Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kenapa Banyak Orang Pintar Memilih Kerja di Luar Negeri? Ini Sebabnya

5 min read
Kenapa Banyak Orang Pintar Memilih Kerja di Luar Negeri? Ini Sebabnya
ilustrasi pekerja senior (unsplash.com/krakenimages)
  • Brain drain terjadi ketika tenaga profesional pindah ke luar negeri karena gaji, keamanan, kualitas hidup, dan peluang karier yang lebih baik.

  • Negara asal berpotensi kehilangan tenaga ahli, investasi pendidikan, penerimaan pajak, serta dorongan inovasi dan produktivitas.

  • Risikonya dapat dikurangi melalui upah kompetitif, kesempatan kerja, layanan publik, kepastian hukum, dan stabilitas politik.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Sebuah negara bisa kehilangan orang-orang terbaiknya bukan karena kekurangan tenaga terdidik, melainkan karena mereka memilih membangun karier di tempat lain. Fenomena ini dikenal sebagai brain drain atau pengurasan sumber daya manusia (SDM) berkualitas.

Dilansir Investopedia, brain drain terjadi ketika para profesional terampil, seperti dokter, insinyur, ilmuwan, peneliti, hingga tenaga ahli di bidang keuangan, meninggalkan negara atau wilayah asal untuk mencari kehidupan dan kesempatan kerja yang lebih baik.

Perpindahan tersebut umumnya dipicu oleh kesenjangan ekonomi, ketidakstabilan politik, terbatasnya lapangan pekerjaan, hingga minimnya kesempatan mengembangkan karier. Ketika kondisi di tempat asal tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan maupun harapan mereka, bekerja di negara lain menjadi pilihan yang lebih menarik.

Masalahnya, kepergian para tenaga ahli tersebut tidak hanya berdampak pada individu yang bersangkutan. Negara yang ditinggalkan juga berpotensi kehilangan sumber daya manusia yang dibutuhkan untuk menggerakkan perekonomian dan meningkatkan kualitas layanan publik.

Lantas, mengapa brain drain bisa terjadi dan apa yang membuat fenomena ini sulit dihentikan?

  1. 1. Kesenjangan gaji dan kesempatan kerja

    Ilustrasi Gaji
    Ilustrasi Gaji (Pixabay.com/geralt)

    Salah satu penyebab utama brain drain adalah perbedaan kesempatan ekonomi antara satu negara dan negara lainnya. Tenaga profesional cenderung mencari tempat yang menawarkan gaji lebih tinggi, tunjangan lebih baik, lingkungan kerja yang mendukung, serta jenjang karier yang lebih menjanjikan.

    Misalnya, seorang dokter di negara berkembang mungkin memilih pindah ke negara maju karena memperoleh kompensasi lebih besar dan fasilitas kesehatan yang lebih memadai.

    Kondisi serupa juga dialami ilmuwan, insinyur, dan tenaga profesional lainnya. Mereka bisa saja memiliki kemampuan yang dibutuhkan di negara asal, tetapi tidak mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan keahlian tersebut secara optimal. Akibatnya, negara dengan kemampuan memberikan kompensasi dan fasilitas lebih baik berpotensi menarik tenaga ahli dari negara lain.

  2. 2. Ketidakstabilan politik dan konflik

    ilustrasi politik (unsplash.com/Jon Tyson)
    ilustrasi politik (unsplash.com/Jon Tyson)

    Faktor lain yang mendorong brain drain adalah kondisi politik dan keamanan yang tidak stabil. Perang, konflik bersenjata, perubahan kebijakan yang tidak menentu, hingga penganiayaan berdasarkan agama, gender, atau orientasi seksual dapat membuat para profesional merasa tidak aman untuk melanjutkan kehidupan dan karier di negara asal.

    Dalam situasi seperti ini, keputusan pindah bukan semata-mata untuk mendapatkan gaji lebih tinggi, melainkan juga demi keselamatan dan kepastian hidup. Contohnya terjadi di Ukraina setelah invasi Rusia pada 2022. Konflik tersebut mendorong perpindahan penduduk dalam jumlah besar ke negara-negara Uni Eropa.

    Bahkan sebelum invasi, jumlah mahasiswa Ukraina yang menempuh pendidikan di luar negeri sudah meningkat. Studi Parlemen Eropa mencatat jumlahnya naik dari sekitar 25 ribu pada 2007 menjadi 50 ribu pada 2014, kemudian mencapai sekitar 78 ribu pada 2019. Polandia menjadi salah satu tujuan utama mahasiswa Ukraina untuk melanjutkan pendidikan tinggi.

  3. 3. Kualitas hidup dan fasilitas publik yang lebih baik

    ilustrasi hidup sejahtera(pexels.com/Andrea Piacquadio)
    ilustrasi hidup sejahtera(pexels.com/Andrea Piacquadio)

    Keputusan untuk pindah negara juga tidak selalu berkaitan dengan pekerjaan. Kualitas hidup menjadi pertimbangan penting bagi tenaga profesional ketika menentukan tempat tinggal. Akses terhadap layanan kesehatan, pendidikan, perumahan terjangkau, transportasi, dan lingkungan yang aman dapat memengaruhi keputusan seseorang untuk menetap atau meninggalkan negara asalnya.

    Ketika fasilitas publik di negara asal tidak memadai, sementara negara tujuan menawarkan kualitas hidup lebih baik, tenaga profesional cenderung mempertimbangkan migrasi. Artinya, negara tidak cukup hanya menghasilkan lulusan perguruan tinggi berkualitas. Pemerintah juga perlu memastikan mereka memiliki lingkungan yang mendukung untuk bekerja, berinovasi, dan membangun kehidupan.

  4. 4. Minimnya kesempatan mengembangkan karier

    Ilustrasi perencanaan karier
    Ilustrasi perencanaan karier sebagai langkah untuk mengembangkan potensi diri dan mempersiapkan masa depan profesional.

    Brain drain juga dapat terjadi karena terbatasnya kesempatan bagi tenaga profesional untuk mengembangkan kemampuan. Hal ini bisa muncul ketika perusahaan atau industri tidak mampu beradaptasi dengan perkembangan ekonomi, teknologi, dan kebutuhan pasar.

    Misalnya, seorang peneliti kesulitan mendapatkan pendanaan untuk mengembangkan riset di negara asalnya. Sementara itu, lembaga penelitian di negara lain menawarkan fasilitas laboratorium, pendanaan, dan kolaborasi internasional yang lebih memadai. Situasi tersebut membuat tenaga ahli lebih memilih pindah ke tempat yang mampu memberikan ruang bagi pengembangan keahlian mereka.

    Dalam lingkup perusahaan, kondisi serupa terjadi ketika karyawan merasa tidak memiliki peluang promosi, mendapatkan kompensasi yang tidak kompetitif, atau bekerja di lingkungan yang kurang mendukung.

  5. 5. Apa dampak brain drain bagi negara yang ditinggalkan?

    2148780591.jpg
    Ilustrasi pertumbuhan ekonomi. (Magnific.com)

    Brain drain bisa menjadi persoalan serius karena negara kehilangan tenaga ahli yang seharusnya berkontribusi terhadap pembangunan. Ada beberapa dampak yang dapat muncul dari fenomena tersebut.

    Pertama, berkurangnya tenaga profesional di sektor penting. Kepergian dokter, misalnya, dapat memperburuk kekurangan tenaga medis dan mengurangi kemampuan suatu negara dalam memberikan layanan kesehatan kepada masyarakat.

    Kedua, hilangnya investasi pendidikan dan pelatihan. Negara yang telah mengeluarkan biaya untuk membangun sistem pendidikan dan menghasilkan tenaga ahli berpotensi kehilangan manfaat ekonomi ketika para lulusan tersebut bekerja di luar negeri.

    Ketiga, berkurangnya penerimaan pajak. Tenaga profesional dengan pendapatan tinggi umumnya berkontribusi terhadap penerimaan pajak penghasilan. Jika mereka pindah dan menetap di negara lain, sebagian potensi penerimaan pajak tersebut juga dapat berpindah.

    Keempat, terhambatnya inovasi dan produktivitas. Berkurangnya ilmuwan, peneliti, insinyur, dan tenaga ahli dapat menghambat pengembangan teknologi, riset, serta daya saing industri dalam negeri.

    Di sisi lain, negara tujuan justru memperoleh keuntungan karena kedatangan tenaga profesional yang telah memiliki pendidikan dan pengalaman kerja. Namun, negara tujuan juga perlu mengantisipasi dampak berupa meningkatnya kepadatan penduduk, tekanan terhadap fasilitas publik, hingga kenaikan harga kebutuhan hidup di wilayah tujuan migrasi.

  6. 6. Bagaimana cara mencegah brain drain?

    Ilustrasi Lowongan Pekerjaan
    Ilustrasi Lowongan Pekerjaan (pexels.com/Ann H)

    Tidak ada solusi instan untuk menghentikan brain drain. Namun, pemerintah dapat mengurangi risiko tersebut dengan menciptakan lingkungan yang membuat tenaga profesional tertarik untuk tetap bekerja dan mengembangkan karier di dalam negeri.

    Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain meningkatkan investasi pada sektor strategis, menyediakan upah dan tunjangan yang kompetitif, memperluas kesempatan kerja, serta meningkatkan kualitas layanan kesehatan, pendidikan, dan perumahan.

    Pemerintah juga perlu memperkuat kepastian hukum, stabilitas politik, serta reformasi sosial agar masyarakat memiliki rasa aman dan kesempatan yang setara. Dengan begitu, tenaga profesional tidak harus mencari peluang di luar negeri hanya untuk mendapatkan kehidupan dan karier yang lebih baik.

Related Articles

See More