Benarkah Garuda Indonesia Tak Lagi Bintang 5 Skytrax? Cek Faktanya!

- Skytrax resmi menurunkan peringkat Garuda Indonesia dari 5-Star menjadi 4-Star Airline karena penurunan standar produk dan fasilitas yang dinilai sudah usang di beberapa titik layanan utama.
- Manajemen Garuda Indonesia mengakui hasil penilaian tersebut dan tengah menjalankan roadmap pembenahan menyeluruh untuk meningkatkan kualitas layanan, inovasi produk, serta pengalaman pelanggan.
- Penurunan peringkat disebut tidak berdampak material pada operasional maupun keuangan perusahaan, sementara Garuda fokus mempercepat transformasi layanan demi merebut kembali status maskapai bintang lima.
Jakarta, IDN Times - Maskapai pelat merah Garuda Indonesia kembali menjadi sorotan dengan beredarnya kabar penurunan peringkat bintang 5 dari Skytrax.
Garuda Indonesia sendiri telah menyandang bintang 5 Skytrax (5-Star Airline) sejak 2014. Benarkah kabar tersebut? Bagaimana faktanya?
1. Skytrax perbaharui peringkat Garuda Indonesia

Lembaga pemeringkat transportasi udara internasional itu telah merilis secara resmi peringkat baru Garuda Indonesia menjadi maskapai penyandang bintang 4 alias 4-Star Airline.
Dalam situs resminya, Skytrax menyatakan penurunan peringkat itu disebabkan pesawat dan juga fasilitas darat baik di Jakarta dan Denpasar yang sudah usang, sehingga perlu ditingkatkan atau dimodernisasi.
“Meskipun standar layanan staf tetap baik, standar produk telah menurun terlalu banyak dalam beberapa tahun terakhir untuk mempertahankan tingkat peringkatnya,” tulis Skytrax dikutip Sabtu, (7/3/2026).
Dengan demikian, maka kabar mengenai peringkat Garuda Indonesia dari Skytrax turun adalah fakta.
2. Garuda Indonesia lakukan pembenahan

Dikutip dari keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), manajemen Garuda Indonesia menjelaskan penurunan peringkat dari Skytrax itu.
Manajemen menyatakan, peringkat bintang 4 itu mencakup meliputi kualitas layanan kabin dan pelayanan awak kabin, di mana berdasarkan hasil penilaian Skytrax.
“Standar layanan yang disediakan oleh perseroan sudah tidak lagi relevan dengan standar maskapai bintang lima,” tulis manajemen Garuda Indonesia.
Perusahaan menyatakan saat ini tengan menjalankan berbagai pembenahan mendasar melalui penyusunan peta jalan atau roadmap peningkatan layanan secara menyeluruh, yang mencakup perbaikan dan penyegaran terhadap sejumlah touch points perjalanan penumpang.
“Ke depan, Perseroan akan terus mengoptimalkan positioning sebagai maskapai full service carrieryang mengedepankan konsep Indonesian Hospitality melalui penguatan kualitas layanan, inovasi produk, serta peningkatan pengalaman pelanggan di berbagai titik layanan. Upaya tersebut juga diselaraskan dengan langkah penguatan presensi brand Garuda Indonesia sebagai salah satu key player industri penerbangan nasional,” tulis manajemen.
3. Garuda pastikan penurunan peringkat tak berdampak pada bisnis dan operasional

Garuda Indonesia memastikan penurunan peringkat itu tidak memberikan dampak material terhadap kegiatan operasional maupun aktivitas bisnis perusahaan.
“Pemeringkatan tersebut tidak memiliki dampak material terhadap kondisi keuangan Perseroan,” tulis manajemen.
Untuk meningkatkan kualitas layanan demi meraih kembali peringkat bintang 5, Garuda Indonesia melakukan optimalisasi berbagai inisiatif pembenahan secara berkelanjutan.
“Langkah tersebut antara lain mencakup peningkatan kualitas layanan kabin dan pengalaman penerbangan, penyegaran layanan ground service di bandara, lounge revamp, pengembangan layanan digital dan inflight service, hingga penyempurnaan berbagai elemen layanan lainnya,” tulis manajemen.
Perusahaan tidak membeberkan informasi terkait waktu yang dibutuhkan untuk mengembalikan peringkat bintang 5.
Namun, manajemen memastikan tahun ini perusahaan fokus mempercepat transformasi fundamental lini layanan maskapai, seiring dengan langkah konsolidasi berkelanjutan yang dijalankan untuk memperkuat kinerja operasional sekaligus dalam upaya meningkatkan kualitas pengalaman perjalanan bagi penumpang.
“Transformasi layanan tersebut dilaksanakan secara bertahap dan terukur, dengan penguatan landasan tata kelola layanan sebagai salah satu fokus utama dalam agenda transformasi kinerja perseroan di tahun 2026 ini,” tulis manajemen.


















