Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Hipmi Minta Pemerintah Respons Cepat Pelemahan Rupiah

Hipmi Minta Pemerintah Respons Cepat Pelemahan Rupiah
- Calon Ketua Umum Badan Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (BPP HIPMI), Anthony Leong. (Dok/Istimewa).
Intinya Sih
  • Anthony Leong mendesak pemerintah segera mengambil langkah strategis menghadapi pelemahan rupiah yang menekan dunia usaha dan daya beli masyarakat.
  • Hipmi mendorong pemberian insentif sementara, percepatan substitusi impor, serta penguatan industri lokal agar biaya produksi tidak terganggu penguatan dolar.
  • Pemerintah diminta memperluas akses ekspor bagi UMKM, menjaga stabilitas harga energi dan pangan, serta menyeimbangkan kebijakan moneter demi keberlanjutan usaha nasional.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Jakarta, IDN Times - Calon Ketua Umum Badan Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (BPP Hipmi) periode 2026–2029, Anthony Leong, meminta pemerintah segera mengambil langkah strategis dan terukur dalam menghadapi penguatan dolar Amerika Serikat yang terus memberikan tekanan terhadap rupiah.

"Kondisi nilai tukar yang mendekati level Rp17.900 per dolar AS tidak cukup hanya dijawab dengan menjaga sentimen pasar, tetapi perlu direspons melalui kebijakan nyata yang mampu menjaga stabilitas dunia usaha dan daya beli masyarakat," tuturnya dalam keterangan tertulis, Kamis (28/5/2026).

Adapun pergerakan rupiah pada perdagangan pagi hingga sore ini melemah hingga menyentuh level Rp17.845 per dolar AS. Level tersebut menjadi salah satu posisi terlemah rupiah dalam sejarah perdagangan.

1. Perlu dukungan jangka pendek untuk industri makanan minuman, tekstil hingga elektronik

ilustrasi rupiah melemah (IDN TImes/Aditya Pratama)
ilustrasi rupiah melemah (IDN TImes/Aditya Pratama)

Anthony menilai sektor usaha nasional, khususnya industri yang masih bergantung pada bahan baku impor, saat ini menghadapi tekanan cukup berat akibat meningkatnya biaya produksi. Karena itu, pemerintah dinilai perlu memberikan dukungan jangka pendek bagi sektor-sektor produktif seperti makanan dan minuman, tekstil, elektronik, serta UMKM yang masih bergantung pada bahan baku impor.

“Pemerintah perlu menghadirkan insentif sementara agar pelaku usaha tetap mampu menjaga operasional dan tidak terbebani lonjakan biaya akibat penguatan dolar,” ujar Anthony.

2. Percepat subtitusi impor untuk perkuat struktur industri nasional

Ilustrasi ekspor-impor (Pixabay)
Ilustrasi ekspor-impor (Pixabay)

Menurutnya, bentuk dukungan tersebut dapat berupa pengurangan pajak, subsidi bunga kredit, relaksasi pembayaran pinjaman, hingga insentif logistik bagi sektor yang terdampak langsung oleh pelemahan rupiah. Ia mengingatkan, tanpa langkah cepat dari pemerintah, banyak pelaku usaha berpotensi mengalami penurunan margin yang dapat berujung pada pengurangan tenaga kerja.

Di sisi lain, Anthony menilai kondisi ini juga harus dijadikan momentum untuk mempercepat substitusi impor dan memperkuat struktur industri nasional. Ia mengatakan, Indonesia selama ini masih bergantung pada bahan baku impor, sehingga gejolak nilai tukar selalu berdampak langsung terhadap biaya produksi dalam negeri.

Karena itu, ia mendorong pemerintah mempercepat industrialisasi, membangun rantai pasok lokal yang kuat, memprioritaskan penggunaan produk dalam negeri, serta memberikan insentif kepada perusahaan yang meningkatkan tingkat komponen dalam negeri (TKDN).

“Jika bahan baku lokal semakin kuat, maka tekanan dari penguatan dolar tidak akan langsung mengganggu biaya produksi nasional. Ini momentum untuk memperkuat industri dalam negeri secara serius,” kata Anthony.

3. Perluas akses UMKM masuk pasar global

ilustrasi rupiah melemah (IDN TImes/Aditya Pratama)
ilustrasi rupiah melemah (IDN TImes/Aditya Pratama)

Anthony juga menilai pelemahan rupiah dapat menjadi peluang bagi Indonesia untuk meningkatkan kinerja ekspor. Ia mendorong pemerintah memperluas akses UMKM ke pasar global melalui pembiayaan ekspor yang lebih terjangkau, pelatihan digital ekspor, fasilitasi sertifikasi internasional, serta perluasan akses ke platform perdagangan global.

Menurutnya, pengusaha Indonesia perlu didorong agar memiliki sumber pendapatan berbasis dolar sehingga tidak hanya bergantung pada pasar domestik.

“Rupiah yang melemah juga bisa menjadi peluang untuk meningkatkan ekspor dan memperkuat daya saing produk Indonesia di pasar internasional,” ujarnya.

Selain sektor industri dan ekspor, Anthony juga menekankan pentingnya menjaga stabilitas energi dan pangan nasional. Ia meminta pemerintah menjaga harga BBM, listrik, dan bahan pangan pokok agar inflasi tetap terkendali dan daya beli masyarakat terjaga.

4. Perlu jaga stabilitas rupiah dan keberlanjutan dunia usaha

ilustrasi rupiah melemah (IDN TImes/Aditya Pratama)
ilustrasi rupiah melemah (IDN TImes/Aditya Pratama)

Menurutnya, konsumsi domestik masih menjadi penopang utama ekonomi Indonesia sehingga stabilitas harga kebutuhan masyarakat harus menjadi prioritas di tengah tekanan global. Ia juga mengingatkan agar kebijakan stabilisasi rupiah tidak sepenuhnya mengandalkan kenaikan suku bunga yang terlalu agresif. Menurutnya, suku bunga tinggi berisiko memperlambat penyaluran kredit, menahan investasi, dan melemahkan konsumsi masyarakat.

“Yang harus dijaga adalah keseimbangan antara stabilitas rupiah dan keberlanjutan dunia usaha. Jangan sampai pelaku usaha kehilangan ruang untuk tumbuh akibat tekanan biaya dan suku bunga yang terlalu tinggi,” kata Anthony.

Anthony optimistis Indonesia tetap mampu menghadapi tekanan ekonomi global apabila pemerintah fokus memperkuat sektor produktif, memperluas ekspor, menjaga daya beli masyarakat, serta memperkuat ketahanan UMKM sebagai fondasi perekonomian nasional.

“Krisis nilai tukar harus menjadi momentum transformasi ekonomi nasional agar Indonesia lebih mandiri, produktif, dan tidak terus bergantung pada impor,” tutur Anthony Leong

Share Article
Topics
Editorial Team
Jujuk Ernawati
EditorJujuk Ernawati

Related Articles

See More