Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Analis Ungkap Penyebab Rupiah Anjlok ke Level Terendah
ilustrasi rupiah melemah (IDN TImes/Aditya Pratama)
  • Rupiah melemah hingga Rp17.845 per dolar AS akibat kombinasi tekanan eksternal seperti kuatnya dolar dan yield obligasi AS tinggi, serta kebutuhan valuta asing di dalam negeri.
  • Investor masih menunggu kejelasan tata kelola badan ekspor yang baru dibentuk, sehingga pasar saham mengalami aksi jual dari sebagian investor asing.
  • Pelemahan rupiah menekan dunia usaha berbasis impor, mendorong pengusaha melakukan efisiensi, memperkuat manajemen risiko, dan meningkatkan penggunaan instrumen lindung nilai.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Analis pasar uang Ariston Tjandra menilai pelemahan rupiah dalam beberapa waktu terakhir masih dipengaruhi kombinasi tekanan eksternal dan internal, terutama dari pasar obligasi Amerika Serikat (AS) serta meningkatnya kebutuhan valuta asing di dalam negeri.

Kondisi tersebut membuat rupiah pada perdagangan pagi hingga sore ini melemah hingga menyentuh level Rp17.845 per dolar AS. Level tersebut menjadi salah satu posisi terlemah rupiah dalam sejarah perdagangan.

"Indeks dolar AS masih bertahan di atas 99 pada pagi tadi dan masih di kisaran tinggi selama bulan Mei ini," katanya kepada IDN Times, Kamis (28/5/2026).

1. Sentimen dari pasar global dan domestik

ilustrasi analisis grafik pasar saham (unsplash.com/Jakub Żerdzicki)

Dari sisi global, Ariston menjelaskan, imbal hasil obligasi pemerintah AS (US Treasury) masih bertahan tinggi dan belum menunjukkan penurunan signifikan. Kondisi ini membuat dolar AS tetap menarik bagi investor global.

“Selama yield obligasi AS belum turun, dolar AS masih akan tetap kuat,” tuturnya.

Menurutnya, ketidakpastian geopolitik, termasuk perkembangan hubungan Amerika Serikat dan Iran serta ketegangan di kawasan Timur Tengah, juga turut menahan sentimen risiko global.

"Dari dalam negeri, tekanan perekonomian kita akibat kenaikan harga minyak dan pelemahan rupiah itu sendiri, ditambah exit asing dari bursa saham Indonesia, kebutuhan dolar yang banyak untuk repatriasi deviden dan pembayaran utang, juga memberikan tekanan ke rupiah," tuturnya.

2. Investor masih pantau implementasi badan ekspor

Infografis Skema PP Tata Kelola Ekspor Komoditas SDA. (IDN Times/Sukma Shakti)

Di sisi lain, pembentukan badan ekspor sejak pekan lalu juga masih menjadi perhatian investor terkait kejelasan tata kelolanya. Kondisi tersebut membuat pelaku pasar cenderung bersikap hati-hati, bahkan memicu sebagian investor asing melakukan aksi jual di pasar saham.

“Badan ekspor ini menjadi salah satu kekhawatiran pasar dan menjadi alasan sebagian investor keluar dari pasar saham sampai ada kejelasan lebih lanjut,” ujarnya.

3. Pengusaha lakukan efisiensi untuk jaga kas keuangan perusahaan

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Shinta Kamdani di Jakarta, Rabu (13/5/2025). (IDN Times/Trio Hamdani)

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Shinta Kamdani menilai pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS telah memberikan tekanan signifikan terhadap dunia usaha, khususnya bagi sektor yang masih memiliki ketergantungan tinggi pada bahan baku impor dan pembiayaan dalam valuta asing.

Kondisi tersebut dinilai berdampak langsung terhadap kenaikan biaya produksi, margin usaha, hingga perencanaan investasi perusahaan. Oleh karena itu, pengusaha melakukan berbagai langkah antisipatif agar tekanan eksternal tidak semakin membebani operasional perusahaan.

"Dari sisi antisipasi, perusahaan juga memperkuat strategi manajemen risiko secara lebih komprehensif. Penggunaan instrumen lindung nilai atau hedging terhadap fluktuasi nilai tukar semakin ditingkatkan, disertai dengan penataan struktur utang agar lebih seimbang antara rupiah dan valuta asing," ujar Shinta.

Dari sisi operasional, dunia usaha juga mulai mengedepankan langkah efisiensi untuk menjaga kesehatan keuangan perusahaan di tengah volatilitas pasar global. Upaya tersebut dilakukan melalui rasionalisasi belanja modal atau capex, optimalisasi modal kerja (working capital), hingga peningkatan produktivitas di berbagai lini usaha.

"Dengan kata lain, ruang adaptasi tetap ada, namun tidak sepenuhnya mampu mengimbangi besarnya tekanan eksternal yang terjadi saat ini," kata Shinta.

Editorial Team

Related Article