ilustrasi startup (pexels.com/fauxels)
Setelah memahami keuntungan dan risikonya, mungkin kamu mulai tertarik mencoba strategi ini. Namun, memulai bisnis dengan modal sendiri tetap membutuhkan perencanaan. Jangan sampai keinginan menghemat pengeluaran justru membuat kualitas produk dan pelayanan menurun.
Berikut beberapa langkah yang dapat dilakukan.
1. Hitung modal minimum yang dibutuhkan
Sebelum memulai, catat seluruh kebutuhan utama bisnis, seperti bahan baku, peralatan, kemasan, operasional, hingga biaya marketing. Pisahkan kebutuhan yang benar-benar penting dari pengeluaran yang masih bisa ditunda. Misalnya, bisnis online yang baru berjalan belum tentu membutuhkan kantor khusus jika seluruh pekerjaan masih dapat dilakukan dari rumah.
2. Mulai dari produk yang paling dibutuhkan pasar
Daripada langsung meluncurkan banyak produk, sebaiknya fokus pada satu atau beberapa produk yang memiliki peluang penjualan paling jelas. Bagi startup digital, pendekatan ini dapat dilakukan melalui Minimum Viable Product (MVP), yaitu versi awal produk dengan fitur penting yang cukup untuk diuji oleh pengguna. Tujuannya agar founder bisa mendapatkan feedback sebelum mengeluarkan lebih banyak biaya untuk pengembangan.
3. Cari customer pertama secepat mungkin
Dalam bootstrapping, pendapatan dari customer menjadi salah satu sumber utama untuk menjaga keberlangsungan bisnis. Karena itu, jangan terlalu lama hanya mempersiapkan logo, kemasan, atau tampilan website tanpa mencoba menjual produk.
Kamu bisa memulainya melalui promosi organik, komunitas yang relevan, atau sistem pre-order untuk menguji minat pasar. Namun, pastikan pesanan yang diterima dapat dipenuhi sesuai waktu dan kualitas yang dijanjikan.
4. Gunakan strategi marketing yang efisien
Tidak semua aktivitas marketing membutuhkan anggaran besar. Bisnis bisa memanfaatkan konten media sosial, rekomendasi customer, kolaborasi dengan usaha lain, atau optimasi SEO untuk memperkenalkan produknya.
Jika ingin menjalankan iklan berbayar, mulailah dengan anggaran yang sesuai kemampuan dan evaluasi hasilnya sebelum meningkatkan pengeluaran.
5. Pisahkan keuangan pribadi dan bisnis
Kesalahan yang sering dilakukan pemilik usaha kecil adalah mencampur uang pribadi dengan pendapatan bisnis. Padahal, kebiasaan tersebut bisa membuat founder kesulitan mengetahui apakah usaha benar-benar menghasilkan keuntungan. Karena itu, buat pencatatan keuangan yang jelas dan pisahkan rekening bisnis jika memungkinkan.
6. Putar kembali sebagian keuntungan
Ketika bisnis mulai menghasilkan keuntungan, tentukan berapa bagian yang akan digunakan untuk pengembangan usaha dan berapa yang perlu disimpan sebagai cadangan. Dana tersebut dapat digunakan untuk membeli bahan baku, memperbaiki produk, menambah peralatan, atau meningkatkan kapasitas operasional.
Namun, hindari menghabiskan seluruh kas untuk ekspansi. Bisnis tetap membutuhkan dana cadangan untuk menghadapi pengeluaran yang tidak terduga.