Standar Keselamatan Transum Dinilai Belum Imbangi Kompleksitas Risiko

- Insiden kereta di Bekasi Timur menyoroti lemahnya sistem keselamatan transportasi Indonesia yang masih reaktif dan bergantung pada kedisiplinan pengguna, bukan pendekatan berbasis sistem.
- KNKT masih mengumpulkan data untuk investigasi kecelakaan, sementara berbagai faktor seperti kesalahan manusia dan infrastruktur lemah menunjukkan akar masalah bersifat sistemik dan berulang.
- MTI menilai belum ada perbaikan signifikan dalam keselamatan transportasi; tren kecelakaan justru meningkat karena kurangnya penerapan pilar education, engineering, dan enforcement secara konsisten.
Jakarta, IDN Times -Insiden kereta di Bekasi Timur beberapa waktu lalu kembali menyoroti satu masalah klasik dalam sistem transportasi Indonesia, namun respons yang cenderung muncul setelah kecelakaan terjadi, bukan sebelum risiko muncul. Evaluasi dan janji perbaikan menguat, namun penyebab utama insiden masih belum disimpulkan secara resmi.
Ketua Forum Konsumen Berdaya Indonesia Tulus Abadi menegaskan, keselamatan tidak bisa hanya bergantung pada kedisiplinan pengguna. Alhasil, pendekatan berbasis sistem jauh lebih penting dibanding hanya mengandalkan imbauan.
“Perlu berbagai rekayasa teknis yang berdimensi safety untuk menekan risiko fatalitas,” ujarnya.
1. Ratusan ribu menggunakan kereta api sepanjang 2025

Ia menjelaskan, skala persoalan ini semakin besar jika melihat tingginya mobilitas masyarakat. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan ratusan ribu penumpang menggunakan kereta api setiap hari sepanjang 2025. Di saat yang sama, lebih dari 300 ribu armada bus masih beroperasi di jalan raya, sementara sekitar 145 juta sepeda motor mendominasi pergerakan harian masyarakat.
Di tengah tingginya ketergantungan tersebut, standar keselamatan dinilai belum sepenuhnya mengimbangi kompleksitas risiko. Tragedi Bekasi Timur menjadi salah satu contoh terbaru bagaimana celah sistem bisa berujung pada insiden serius.
2. Proses investigasi masih di tahap pengumpulan data

Kepala KNKT Soerjanto Tjahjono menyampaikan, proses investigasi masih berada pada tahap pengumpulan data, karena penyelidikan membutuhkan waktu untuk memastikan setiap temuan dapat diverifikasi secara menyeluruh sebelum disimpulkan.
“Pada presentasi saat ini kami hanya menyajikan data faktual, tidak terdapat analisis dan tidak ada kesimpulan terhadap penyebab terjadinya kecelakaan,” ujarnya.
Meski proses investigasi belum tuntas, sejumlah pihak menilai pola persoalan dalam kecelakaan transportasi sebenarnya sudah dapat diidentifikasi sejak awal. Kecelakaan umumnya tidak dipicu oleh satu faktor tunggal, melainkan kombinasi berbagai elemen seperti kesalahan manusia, kondisi infrastruktur yang belum optimal, sistem operasional yang lemah, hingga minimnya kesiapsiagaan dalam situasi darurat. Hal ini menunjukkan, akar masalah kerap bersifat sistemik dan berulang, bukan sekadar insiden yang berdiri sendiri.
3. Belum ada perbaikan signifikan untuk sistem keselamatan transportasi

Dewan Penasihat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Djoko Setijowarno menilai kondisi tersebut mencerminkan belum adanya perbaikan signifikan dalam sistem keselamatan transportasi di Indonesia. Ia bahkan menyebut tren kecelakaan masih menunjukkan kecenderungan meningkat.
“Jadi sampai saat ini perkembangan positif untuk keselamatan transportasi jalan nampaknya belum ada. Justru, pelan-pelan terjadi peningkatan,” ujarnya.
Djoko menegaskan, keselamatan transportasi harus dibangun melalui tiga pilar utama, yakni education, engineering, dan enforcement. Namun dalam praktiknya, pendekatan yang berjalan masih cenderung reaktif dan baru menguat setelah kecelakaan terjadi. “Pencegahan lebih murah daripada penanganan setelah kecelakaan,” tuturnya.
Kondisi ini menjadi semakin memprihatinkan jika melihat besarnya angka fatalitas di jalan raya. Lebih dari 100 orang dilaporkan meninggal setiap hari akibat kecelakaan di Indonesia. Angka tersebut bukan berasal dari satu peristiwa besar, melainkan akumulasi kecelakaan harian yang kerap luput dari perhatian publik.
“Ya, negara ini masih abai terhadap keselamatan transportasi jalan,” kata Djoko.


















