Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Shinta Kamdani di Jakarta, Rabu (13/5/2025). (IDN Times/Trio Hamdani)
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Shinta Kamdani menilai pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS telah memberikan tekanan signifikan terhadap dunia usaha, khususnya bagi sektor yang masih memiliki ketergantungan tinggi pada bahan baku impor dan pembiayaan dalam valuta asing.
Kondisi tersebut dinilai berdampak langsung terhadap kenaikan biaya produksi, margin usaha, hingga perencanaan investasi perusahaan. Oleh karena itu, pengusaha melakukan berbagai langkah antisipatif agar tekanan eksternal tidak semakin membebani operasional perusahaan.
"Dari sisi antisipasi, perusahaan juga memperkuat strategi manajemen risiko secara lebih komprehensif. Penggunaan instrumen lindung nilai atau hedging terhadap fluktuasi nilai tukar semakin ditingkatkan, disertai dengan penataan struktur utang agar lebih seimbang antara rupiah dan valuta asing," ujar Shinta.
Dari sisi operasional, dunia usaha juga mulai mengedepankan langkah efisiensi untuk menjaga kesehatan keuangan perusahaan di tengah volatilitas pasar global. Upaya tersebut dilakukan melalui rasionalisasi belanja modal atau capex, optimalisasi modal kerja (working capital), hingga peningkatan produktivitas di berbagai lini usaha.
"Dengan kata lain, ruang adaptasi tetap ada, namun tidak sepenuhnya mampu mengimbangi besarnya tekanan eksternal yang terjadi saat ini," kata Shinta.