar kerja gak bisa hanya dilihat dari angka pengangguran. Memiliki pekerjaan memang penting, tapi rasa percaya diri terhadap masa depan, kesempatan berkembang, dan kemampuan beradaptasi juga punya peran besar.
Buat kamu yang sedang berada di fase mencari arah, gak perlu merasa harus langsung memiliki semua jawaban, ya. Karier bisa menjadi perjalanan dengan banyak belokan, dan pengalaman dari setiap pilihan dapat membantumu memahami jalan yang paling sesuai.
.jpg)




















