ilustrasi copywriting (pexels.com/Christina Morillo)
Setiap brand memiliki karakter dan cara berkomunikasi yang berbeda. Ada yang ingin terasa seperti teman ngobrol, ada yang lebih profesional, sementara lainnya memilih pendekatan emosional untuk membangun kedekatan dengan audiens.
Namun, memilih tone of voice bukan sekadar menentukan apakah brand harus terdengar lucu, formal, atau elegan. Kamu juga perlu memahami produk yang ditawarkan, target audiens, serta situasi ketika pesan tersebut disampaikan.
Nah, supaya lebih kebayang, berikut 4 jenis tone of voice beserta contoh penerapannya dalam copywriting.
1. Friendly dan casual
Pernah membaca caption sebuah brand yang rasanya seperti sedang diajak ngobrol teman sendiri? Nah, itulah karakter friendly dan casual. Gaya ini menggunakan bahasa sehari-hari yang hangat, santai, dan tidak menciptakan jarak dengan audiens.
Cocok digunakan ketika brand ingin membangun interaksi, meningkatkan engagement, atau menawarkan produk yang dekat dengan aktivitas sehari-hari.
Cocok untuk: Brand F&B, kedai kopi, fashion kasual, online shop, hingga produk lifestyle dengan target audiens anak muda.
Contoh copywriting untuk brand kuliner:
"Laper datang, akhir bulan bikin tegang? Tenang, ada menu hemat yang bikin perut kenyang!"
Pesan ini mengangkat situasi yang cukup relatable, terutama bagi audiens yang ingin makan enak tetapi tetap perlu menjaga pengeluaran. Dengan menggunakan permainan rima, kalimat menjadi lebih mudah diingat, sementara pemilihan kata yang santai membantu brand terasa seperti teman yang menawarkan solusi.
2. Professional dan informative
Siapa bilang copywriting profesional harus menggunakan bahasa yang kaku dan dipenuhi istilah teknis? Justru, gaya profesional dan informatif yang baik harus mampu menyampaikan informasi secara jelas, meyakinkan, dan mudah dipahami. Fokusnya adalah membangun kepercayaan melalui manfaat produk yang relevan.
Cocok untuk: Perusahaan B2B, software bisnis, layanan keuangan, konsultan, hingga produk teknologi yang membutuhkan penjelasan lebih mendalam.
Contoh copywriting untuk software manajemen stok:
"Pesanan terus berdatangan, stok malah jadi pertanyaan? Pantau barang masuk dan keluar dalam satu tampilan, supaya keputusan restock punya dasar yang meyakinkan."
Perhatikan bagaimana pesannya diawali dari masalah yang mungkin dialami pemilik bisnis, lalu menawarkan fitur yang dapat membantu menyelesaikannya. ToV ini cocok digunakan pada website perusahaan, landing page, email penawaran, hingga materi presentasi produk. Rima tetap bisa digunakan, tetapi jangan sampai mengurangi kejelasan informasi atau kesan profesional.
3. Energetic dan playful
Kalau kamu ingin membuat copywriting yang lebih ekspresif, penuh semangat, dan sedikit nyeleneh, gaya energetic dan playful bisa menjadi pilihan. Jenis ToV ini cocok digunakan untuk menarik perhatian audiens dengan cepat, terutama pada campaign yang membutuhkan headline singkat, permainan kata, atau humor ringan.
Cocok untuk: Aplikasi produktivitas untuk anak muda, brand olahraga, minuman, game, hingga campaign promosi di media sosial.
Contoh copywriting untuk aplikasi planner digital:
"Meeting merapat, deadline makin padat, kepala mulai penat? Yuk, atur jadwal lebih tepat, biar semua tugas tercatat dan selesai tanpa telat!"
Permainan rima merapat, padat, penat, tepat, tercatat, dan telat membuat pesan terasa lebih ritmis sekaligus menarik perhatian.
Menariknya, kalimat tersebut tetap menyampaikan masalah dan solusi secara jelas. Audiens diajak mengenali keresahannya terlebih dahulu sebelum mendapatkan ajakan menggunakan produk. Gaya seperti ini cocok untuk headline iklan, konten Instagram, TikTok, atau push notification yang membutuhkan pesan singkat dan mudah diingat.
4. Elegant dan sophisticated
Brand premium tidak harus selalu menggunakan kata-kata mewah untuk terlihat berkelas. Terkadang, kalimat sederhana justru lebih kuat ketika mampu menyampaikan pengalaman yang diinginkan audiens.
Tone elegant dan sophisticated menggunakan pilihan kata yang tenang, matang, dan tidak berlebihan. Fokusnya lebih banyak pada kualitas, kenyamanan, serta nilai emosional yang ditawarkan produk.
Cocok untuk: Brand fashion premium, perhiasan, furnitur, interior, hotel, hingga produk lifestyle yang mengutamakan pengalaman eksklusif.
Contoh copywriting untuk brand furnitur premium:
"Setelah hari yang panjang, pulang seharusnya terasa tenang. Hadirkan ruang yang nyaman dipandang, dengan setiap detail yang dirancang matang."
Copywriting ini tidak menggunakan ajakan agresif seperti "Beli sekarang!" atau "Jangan sampai kehabisan!"
Sebaliknya, pesan mengajak audiens membayangkan suasana rumah yang tenang setelah menjalani aktivitas yang melelahkan. Permainan rima panjang, tenang, dipandang, dan matang tetap terasa, tetapi lebih halus agar kesan elegan tidak berubah menjadi terlalu ramai.
Nah, dari berbagai contoh tersebut, kita bisa melihat bahwa rima dan kreativitas tidak harus menghasilkan gaya komunikasi yang sama. Tone of voice yang tepat bukan sekadar membuat copywriting terdengar menarik, tetapi membuat audiens merasakan emosi yang sesuai dengan karakter brand dan manfaat produknya.