Apa Itu Liquidity Trap dan Kenapa Bisa Bikin Ekonomi Mandek?

- Tingginya tabungan bikin kebijakan moneter tumpul. Perangkap likuiditas dipicu oleh tingginya tabungan masyarakat yang membuat kebijakan moneter tidak efektif.
- Suku bunga rendah jadi indikator awal. Suku bunga rendah dan minimnya pemegang obligasi menjadi indikator munculnya liquidity trap.
- Ciri utama liquidity trap. Liquidity trap terjadi saat konsumen menimbun uang tunai, suku bunga sangat rendah, perekonomian resesi, dan kebijakan moneter tidak efektif.
Jakarta, IDN Times - Liquidity trap atau perangkap likuiditas terjadi ketika konsumen dan investor lebih memilih menyimpan uang tunai dibandingkan membelanjakan atau menginvestasikannya.
Hal itu terjadi meskipun suku bunga sudah berada di level rendah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Kondisi ini membuat kebijakan moneter tidak berjalan efektif dan berpotensi menahan laju aktivitas ekonomi.
Dilansir Investopedia, fenomena tersebut muncul ketika dorongan melalui penurunan suku bunga tidak lagi direspons oleh masyarakat, sehingga peredaran uang di sektor riil melambat.
1. Tingginya tabungan bikin kebijakan moneter tumpul

Perangkap likuiditas umumnya dipicu oleh tingginya tingkat tabungan masyarakat yang didorong kekhawatiran akan kondisi ekonomi ke depan. Dalam situasi ini, kebijakan moneter cenderung kehilangan daya dorongnya.
Saat suku bunga sudah mendekati atau berada di level nol, bank sentral tidak memiliki ruang untuk kembali memangkas suku bunga. Penambahan jumlah uang beredar pun dinilai tidak efektif karena dana tersebut tetap disimpan oleh masyarakat.
Kekhawatiran terhadap potensi peristiwa ekonomi negatif menjadi faktor penting dalam memahami kondisi ini. Ketika konsumen memilih menimbun uang tunai dan melepas obligasi, harga obligasi turun dan imbal hasilnya meningkat.
Namun, kenaikan imbal hasil tersebut tidak serta-merta menarik minat beli karena harga obligasi terus melemah. Dalam kondisi itu, masyarakat lebih memilih memegang uang tunai meskipun imbal hasilnya rendah.
Dampak lain dari liquidity trap terlihat pada sektor perbankan yang kesulitan menarik peminjam berkualitas. Suku bunga yang sudah sangat rendah membuat ruang pemberian insentif tambahan semakin terbatas.
Minimnya minat meminjam ini tercermin di berbagai sektor, mulai dari kredit usaha, kredit pemilikan rumah (KPR), hingga kredit kendaraan bermotor.
2. Suku bunga rendah jadi indikator awal

Salah satu indikator munculnya liquidity trap adalah suku bunga yang rendah. Kondisi ini memengaruhi perilaku pemegang obligasi. Hal itu terjadi terutama saat kekhawatiran terhadap kondisi keuangan negara meningkat. Akibatnya, terjadi penjualan obligasi yang justru memberi tekanan tambahan pada perekonomian.
Di sisi lain, konsumen cenderung menyimpan dana di rekening tabungan berisiko rendah. Ketika bank sentral menambah likuiditas, harapannya dana tersebut mengalir ke aset berimbal hasil lebih tinggi seperti obligasi. Namun dalam situasi liquidity trap, tambahan likuiditas tersebut justru mengendap di rekening kas dan tidak mengalir ke sektor produktif.
Suku bunga rendah saja belum cukup untuk disebut sebagai liquidity trap. Kondisi ini juga ditandai dengan minimnya pemegang obligasi yang ingin mempertahankan asetnya serta terbatasnya investor yang bersedia membeli. Dalam situasi tersebut, investor lebih memilih menahan uang tunai dibandingkan menempatkannya pada instrumen investasi.
3. Contoh negara yang mengalami liquidity trap

Liquidity trap terjadi ketika konsumen, investor, dan pelaku usaha secara bersamaan memilih menimbun uang tunai, sehingga perekonomian menjadi kurang responsif terhadap kebijakan yang bertujuan mendorong aktivitas ekonomi.
Beberapa karakteristik utama dari kondisi ini antara lain suku bunga berada di level sangat rendah atau mendekati nol persen, perekonomian berada dalam fase resesi, tingkat tabungan pribadi relatif tinggi, inflasi rendah atau terjadi deflasi, serta kebijakan moneter ekspansif yang tidak berjalan efektif.
Jepang tercatat mengalami liquidity trap sejak awal 1990-an. Kondisi ini ditandai dengan penurunan suku bunga yang agresif, namun tidak diikuti peningkatan investasi. Sepanjang dekade 1990-an, perekonomian Jepang juga dibayangi deflasi, bahkan hingga 2022 negara tersebut masih menerapkan suku bunga negatif sebesar -0,1 persen.
Tekanan ekonomi turut tercermin di pasar saham. Indeks saham utama Jepang, Nikkei 225, merosot tajam dari puncaknya di atas 38.000 pada Desember 1989.
Hingga awal 2023, indeks tersebut masih berada jauh di bawah level tertingginya. Nikkei 225 sempat menyentuh level tertinggi dalam beberapa tahun di atas 29.000 pada Agustus 2022, sebelum kembali melemah ke kisaran 27.500 sekitar sebulan kemudian.
Bank sentral Jepang sebelumnya telah menurunkan suku bunga hingga level 0 persen. Namun demikian, investasi, konsumsi, dan inflasi tetap bergerak terbatas selama beberapa tahun setelah puncak krisis, mencerminkan sulitnya perekonomian keluar dari jeratan liquidity trap.



















