Apa Itu Skytrax yang Pangkas Peringkat Garuda Indonesia?

- Skytrax adalah lembaga konsultan penerbangan asal Inggris yang menilai kualitas layanan maskapai dan bandara dunia melalui survei penumpang global.
- Dibentuk tahun 1989 oleh Edward Plaisted, Skytrax dikenal lewat penghargaan World Airline Awards yang dijuluki “Oscar industri penerbangan”.
- Peringkat Garuda Indonesia turun dari bintang 5 menjadi bintang 4 karena penurunan standar produk dan fasilitas, meski layanan staf dinilai tetap baik.
Jakarta, IDN Times - Maskapai nasional Garuda Indonesia mengalami penurunan peringkat dalam pemeringkatan maskapai global yang dirilis lembaga pemeringkat penerbangan Skytrax. Perubahan peringkat itu membuat Garuda Indonesia menjadi sorotan publik.
Skytrax dikenal luas melalui rilis daftar maskapai terbaik dunia yang diumumkan setiap tahun. Ketika peringkat sebuah maskapai berubah—naik ataupun turun—dampaknya bisa mempengaruhi persepsi pelanggan hingga citra industri penerbangan suatu negara.
Lalu, sebenarnya apa itu Skytrax dan bagaimana sejarah berdirinya lembaga tersebut?
1. Apa itu Skytrax?

Skytrax merupakan perusahaan konsultan penerbangan internasional yang berbasis di Inggris. Lembaga itu dikenal luas karena melakukan penilaian kualitas layanan maskapai dan bandara di seluruh dunia.
Penilaian Skytrax biasanya mencakup berbagai aspek pengalaman penumpang, mulai dari proses check-in, kenyamanan kabin, layanan awak kabin, makanan di pesawat, hingga fasilitas bandara. Data yang digunakan umumnya berasal dari survei pelanggan maskapai yang dikumpulkan secara global.
Hasil evaluasi tersebut kemudian dirangkum dalam berbagai penghargaan dan peringkat, seperti daftar World’s Best Airlines atau maskapai terbaik dunia. Banyak maskapai menjadikan hasil pemeringkatan ini sebagai indikator reputasi layanan mereka di mata penumpang internasional.
Selain maskapai, Skytrax juga menilai bandara melalui program World Airport Awards, yang menilai kualitas fasilitas dan pelayanan bandara dari sudut pandang penumpang.
2. Sejarah berdirinya Skytrax

Skytrax didirikan pada 1989 oleh konsultan penerbangan asal Inggris, Edward Plaisted. Awalnya perusahaan ini fokus pada riset pasar di industri penerbangan.
Seiring waktu, Skytrax mulai mengembangkan sistem pemeringkatan layanan maskapai dan bandara. Pada akhir 1990-an, perusahaan ini meluncurkan survei penumpang global yang kemudian menjadi dasar penghargaan tahunan industri penerbangan.
Penghargaan paling terkenal yang diberikan Skytrax adalah World Airline Awards, yang sering disebut sebagai “Oscar industri penerbangan”. Ajang itu mengumumkan maskapai terbaik dunia berdasarkan hasil survei jutaan penumpang dari berbagai negara. Kini, hasil penilaian Skytrax sering digunakan oleh maskapai sebagai alat pemasaran sekaligus tolok ukur kualitas layanan di industri penerbangan global.
3. Peringkat Garuda Indonesia turun dari bintang 5 jadi bintang 4

Garuda Indonesia sendiri telah menyandang bintang 5 Skytrax (5-Star Airline) sejak 2014. Namun, pada 2026 ini, peringkat Garuda Indonesia turun menjadi bintang 4 alias 4-Star Airline.
Dalam situs resminya, Skytrax menyatakan, penurunan peringkat itu disebabkan pesawat dan fasilitas darat baik di Jakarta dan Denpasar yang sudah usang, sehingga perlu ditingkatkan atau dimodernisasi.
“Meskipun standar layanan staf tetap baik, standar produk telah menurun terlalu banyak dalam beberapa tahun terakhir untuk mempertahankan tingkat peringkatnya,” tulis Skytrax.
Dikutip dari keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), manajemen Garuda Indonesia menjelaskan, penurunan peringkat dari Skytrax itu. Manajemen menyatakan, peringkat bintang 4, meliputi kualitas layanan kabin dan pelayanan awak kabin, di mana berdasarkan hasil penilaian Skytrax.
“Standar layanan yang disediakan oleh perseroan sudah tidak lagi relevan dengan standar maskapai bintang 5,” tulis manajemen Garuda Indonesia.
Perusahaan menyatakan, saat ini tengan menjalankan berbagai pembenahan mendasar melalui penyusunan peta jalan atau roadmap peningkatan layanan secara menyeluruh, yang mencakup perbaikan dan penyegaran terhadap sejumlah touch points perjalanan penumpang.



















